PERSEMBAHAN UNTUK PAPUA
Di Hiro Rasulullah menjemput wahyu
Gie menuju Semeru mendengarkan isi kalbu
Tetralogi ditulis Pram di Pulau Buru
Gandhi hanya ‘membisu’ melawan desing peluru
Manusia punya nama dan karya atas dunia
Setelahnya fana mengemuka…meninggalkan lara
Aku bertanya pada Papua
Ada apa di sana?
Apa yang kuberikan untuknya?
Nama…karya…apa?
Aku bukan Rasullullah, Gie, Pram…Aku adalah Aku yang hanya mampu berbuat seperti yang kutau
Bahkan Aku malu, saat ini bila tak mampu berbuat sesuatu untukmu
Aku ingin membaktikan utuh diriku
Bersama rakyat yang telah jemu menunggu
Mereka yang menapaki hidup tanpa ada makna baru
Tak berbekas ..layaknya angin menyapu
Tetap tertinggal debu dan masih banyak juga yang tertipu
Masa terus melaju
Menapaki waktu yang berlalu
Aku ingin bertemu Papuaku dan memadu rindu
Melampiaskan hasrat yang menggebu
Tak hanya Dari Sabang sampai merauke,
dan Dari Miangas sampai Pulau Rote
Aku ingin menyaksikan keagungan dan kedigdayaan Indonesia
Seperti nusantara disatukan majapahit dan sriwijaya
Sebagaimana Washington hingga Obama bersama Amerika
Tidak ada yang berubah…sejak dulu,
Kebangkitan dan kemajuan bangsa hanya ada bila kita bersama
Untuk semua..
“APA YANG SUDAH SAYA LAKUKAN UNTUK UMAT?”
Kita Ada untuk Mengubah Apa yang Selalu Setia Dikatakan Dunia
Motto hidup inilah yang selalu Saya pegang ketika berinteraksi dengan beragam realitas. Optimisme, semangat, kerja keras, dan keyakinan yang tinggi senantiasa hadir menemani bila mengingat ungkapan di atas. Tidak ada pilihan selain menjadi yang terbaik untuk memastikan bahwa kehadiran kita selalu menjadi inspirasi dan mampu memberikan manfaat bagi siapapun.
Kenyataan ini semakin diperkuat oleh Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis (PPSDMS) Nurul Fikri yang hadir di tahun kedua aktivitas Saya di kampus. Selama dua tahun tempaan di asrama, membuat Saya semakin sadar bahwa selama ini belum banyak berkontribusi dan berprestasi bagi umat. Kenyataan inilah yang hingga sekarang tetap membuat Saya harus terus belajar dan berjuang membuktikan itu semua.
Dua tahun kehidupan yang Saya habiskan di asrama amat berarti, selain menunjang kematangan diri sebagai manusia, Saya bersyukur dapat menikmati interaksi dengan putra-putra terbaik negeri ini. Rasa bangga dan kagum sering menghampiri, menyaksikan mereka meraih pengakuan dan apresiasi positif dari publik. Dan tidak ada yang berubah dari itu, saat sekarang pun setelah menjadi alumni, kami sepertinya tetap ‘terkondisikan’ untuk konsisten. Ada rasa malu dan sedih saat tubuh dan jiwa ini tidak bisa memberikan apa-apa bagi umat.
Kehidupan di Asrama memberi banyak inspirasi bagi Saya setelah memasuki fase alumni. Saya percaya, untuk membuat hidup ini menjadi berbeda dan luar biasa kita perlu mempersiapkan banyak hal. Beberapa di antaranya ternyata sudah dilakukan melalui sistem kurikulum dan metode pembelajaran di PPSDMS NF.
Pertama, perlunya peta hidup. Ibarat sebuah tujuan, hidup ini membutuhkan banyak petunjuk, arah, dan tanda agar kita tidak tersesat. Kebiasaan menggunakan peta hidup dalam menjalani berbagai aktivitas harian, bulanan, tahunan, 5, atau 20 tahun sekalipun membuat kita tetap fokus dan maksimal menjalani hidup.
Kedua, kita perlu mentor atau pembimbing. Artinya, orang-orang seperti ini kita butuhkan untuk membantu kita berkomitmen sampai di tujuan. Mereka sudah tentu harus lebih baik dari kita dan memiliki kualitas serta kapasitas yang diakui oleh publik. Diharapkan tidak hanya 1, 2, 5, atau 10 saja, makin banyak mentor yang mendampingi kita dari beragam perspektif (militer, entrepeuner, politisi, akademisi, birokrat, dsb) akan membuat hidup ini lebih lengkap dan aktual.
Ketiga, lingkungan. Penting sekali untuk menjaga aura dan keberlanjutan efek asrama (pasca alumni), kita membutuhkan lingkungan yang kondusif. Saat ini, Saya diberi kesempatan mengontrak sebuah rumah Guru Besar UGM, Bapak Sejarah Indonesia, (Alm) Prof. Sartono Kartodirjo bersama rekan-rekan mahasiswa UGM. Beberapa dari mereka juga ada yang tercatat sebagai alumni PPSDMS NF dan sebagian yang lain rekan-rekan mahasiswa yang masih muda. Kontrakan ini kita beri nama Djong Wiratama 3 (JW 3), dengan penghuni sebanyak 14 Orang. Yang menarik, saat saya meraih juara pertama The Next Leader, beberapa rekan yang lain ada yang juara dunia di Paris dalam kompetisi yang diadakan oleh Danone. Berikutnya, peserta ujian masuk Ecole Normale Superior di Paris, delegasi Model United Nation di Denhag, dan delegasi Konferensi PBB di Jenewa. Sisanya, memang lebih banyak harus menyelesaikan amanah di sebagai ketua HMJ, BEM Fak, BEM Univ., SKI, dan asisten peneliti.
Keempat, Media. Kemampuan kita bersinergi dengan media, baik cetak maupun elektronik, apakah itu skala lokal ataupun nasional, akan membuat publik paham maksud dari ‘Idealisme Kami’ yang ditawarkan. Oleh karenanya, intensitas interaksi ini penting, untuk menjamin keberlanjutan efek dari kontribusi yang sudah dilakukan. Catatan yang harus digarisbawahi adalah. bahwa kita diwajibkan untuk menghasilkan masterpiece. Sebagaimana Rasulullah mendapat gelar Al-Amin, Leonardo da Vinci menghasilkan Monalisa, atau Teori Relativitas dihasilkan oleh Einstein. Masterpiece ini mampu membuat khalayak terinspirasi dan terbantu sepanjang masa, mereka akan sulit melupakan karya ini karena efek yang diberikannya sangat luar biasa. Dengan kondisi demikian, media tidak punya pilihan selain ‘membantu’ memperjuangkan kita.
Peta Hidup, Mentor, Lingkungan, dan Media, merupakan empat kata kunci yang menjadi tips hidup saya selama menjalani rutinitas di kampus dan untuk bersiap merekayasa jenjang public sector yang di masa mendatang mendukung kompetensi Saya sebagai seorang Akademisi-Praktis. Akhirnya, paparan ini kembali membuat Saya harus bertanya, Apa yang sudah Saya lakukan untuk umat?
MELANGKAH PASTI
Bocah itu tumbuh dan mempertontonkan keberadaannya
dihadapan khalayak tanpa ragu berkata,
“Aku ingin mengubah dunia”
seluruh jagad kelam tak bersuara
mengiyakan atau mengingkari fikirnya
selintas hanya membersit, tertinggalkan pijar di angkasa
walau lama itu adanya
belaian kasih ia harap namun tak bersapa
hanya sendiri, kosong tak bertuan bagaimana
lenyap asa khn terbujur, terkubur bila esok tiba
……………………..……………………..……………………..…….(silahkan diisi sesuai dengan hati)
memainkan skenario dalam panggung sutradara
ciptakan bahagia hindari sengsara
menuntut kebijaksanaan, menuju paripurna
angan melambung, fokus keinsanan terlewati
bersama harapan yang kembali menggema
……………………..……………………..……………………..……….(Apa kata imaji?)
menghadirkan ridho Illahi
demi menggapai negeri masa depan dengan pasti
karena inilah yang kita nanti
SEMESTA JIWA
Duniaku perlahan berganti
malam kian sering menemani
terkadang mereka seperti ingin berbicara pada diri
isyarat fikir seakan ragu menjalani ini
namun.. pusaran itu seakan kuat mendorong
Aku masuk dan bersyukur tidak terlalu lama mencari
awalnya menjadi kegelisahan tak terasa
namun mengemuka karena tawa dan duka menyapa
Jasad bersama jiwa berseru
menjawab setiap langkah yang terukir
kalbu dan fikir tetap setia
menjawab imajinasi yang liar berlari
Semua bersandar pada angin yang berhembus hampa
tiada hangat menyelimuti dalam teduh purnama
Ini berbeda dan tak biasa
hingga mampu mengungkapkan sukma seorang pengembara
siapa, apa, dan bagaimana hidup yang telah tercipta olehNya
Aku butuh kehangatan dari kedua sisi
untuk kembali merajut mimpi abadi
mengubah dan memperbaiki bumi
bersama semua pribadi yang percaya Ridho Illahi
Lenyap asa kan terbujur…terkubur bila esok tiba
Aku terus melangkah meniti cahaya
walau lama tetapi itu adanya
hanya sendiri, kosong tak bertuan….bagaimana
PS : Untukmu bidadari bermata jeli…
UNTUKMU JOGJAKARTA, BAGIMU INDONESIA..PERSEMBAHANKU UNTUK DUNIA DAN SEMESTA KITA
Khadijah bersama Rasulullah mengubah dunia
Fathimah menemani Ali mengasah Pena
Obama punya Micchele untuk merawat Amerika
Hatta bersama Siti Rahmi melepas senja
Tapi, aku juga mengenal Balqis hingga Khaleda Zia
Mereka begitu perkasa dan digdaya
Tiada kuasa ..aku terpedaya pesona mereka
Kenapa kita tidak bertanya…saat mereka berbeda?
Ini realita…fakta! bukan fatamorgana!
Butuh banyak Megawati dan Indira Gandhi untuk Indonesia baru
Memastikan Mikail tersenyum di ufuk biru
Hati berseru menjemput jiwa yang rindu
Menyambut pelita yang terharu bisu
Pengabdian Rumi dan Gibran seakan tak pernah berhenti
Menapaki cinta illahi yang tak bertepi
Aku semakin mengerti dan memahami
Artinya hawa untuk siapa
Maknanya Adam bagaimana
Aku percaya di sana ada sepasang bidadari dan bidadara menunggu kita
Menyapa dan sedang berusaha mengantarkan syurga
Siapapun dia…
AWAL TERINDAH
Masa bergelut dengan jiwa
melantunkan sajak dalam kata
menyatu…dan berbuah makna
mengubah paradigma tentang kita
awal indah tuk cinta seorang hamba
kepada hawa…sang pujaan damba
cintanya bertahta dan bertitah bangga
bahwa ia ingin bersama
Aku dan Dirinya
Keluh kesah, suka ataupun duka
membuat kita utuh menjadi manusia,
untuk saling mencinta..selamanya
Aku ingin memetik sakura, saat ia harus bersemi dekat Fujiyama
tapi tulip begitu indah menawarkan pesonanya
walau tak mampu memungut edelwis di puncak sana
ingin kuungkap saja…bahwa pujangga hanya punya kata
tanpa sakura…tulip..apalagi edelwis..aku tetap maju menjemputnya
bukan untukku…apalagi untuknya,
karena ini… sudah cinta yang bicara
itu saja
“MENYAMBUT SANG PEMIMPIN”
Peluang menjadi manusia terbaik ternyata semudah mimpi hadir ketika tidur. Semuanya kembali kepada kemauan, tekad, dan semangat agar hidup tetap memiliki nilai tambah dan selalu bermakna. Banyak di antara kita, khususnya generasi muda kurang menyadari potensi dirinya. Padahal optimalisasi peran kaum muda di masa mendatang menjadi penting, mengingat mereka-lah generasi penerus bangsa ini. Kesadaran tentang realitas ini perlu dibangkitkan demi memberikan sebuah harapan baru tentang masa depan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat. Rakyat sudah cukup lama mengalami penderitaan, keterbelakangan, dan keterpurukan dalam hidupnya. Tugas dan tanggung jawab kaum muda-lah akhirnya untuk memastikan harapan tentang masa depan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat tidak hanya sekedar wacana atau mimpi belaka.
Dengan kondisi demikian perlu dipersiapkan beberapa hal penting oleh generasi muda, Pertama, kompetensi, semua wacana perubahan yang ditawarkan oleh kaum muda di masa mendatang, harus berbasiskan kompetensi. Kompetensi lahir dari aktivitas intelektual dan pengabdiaan ilmu kepada masyarakat. Selain membuktikan bahwa generasi muda sebagai aktor utama yang menggerakkan perubahan, mereka diharapkan juga mampu berperan sebagai problem solver secara konsisten. Berfikir atau menganggap ada pihak lain yang akan melakukan pertanggungjawaban seperti ini, seringkali justru menghambat proses perubahan dan realisasi aksi riil, karena masing-masing pihak lebih cenderung saling mengharapkan. Intinya, lakukan! selagi kita mampu dan jangan pernah menunda pekerjaan bila itu menyangkut hak rakyat.
Kedua, manajemen diri. Tidak ada kesuksesan tanpa disiplin. Menjadi yang terbaik, membutuhkan pengorbanan ekstra dan dedikasi yang berkesinambungan. Bagaimana mengelola waktu, membagi peran terhadap aktivitas yang dimiliki, merespon kewajiban, dan menjawab tantangan yang dihadapi. Tanpa pengelolaan diri yang baik, secara otomatis generasi muda akan sulit menjadi bagian dari masa depan dan solusi bangsa ini.
Ketiga, Integritas. Point ini sangat penting dalam menunjang kredibilitas. Apapun prestasi yang sudah dipersembahkan, tidak ada artinya bila diri belum mampu terkendali dengan baik. Aspek integritas relevan dengan moral dan kepekaan. Tentu untuk menghadirkannya, intensitas interaksi dengan realitas menjadi urgen mengingat di sanalah proses integrasi integritas melekat dalam diri.
Keempat, sinergi. Sehebat apapun diri ini, jejaring tetap dibutuhkan untuk membuat visi ideal kita tentang rakyat, Indonesia, dan dunia terealisasi dan mudah dipahami. Aktivitas di organisasi, komunitas serta pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi semakin penting dalam membangun jejaring. Hal ini demi menjamin interkonektivitas jejaring dengan segala dunia, baik nyata maupun maya. Revolusi teknologi informasi dan komunikasi saat ini menghantarkan pada sebuah fase, di mana kerjasama tidak hanya dilakukan sebatas hubungan diplomatik antar negara, namun, sudah melampaui pada tahapan personal
Prestasi apapun yang ingin kita raih akan terwujud bila mampu menghadirkan keempatnya secara konsisten di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Generasi muda akan tampil menjadi figur alternatif yang menjanjikan di masa mendatang, karena memiliki kejelasan pribadi, profesionalisme sikap, dan kemampuan yang tidak diragukan. Tanpa rasionalisasi dan alasan yang konkrit, sangat sulit bagi siapapun menolak generasi emas ini berkontribusi membangun Indonesia kita.
RENDAHNYA ETIKA ELITE BERPOLITIK
“Mu’min yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaknya”
(H.R. Tirmidzi)
Mengamati aktivitas politik melalui sebuah pendekatan keilmuan menjadi keniscayaan dalam membedah secara obyektif sebuah fakta. Sebagai pihak yang menerima efek dari perilaku dan kebijakan elit, masyarakat memiliki peran strategis dalam mengevaluasi setiap realitas yang terbentuk. Bayangan tersebut secara intens memberikan harapan bagi tegaknya aturan yang mampu menghadirkan keadaan yang lebih baik di masa mendatang
Menurut kaum Pluralis, negara merupakan ranah interaksi yang relatif otonom, di dalamnya berinteraksi banyak aktor yang terfragmentasi. Masing-masing aktor memiliki akses ke dalam negara dengan intensitas dan kapasitas yang berbeda-beda. Oleh karena itu, interaksi antar institusi pemerintahan terbentuk berdasarkan pembagian kekuasaan. Kehadiran eksekutif, legislatif, dan yudikatif sebagai produk utama dari Trias Politika, menjadi gambaran konkrit bagaimana secara substansial sistem mengelola segala sumber daya bangsa untuk mensejahterakan rakyat. Tidak sebatas itu, masing-masing aktor juga menjalankan fungsi checks and balances, untuk membuktikan profesionalisme kerja di ranah masing-masing.
Sebagai perbandingan, di masa Rasulullah dahulu, kekuasaan untuk menjalankan pemerintahan Islam dari para pemimpin suku Aus dan Khazraj yang berkuasa atas kota Madinah (Yastrib). Setelah Rasulullah wafat, para tokoh kaum Ansar dan Muhajirin akhirnya memutuskan Abu Bakar sebagai kepala negara. Begitu seterusnya, hingga masa kekhalifan Ali bin Abi Thalib. Yang menarik, ketika khalifah Umar bin Khattab menjelang wafat, beliau menunjuk sejumlah sahabat senior seperti Abdurrahman bin Auf, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, dan Sa’ad bin Abi Waqash untuk memilih di antara mereka siapa yang akan menggantikan beliau.
Abdurrahman bin Auf mengundurkan diri dari pencalonan dan bertindak sebagai panitia pemilihan. Lalu disepakati oleh ketujuh orang yang hadir dalam majelis tersebut pencalonan Ali dan Usman sebagai calon khalifah. Abdurrahman mengambil suara seluruh penduduk Madinah yang sudah baligh hingga akhirnya Usman dibaiat sebagai khalifah. Dari kisah di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pemilu untuk mengangkat khalifah baru pengganti khalifah lama yang wafat atau dipecat adalah persoalan teknis untuk melaksanakan kewajiban mengangkat khalifah sebagai ulil amri atau kepala negara. Dalam hal ini, dibolehkan calon khalifah dipilih oleh wakil umat yang ada, hanya saja keputusannya ditentukan oleh sidang majelis umat yang merupakan perwakilan seluruh umat dari seluruh negeri.
Perlu dijelaskan, meskipun anggota majelis umat yang dipilih dari seluruh negeri dapat juga dari kalangan non muslim (ahlu dzimmah), namun yang berhak untuk mengajukan dan menetapkan calon khalifah hanyalah anggota majelis umat yang muslim. Hal ini sesuai dengan ayat di bawah :
Hai orang-orang beriman, taatilah Allah dan RasulNya, dan Ulil Amri di antara kamu…..(QS. An Nisa 59)
Perintah menaati ulil amri dalam ayat di atas mengandung perintah untuk mengadakan ulil amri dari kalangan kaum muslimin yang taat kepada Allah dan Rasul serta menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai standar menjalankan pemerintahan.
Kepala negara dalam sistem pemerintahan Islam tidak dibatasi masa jabatan lima tahun lalu dipilih kembali seperti dalam sistem dalam sistem demokrasi. Tapi dia bisa menjabat sampai akhir hayat selama menjalankan pemerintahan sesuai syari’ah. Bisa dipecat sekalipun baru dua bulan menjalankan amanahnya bila tidak memenuhi syarat atau ditangkap musuh ketika berjihad. Oleh karena itu, tidak ada pemilu lima tahunan untuk memilih kepala negara.
Konteks Ideal Hari ini
Titik kompromi mesti dicari ketika kondisi hari ini jauh berbeda dari idealita yang kita bayangkan. Hal ini penting, mengingat umat belum cukup dewasa menjalani tahapan ideal tadi. Sebuah keniscayaan melalui fase ini secara bertahap demi perubahan yang hakiki. Kesabaran, pengorbanan, keikhlasan merupakan bagian yang tak bisa dihindari untuk merealisasikan tatanan Islam di negeri ini. Hal itu dapat dicermati, ketika konteks pemilu hadir di tengah-tengah kita. Perilaku aktor maupun masyarakat menarik untuk dipahami sebagai bagian proses pendewasaan dan pendidikan politik. Bahasannya mulai dari isu ideologis, sistem ekonomi (baik itu kerakyatan ataupun neolib), etnisitas/primordial, hingga fisik. Semuanya berlomba-lomba mengklaim sebagai representasi umat yang memiliki keberpihakan.
Sekilas memang benar. Tetapi bila ditelusuri lebih jauh, kinerja pemerintah sepanjang lima tahun yang lalu, kiranya anggapan ini sulit diterima akal sehat. Bukti-bukti riil menunjukkan bahwa pemerintah sepanjang 2004-2009, kurang mampu menunjukkan kualitasnya. Banyak masalah yang dihadapi, ternyata tidak mampu menghadirkan alternatif kebijakan yang sifatnya out of the box. Semuanya masih saja dihadapi dengan logika konvensional. Mulai dari kenaikan BBM, Lapindo, Hutang Luar Negeri, Kontrak Karya dengan perusahaaan-perusahaan multinasional, hingga Mega Korupsi BLBI dan kroni-kroni Soeharto, adalah sederet catatan kelam kinerja pemerintah di masa lalu
Ketika hari ini elit yang masih menjabat sibuk mendeklarasikan dan mempromosikan diri, sebenarnya, tanpa disadari sudah terjadi penyalahgunaan kekuasaan. Secara normatif, itu tidak melanggar hukum, namun, etikanya, mereka terbukti menodai citra suci figur seorang pemimpin. Kondisi ini bukan mengada-ada, namun berbasiskan realitas dan fakta empirik dimana amanah yang masih melekat kurang signifikan mereproduksi perubahan. Kemiskinan, pengangguran, kebodohan, dan berbagai bentuk bahasa keterbelakangan lainnya terus meningkat bersamaan dengan harga-harga kebutuhan pokok. Ini menyakitkan, bagi ‘orang-orang malang’ tanpa masa depan. Bagi mereka, negara adalah Tuhan, sedangkan Tuhan sendiri di negeri ini semakin ‘lenyap’, karena peran negara yang tidak mampu mensejahterakan. Elit telah melecehkan kepercayaan yang dibangun oleh rakyat dan kehinaan ini akan terus berlanjut karena elit berperilaku tanpa etika. Menanti komitmen berubahnya perilaku ini, Seakan hanya mimpi, bila penegakan hukum tidak sinergis dengan etika.
Oleh karenanya, tidak cukup aturan hukum (rule of law,) yang menjangkau keadaan demikian. Ke depan, seperti yang sering diungkapkan Prof. Jimmly Asshidiqie, sangat urgen etika (rule of ethics) sebagai panduan elit berperilaku dalam penyelenggaraan negara. Etika menjadi basis utama untuk membuat sistem bisa bekerja optimal.
Menegakkan Rule of Ethics
Secara historis, etika sebagai usaha filsafat lahir dari keambrukan tatanan moral di lingkungan kebudayaan Yunani 2500 tahun yang lalu. Karena pandangan-pandangan lama tentang baik dan buruk tidak lagi dipercayai, para filosof mempertanyakan kembali norma-norma dasar bagi kelakuan manusia. Frans Magniz Suseno mengungkapkan, bahwa Etika adalah usaha manusia untuk memakai akal budi dan daya fikir, memecahkan masalah, bagaimana ia harus hidup kalau ia mau menjadi baik. Etika tidak memberikan ajaran, melainkan memeriksa kebiasaan-kebiasaan, nilai-nilai, norma-norma, dan pandangan-pandangan moral. Etika membantu kita agar tidak kehilangan orientasi, walaupun etika memang tidak dapat menggantikan hukum. Namun, keduanya saling melengkapi terkait dengan interpretasi perintah maupun pembahasan terhadap masalah-masalah moral yang baru, yang tidak langsung dibahas dalam agama.
Penegakkan etika bagi kita umat Islam, sebenarnya tidak cukup hanya berlandaskan nurani (antropoisme) tetapi perlu di akumulasi dengan basis syariat (teologis), agar sintesisnya mampu membuktikan bahwa manusia merupakan produk dari hasil kreasi metafisis Tuhan. Holisitisitas pemikiran ini menjadi bagian fundamental bagi semua pihak dalam berperilaku. Orientasi kita ‘berkuasa’ tidak hanya sebatas untuk hari ini di dunia, tetapi bisa menjamin bahwa ‘berkuasanya’ kita mampu menyelamatkan umat dan diri ini sampai ke Yaumul Akhir nanti.
Etika dan Anak Muda
Etika tidak hanya menjadi tanggung jawab ‘penguasa lapis atas’, namun yang merasa ‘dikuasai’ memiliki peran yang sama untuk memeriksa derajat kualitas etika yang terlaksana. Jangan dibayangkan bahwa di masa muda, kondisi ‘tidak beretika’ hilang, justru ketika di masa inilah, banyak di antara kita mungkin menerima atau memiliki peran untuk ‘berkuasa’. Inkonsistensi, ambivalensi, kontradiksi menjadi hal wajar dan tidak terlalu tabu untuk diterima sebagai konsekuensi. Kita sedang memasuki budaya serba boleh (permisif) yang cukup masif sehingga dikhawatirkan akan menghilangkan identitas umat sebagai muslim dan bangsa sebagai Indonesia. Wallahualam Bisshawab.
http://eramuslim.com/suara-kita/pemuda-mahasiswa/agung-baskoro-rendahnya-etika-elite-berpolitik.htm
Catatan Harian Mahasiswa Indonesia (Bagian Ketiga)
Oposisi….sebuah kata yang bermakna sederhana, penentang (politik), begitu ujar kamus lengkap Bahasa Indonesia ’versi’ sebuah penerbit di Surabaya. Bagi gerakan mahasiswa, makna kata ini sangat penting karena membentuk karakter dan ruh gerakan. Kehadiran gerakan mahasiswa bila ditelusuri sejak awal memang diarahkan untuk menjadi ’alternatif’ implikasi dari output kebijakan penguasa.
Namun, apakah masih kontekstual, bila yang mendominasi karakter dan ruh gerakan adalah semangat oposisi? Apa sebenarnya esensi yang menjadi kehadiran gerakan mahasiswa di era reformasi?
Perubahan besar yang sedang terjadi hari ini meniscayakan dalam tubuh gerakan mahasiswa juga harus mengalami perubahan. Entah mengapa, proses transformasi ini tidak terjadi secara signifikan dan mampu melahirkan strategi baru yang sensitif dan adaptif terhadap kebutuhan rakyat.
Idealisme yang sedang diimpikan tidak harus tanpa kemasan. Hal ini merujuk pada perang pemikiran yang begitu dahsyat menghabisi paradigma masyarakat. Sementara, mahasiswa masih asik dengan dunia utopia yang kian menjauh dari jangkauan publik. Tidak hanya itu, di mata rekan-rekan mahasiswa sendiri, gerakan mahasiswa kian tidak populis karena belum konkrit menjawab aspirasi mereka.
Karena pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan, maka sudah sewajarnya tindakan yang lebih diutamakan diarahkan bagaimana kita mampu mnghasilkan solusi dan kontribusi. Bila proses ini berlangsung secara konsisten bukan tidak mungkin gerakan mahasiswa menjadi pilar baru demokrasi yang menghantarkan akselerasi menuju era konsolidasi.
Berbicara pada aspek solusi dan kontribusi, sebenarnya akan mudah terlaksana bila mahasiswa tidak melupakan basis utama, mengapa ia menjadi mahasiswa, yakni intelektualitas, moralitas, dan spritualitas. Untuk itu, kolaborasi antara tujuan inti dengan pribadi dalam menghadirkan dan menjadi aktor perubahan dapat berjalan sinergis dan strategis bila setiap waktu, tercipta ruang komunikasi sesama mahasiswa untuk menyegarkan ingatan utopia agar tidak tetap menjadi utopia. Mungkinkah?
Catatan Harian Mahasiswa Indonesia (Bagian Kedua)
Apa artinya amanah bila semua hanya berusaha mengembalikan eksistensi dan egoisme pribadi? Usia kita memang muda, wajar bila banyak gejolak membara yang sedang berusaha mengemuka. Hal ini sangat manusiawi awalnya, namun bukan berarti amanah bisa dilaksanakan tanpa profesionalitas dan kompetensi. Padahal, komitmen bersama adalah berusaha mengembalikan kejayaan peradaban bangsa. Apa artinya mimpi-mimpi kita mengubah dunia, bila tidak mampu mengubah paradigma dalam menyikapi sebuah realita.
Aku hampir tidak percaya (pada klimaks tertentu), pada satu pun anak manusia yang mengaku mahasiswa. Karena mereka hanya mampu berwacana dan meninggalkan luka bagi Indonesia. Berulangkali tercatat dalam memori ini bagaimana tindakan mereka mengembalikan klaim kejayaan. Mereka tidak bekerja dan berbuat apapun untuk melahirkan dan merealisasikan idealita yang menjadi harapan sebuah masa depan yang lebih baik dan bermartabat. Fokus dari aktivitas mereka justru cara-cara yang sama sekali tidak menggambarkan bentuk konkrit intelektualitas dan moral sebagai dasar dan arahan gerak. Akhirnya, kebuntuan demi kebuntuan hadir dan membentuk kompleksitas yang bermuara pada kerusakan, bukan perbaikan!
Sungguh memalukan…Apakah amanah memakai almamater ini masih layak melekat di tubuh? Apa kebanggaan menjadi seorang perusak yang ‘masih’ lantang mengaku agen bahkan inisiator perubahan?