Catatan Harian Mahasiswa Indonesia (Bagian Ketiga Belas)
Pemilu tinggal dalam hitungan hari. Manuver, trik, dan black campaign semakin sering menghiasi warta akhir-akhir ini. Tidak bisa dielakkan, bahwa semua kandidat Capres-Cawapres, begitu ’yakin’ dengan kualitas dan kapasitas dirinya.
Paradigma amanah ternyata sudah berubah (seiring dengan orientasi sistem tentunya) yang awalnya musibah menjadi anugerah. Ketika mereka terpilih, seringkali kita menyaksikan seorang Presiden, Menteri, hingga Ketua sebuah organisasi sekalipun, semuanya sujud syukur dan tersenyum lebar mengisyaratkan bahwa mereka adalah orang-orang yang tepat.
Penulis hanya ingin mengatakan bahwa kita hampir kehabisan stok negarawan dan membutuhkan stok yang cukup banyak untuk membangun negeri ini. Negarawan yang dimaksud adalah orang-orang yang tidak peduli sudah berapa banyak pengorbanan yang dicurahkannya untuk umat, terus saja ia berkarya, tak pernah berhenti hingga ajalnya menjemput. Ia mampu menjadi mesin penggerak perubahan sepanjang masa, saat ia hidup ataupun sudah mati. Sulit melupakannya, karena kemampuannya menghasilkan ’masterpiece’ bagi umatnya. Penghargaan sejarah, nama jalan, bintang jasa, tidak akan mampu membayar totalitas kontribusinya ini karena terbatasnya ’nilai’ yang mengapresiasi itu.
Kondisi ini memang tidak lepas dari menguatnya pragmatisme politik yang kian mengkhawatirkan dan cenderung membutakan. Dalam jangka pendek, memang kerusakannya belum akan dirasakan. Namun, bila terus dibiarkan, secara otomatis potensi dan sumber daya yang dimiliki oleh bangsa semakin tidak teroptimalkan dengan baik.
Kiki Syahnakri menulis, bahwa kenegarawan adalah karakter, sikap, visi, dan orientasi yang mengedepankan nilai-nilai kebangsaan dan kerakyatan melampaui ego seorang pemimpin. Ia secara konsisten memikirkan yang terbaik untuk bangsa-negara dan memegang komitmen untuk memberikan yang terbaik bagi kebangsaan, kerakyatan, bahkan kemanusiaan universal melalui ladang pengabdian atau profesionalnya. Baginya, negara dan bangsa adalah segalanya. Tidak ada yang lebih dia cintai selain pengabdian sepanjang hayat untuk membangun pertiwi.
Mungkin beberapa Founding Father’s kita bisa dijadikan sebagai teladan yang bisa memberikan jalan baru pengabdian yang sebenarnya.
1. Muhammad Hatta 1 Desember 1956, Hatta mengundurkan diri dari Wapres. Ia prihatin terhadap perkembangan keadaan yang semakin mengarah ke Demokrasi Terpimpin yang membuat lembaga parlementer terkikis oleh persekutuan Soekarno, AD, dan Elite Perkotaan.
2. Jenderal Sudirman Tetap bergerilya meskipun sedang menderita penyakit paru-paru kronik. Hal ini demi mempertahankan eksistensi RI setelah sejumlah tokoh ditangkap oleh Belanda. Sudirman mengajarkan penghargaan mendalam terhadap hubungan sipil dan militer, selain itu, beliau adalah sosok militer yang arif, tegas, dan cerdas.
3. Natsir Seorang perdana menteri namun tetap bersahaja dan rendah hati, obyektif saat berhadapan dengan lawan maupun kawan, dengan mosi integralnya beliau menyelematkan negeri ini dari perpecahan. Walaupun di masa-masa kekuasaan Orla dan Orba beliau selalu dihabisi perannya oleh penguasa.
Beberapa nama yang lain mungkin bisa rekan-rekan tambahkan. Yang jelas, bangsa ini membutuhkan Hatta, Sudirman, dan Natsir baru dan lebih baik tentunya untuk memastikan bahwa negeri ini masih memiliki masih depan.
Catatan harian Mahasiswa Indonesia (Bagian Kedua Belas)
REFLEKSI
Melodi hati mengiringi diri
mengalun bersama imaji
mengemuka dan berbuah memori
simfoni ini memberi arti
seperti rotasi dalam hari
Hidup dan mati adalah bukti
peran pribadi sebagai abdi
lupa dan khilaf sering menjadi alibi
sisi manusiawi membenarkannya sebagai ekspresi
menghilangkan nurani, merusak potensi
berganti…terus terjadi berulang kali
Aku ingin bersimpuh, mengharap iba
dalam sujud dan doa seorang hamba
bersama cinta milikNya dan manusia
terlalu banyak dosa terbingkai dalam pigura
hati yang lupa membuat jiwa hampa
siapa dan makna kita sebenarnya
merasa diri berharga..
ternyata hanya ada hina !
Catatan Harian Mahasiswa Indonesia (Bagian Kesembilan)
Alunan melodi mesra mengiringi diri
melumuri hati tuk suci kembali
tak terkira banyak hikmah terpatri
di sini.. Aku merajut visi,
Jogjakarta
Usia ku terus merenda di bilik sepi
laptop, hp, buku, agenda kerja, motor, mail,
semakin sering menemani
malam menyapa tiada henti
berdiri angkuh di setiap sisi
suara hati tetap terbingkai rapi
menyongsong era reformasi diri
menuju fase terbaik generasi insani
kunci membangun pertiwi
bakti sebagai anak negeri
menyongsong keadilan surgawi
Catatan Harian Mahasiswa Indonesia (Bagian Ketujuh)
Tentang Cinta
sekalipun cinta telah kuuraikan dan kujelaskan panjang lebar,
namun jika cinta kudatangi, aku jadi malu, pada keteranganku sendiri,
meskipun lidahku telah mampu menguraikan,
namun tentang indah,
cinta ternyata lebih terang,
sementara pena begitu tergesa-gesa menuliskannya,
kata-kata pecah berkeping-keping, begitu sampai kepada cinta
dalam menguraikan cinta, akal terbaring tak berdaya,
bagaikan keledai terbaring dalam lumpur
cinta sendirilah yang menerangkan cinta dan percintaan
(Anna Althafunnisa – Ketika Cinta Bertasbih)
Terima Kasih Sebesar-besarnya kepada Habiburrahman El-Shirazy dan Keluarga Besar KCB
Catatan Harian Mahasiswa Indonesia (Bagian Keempat)
Aku ingin menyaksikan mereka kembali berbicara
menyatakan kebenaran sebagai sebuah titah tak terbantah
dari Timur dan Barat atau dari Sabang hingga Merauke
Aku merindukan kejayaan kita
yang selalu perkasa dihadapan penguasa
karena langit dan bumi menghendaki
sebagai janji suci bebas intervensi
Berbeda bukan berarti sulit bersama
justru membingkai kita menjadi satu jiwa
saksi persaudaraan utuh anak bangsa
Mimpi besar yang sebentar lagi nyata
mahasiswa Indonesia, yang selalu setia merubah dunia
bersama sumpah mereka yang baru
sebuah bukti dan bukan sekedar romantisme
pada generasi pendahulu
Yakinlah!!!
fajar yang menyingsing nanti
akan menyapa kita dengan bangga
menjawab semua keraguan dan gelisah
Perjuangan, pengorbanan, dan darma bakti
merupakan tanggung jawab moral seorang intelektual
yang berjuang bersama rakyatnya tercinta,
Indonesia, selamanya…..
Catatan Harian Mahasiswa Indonesia (Bagian Kelima Belas)
PERSEMBAHAN UNTUK PAPUA
Di Hiro Rasulullah menjemput wahyu
Gie menuju Semeru mendengarkan isi kalbu
Tetralogi ditulis Pram di Pulau Buru
Gandhi hanya ‘membisu’ melawan desing peluru
Manusia punya nama dan karya atas dunia
Setelahnya fana mengemuka…meninggalkan lara
Aku bertanya pada Papua
Ada apa di sana?
Apa yang kuberikan untuknya?
Nama…karya…apa?
Aku bukan Rasullullah, Gie, Pram…Aku adalah Aku yang hanya mampu berbuat seperti yang kutau
Bahkan Aku malu, saat ini bila tak mampu berbuat sesuatu untukmu
Aku ingin membaktikan utuh diriku
Bersama rakyat yang telah jemu menunggu
Mereka yang menapaki hidup tanpa ada makna baru
Tak berbekas ..layaknya angin menyapu
Tetap tertinggal debu dan masih banyak juga yang tertipu
Masa terus melaju
Menapaki waktu yang berlalu
Aku ingin bertemu Papuaku dan memadu rindu
Melampiaskan hasrat yang menggebu
Tak hanya Dari Sabang sampai merauke,
dan Dari Miangas sampai Pulau Rote
Aku ingin menyaksikan keagungan dan kedigdayaan Indonesia
Seperti nusantara disatukan majapahit dan sriwijaya
Sebagaimana Washington hingga Obama bersama Amerika
Tidak ada yang berubah…sejak dulu,
Kebangkitan dan kemajuan bangsa hanya ada bila kita bersama
Untuk semua..
Catatan Harian Mahasiswa Indonesia (Bagian Keempat Belas)
“APA YANG SUDAH SAYA LAKUKAN UNTUK UMAT?”
Kita Ada untuk Mengubah Apa yang Selalu Setia Dikatakan Dunia
Motto hidup inilah yang selalu Saya pegang ketika berinteraksi dengan beragam realitas. Optimisme, semangat, kerja keras, dan keyakinan yang tinggi senantiasa hadir menemani bila mengingat ungkapan di atas. Tidak ada pilihan selain menjadi yang terbaik untuk memastikan bahwa kehadiran kita selalu menjadi inspirasi dan mampu memberikan manfaat bagi siapapun.
Kenyataan ini semakin diperkuat oleh Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis (PPSDMS) Nurul Fikri yang hadir di tahun kedua aktivitas Saya di kampus. Selama dua tahun tempaan di asrama, membuat Saya semakin sadar bahwa selama ini belum banyak berkontribusi dan berprestasi bagi umat. Kenyataan inilah yang hingga sekarang tetap membuat Saya harus terus belajar dan berjuang membuktikan itu semua.
Dua tahun kehidupan yang Saya habiskan di asrama amat berarti, selain menunjang kematangan diri sebagai manusia, Saya bersyukur dapat menikmati interaksi dengan putra-putra terbaik negeri ini. Rasa bangga dan kagum sering menghampiri, menyaksikan mereka meraih pengakuan dan apresiasi positif dari publik. Dan tidak ada yang berubah dari itu, saat sekarang pun setelah menjadi alumni, kami sepertinya tetap ‘terkondisikan’ untuk konsisten. Ada rasa malu dan sedih saat tubuh dan jiwa ini tidak bisa memberikan apa-apa bagi umat.
Kehidupan di Asrama memberi banyak inspirasi bagi Saya setelah memasuki fase alumni. Saya percaya, untuk membuat hidup ini menjadi berbeda dan luar biasa kita perlu mempersiapkan banyak hal. Beberapa di antaranya ternyata sudah dilakukan melalui sistem kurikulum dan metode pembelajaran di PPSDMS NF.
Pertama, perlunya peta hidup. Ibarat sebuah tujuan, hidup ini membutuhkan banyak petunjuk, arah, dan tanda agar kita tidak tersesat. Kebiasaan menggunakan peta hidup dalam menjalani berbagai aktivitas harian, bulanan, tahunan, 5, atau 20 tahun sekalipun membuat kita tetap fokus dan maksimal menjalani hidup.
Kedua, kita perlu mentor atau pembimbing. Artinya, orang-orang seperti ini kita butuhkan untuk membantu kita berkomitmen sampai di tujuan. Mereka sudah tentu harus lebih baik dari kita dan memiliki kualitas serta kapasitas yang diakui oleh publik. Diharapkan tidak hanya 1, 2, 5, atau 10 saja, makin banyak mentor yang mendampingi kita dari beragam perspektif (militer, entrepeuner, politisi, akademisi, birokrat, dsb) akan membuat hidup ini lebih lengkap dan aktual.
Ketiga, lingkungan. Penting sekali untuk menjaga aura dan keberlanjutan efek asrama (pasca alumni), kita membutuhkan lingkungan yang kondusif. Saat ini, Saya diberi kesempatan mengontrak sebuah rumah Guru Besar UGM, Bapak Sejarah Indonesia, (Alm) Prof. Sartono Kartodirjo bersama rekan-rekan mahasiswa UGM. Beberapa dari mereka juga ada yang tercatat sebagai alumni PPSDMS NF dan sebagian yang lain rekan-rekan mahasiswa yang masih muda. Kontrakan ini kita beri nama Djong Wiratama 3 (JW 3), dengan penghuni sebanyak 14 Orang. Yang menarik, saat saya meraih juara pertama The Next Leader, beberapa rekan yang lain ada yang juara dunia di Paris dalam kompetisi yang diadakan oleh Danone. Berikutnya, peserta ujian masuk Ecole Normale Superior di Paris, delegasi Model United Nation di Denhag, dan delegasi Konferensi PBB di Jenewa. Sisanya, memang lebih banyak harus menyelesaikan amanah di sebagai ketua HMJ, BEM Fak, BEM Univ., SKI, dan asisten peneliti.
Keempat, Media. Kemampuan kita bersinergi dengan media, baik cetak maupun elektronik, apakah itu skala lokal ataupun nasional, akan membuat publik paham maksud dari ‘Idealisme Kami’ yang ditawarkan. Oleh karenanya, intensitas interaksi ini penting, untuk menjamin keberlanjutan efek dari kontribusi yang sudah dilakukan. Catatan yang harus digarisbawahi adalah. bahwa kita diwajibkan untuk menghasilkan masterpiece. Sebagaimana Rasulullah mendapat gelar Al-Amin, Leonardo da Vinci menghasilkan Monalisa, atau Teori Relativitas dihasilkan oleh Einstein. Masterpiece ini mampu membuat khalayak terinspirasi dan terbantu sepanjang masa, mereka akan sulit melupakan karya ini karena efek yang diberikannya sangat luar biasa. Dengan kondisi demikian, media tidak punya pilihan selain ‘membantu’ memperjuangkan kita.
Peta Hidup, Mentor, Lingkungan, dan Media, merupakan empat kata kunci yang menjadi tips hidup saya selama menjalani rutinitas di kampus dan untuk bersiap merekayasa jenjang public sector yang di masa mendatang mendukung kompetensi Saya sebagai seorang Akademisi-Praktis. Akhirnya, paparan ini kembali membuat Saya harus bertanya, Apa yang sudah Saya lakukan untuk umat?
Catatan Harian Mahasiswa Indonesia (Bagian Keenam)
MELANGKAH PASTI
Bocah itu tumbuh dan mempertontonkan keberadaannya
dihadapan khalayak tanpa ragu berkata,
“Aku ingin mengubah dunia”
seluruh jagad kelam tak bersuara
mengiyakan atau mengingkari fikirnya
selintas hanya membersit, tertinggalkan pijar di angkasa
walau lama itu adanya
belaian kasih ia harap namun tak bersapa
hanya sendiri, kosong tak bertuan bagaimana
lenyap asa khn terbujur, terkubur bila esok tiba
………………………………………………………………………….(silahkan diisi sesuai dengan hati)
memainkan skenario dalam panggung sutradara
ciptakan bahagia hindari sengsara
menuntut kebijaksanaan, menuju paripurna
angan melambung, fokus keinsanan terlewati
bersama harapan yang kembali menggema
…………………………………………………………………………….(Apa kata imaji?)
menghadirkan ridho Illahi
demi menggapai negeri masa depan dengan pasti
karena inilah yang kita nanti
SEMESTA JIWA
Duniaku perlahan berganti
malam kian sering menemani
terkadang mereka seperti ingin berbicara pada diri
isyarat fikir seakan ragu menjalani ini
namun.. pusaran itu seakan kuat mendorong
Aku masuk dan bersyukur tidak terlalu lama mencari
awalnya menjadi kegelisahan tak terasa
namun mengemuka karena tawa dan duka menyapa
Jasad bersama jiwa berseru
menjawab setiap langkah yang terukir
kalbu dan fikir tetap setia
menjawab imajinasi yang liar berlari
Semua bersandar pada angin yang berhembus hampa
tiada hangat menyelimuti dalam teduh purnama
Ini berbeda dan tak biasa
hingga mampu mengungkapkan sukma seorang pengembara
siapa, apa, dan bagaimana hidup yang telah tercipta olehNya
Aku butuh kehangatan dari kedua sisi
untuk kembali merajut mimpi abadi
mengubah dan memperbaiki bumi
bersama semua pribadi yang percaya Ridho Illahi
Lenyap asa kan terbujur…terkubur bila esok tiba
Aku terus melangkah meniti cahaya
walau lama tetapi itu adanya
hanya sendiri, kosong tak bertuan….bagaimana
PS : Untukmu bidadari bermata jeli…
Catatan Harian Mahasiswa Indonesia (Bagian Kesebelas)
UNTUKMU JOGJAKARTA, BAGIMU INDONESIA..PERSEMBAHANKU UNTUK DUNIA DAN SEMESTA KITA
Khadijah bersama Rasulullah mengubah dunia
Fathimah menemani Ali mengasah Pena
Obama punya Micchele untuk merawat Amerika
Hatta bersama Siti Rahmi melepas senja
Tapi, aku juga mengenal Balqis hingga Khaleda Zia
Mereka begitu perkasa dan digdaya
Tiada kuasa ..aku terpedaya pesona mereka
Kenapa kita tidak bertanya…saat mereka berbeda?
Ini realita…fakta! bukan fatamorgana!
Butuh banyak Megawati dan Indira Gandhi untuk Indonesia baru
Memastikan Mikail tersenyum di ufuk biru
Hati berseru menjemput jiwa yang rindu
Menyambut pelita yang terharu bisu
Pengabdian Rumi dan Gibran seakan tak pernah berhenti
Menapaki cinta illahi yang tak bertepi
Aku semakin mengerti dan memahami
Artinya hawa untuk siapa
Maknanya Adam bagaimana
Aku percaya di sana ada sepasang bidadari dan bidadara menunggu kita
Menyapa dan sedang berusaha mengantarkan syurga
Siapapun dia…