Archive for January 2009
Catatan Harian Mahasiswa Indonesia (Bagian Ketiga)
Apa artinya amanah bila semua hanya berusaha mengembalikan eksistensi dan egoisme pribadi? Usia kita memang muda, wajar bila banyak gejolak membara yang sedang berusaha mengemuka. Hal ini sangat manusiawi awalnya, namun bukan berarti amanah bisa dilaksanakan tanpa profesionalitas dan kompetensi. Padahal, komitmen bersama adalah berusaha mengembalikan kejayaan peradaban bangsa. Apa artinya mimpi-mimpi kita mengubah dunia, bila tidak mampu mengubah paradigma dalam menyikapi sebuah realita.
Aku hampir tidak percaya (pada klimaks tertentu), pada satu pun anak manusia yang mengaku mahasiswa. Karena mereka hanya mampu berwacana dan meninggalkan luka bagi Indonesia. Berulangkali tercatat dalam memori ini bagaimana tindakan mereka mengembalikan klaim kejayaan. Mereka tidak bekerja dan berbuat apapun untuk melahirkan dan merealisasikan idealita yang menjadi harapan sebuah masa depan yang lebih baik dan bermartabat. Fokus dari aktivitas mereka justru cara-cara yang sama sekali tidak menggambarkan bentuk konkrit intelektualitas dan moral sebagai dasar dan arahan gerak. Akhirnya, kebuntuan demi kebuntuan hadir dan membentuk kompleksitas yang bermuara pada kerusakan, bukan perbaikan!
Sungguh memalukan…Apakah amanah memakai almamater ini masih layak melekat di tubuh? Apa kebanggaan menjadi seorang perusak yang ‘masih’ lantang mengaku agen bahkan inisiator perubahan?
Catatan Harian Mahasiswa Indonesia (Bagian Kedua)
anak muda itu
hanya punya idealisme
sebagai harta terbesar
tidak ada yang lain
jadi..katakanlah…
…terus berkontribusi
selagi masih ada waktu ..
bisa jadi esok mati
CATATAN HARIAN MAHASISWA INDONESIA
Karena Kita Ada, untuk Selalu Mengubah Apa yang Setia Dikatakan Dunia….
Banyak hal semakin tak kumengerti, ketika harus melanjutkan hidup ke fase lainnya. Hal-hal yang kuanggap seharusnya terjadi, ternyata hanya sebatas teori. Banyak ketimpangan, kesenjangan dan keunikan saat melakoninya secara utuh. Aku masih terlalu lugu dan polos memaknai ini. Seakan-akan Aku seperti sendiri menjalani, tidak ada yang menemani dan membantu berdiri untuk berlari ketika sudah terjatuh dan ingin kembali menyambut matahari dan sinar rembulan yang syahdu.
Hari demi hari ku lalui dengan sebuah optimisme dan kenyakinan bahwa aku mampu menaklukan dunia. Mengubahnya dan membuatnya menjadi lebih baik. Tidak hanya untukku, tapi juga buat orang-orang lainnya. Hidupku dibangun dari mimpi-mimpi peradaban yang selalu setia menyapa insan yang gelisah akan masa depan. Ini bukan tanpa latar belakang dan sejarah, karena Aku harus mengakui bahwa hidupku bukanlah hidup yang cukup ideal untuk dijalani. Ketidaksempurnaan inilah yang memotivasiku untuk mewujudkan segala idealita di muka bumi. Apapun akan kuhadapi karena tidak ada satu pun yang kutakuti dalam hidup, ketika akhirnya Aku harus berhadapan dengan anak manusia sekalipun. Hanya satu kekhawatiran kian mengemuka, ketika orang-orang tidak mau berubah dan meskipun mereka menginginkan perubahan itu
Apakah kondisi seperti itu dan saat ini cukup nyaman bagi kita hidup di dunia? hanya keegoisan yang bisa menjawabnya. Karena dunia sudah banyak berbenah menuju kehancuran. Hampir setiap waktu manusia merancang dan mensukseskan berbagai bentuk kebodohannya untuk dinikmati bersama. Mulai dari genocide, pemanasan global, rasisme, perlombaan senjata hingga dalih hak asasi manusia.
Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya juga, seperti apa hidup yang harus ku jalani dengan kondisi seperti sekarang. Bahkan, sampai hari ini pun, Aku bingung kenapa ada di posisi dan peran tertentu. Sampai akhirnya Aku sampai pada sebuah pertanyaan mendasar, Apa yang sudah kulakukan?
Semuanya terjadi, seperti ada yang mengarahkan dan memobilisasi sumber daya yang kumiliki. Orang-orang memberikan apresiasi dan bagiku hal itu luar biasa. Artinya, kontribusi dan dedikasiku mulai diakui dan sudah menjadi kewajiban untuk selalu membantu mereka selama Aku mampu melakukannya. Namun, Aku cukup cemas, apakah Aku bagian dari desain yang merancang kerusakan yang terjadi?
Tidak ada jalan lain bagiku untuk tidak keras menjalani hidup, karena menggagas perubahan (yang kubayangkan) tidak sebanding dengan kesulitan yang dihadapi rakyatku di luar sana. Bangsaku terlalu sering disapa keterbelakangan, entah sampai kapan, yang jelas rakyatku sudah muak dengan kondisi ini. Mereka adalah korban kebijakan penguasa yang tidak pernah merasakan penderitaan. Aku berjanji, pada suatu fase nanti, Aku harus menjalani dan memaknai hidup bersama orang-orang yang setia mencintaiku dan rakyatku yang selalu menderita.