Catatan Harian Mahasiswa Indonesia (Bagian Keempat Belas)
“APA YANG SUDAH SAYA LAKUKAN UNTUK UMAT?”
Kita Ada untuk Mengubah Apa yang Selalu Setia Dikatakan Dunia
Motto hidup inilah yang selalu Saya pegang ketika berinteraksi dengan beragam realitas. Optimisme, semangat, kerja keras, dan keyakinan yang tinggi senantiasa hadir menemani bila mengingat ungkapan di atas. Tidak ada pilihan selain menjadi yang terbaik untuk memastikan bahwa kehadiran kita selalu menjadi inspirasi dan mampu memberikan manfaat bagi siapapun.
Kenyataan ini semakin diperkuat oleh Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis (PPSDMS) Nurul Fikri yang hadir di tahun kedua aktivitas Saya di kampus. Selama dua tahun tempaan di asrama, membuat Saya semakin sadar bahwa selama ini belum banyak berkontribusi dan berprestasi bagi umat. Kenyataan inilah yang hingga sekarang tetap membuat Saya harus terus belajar dan berjuang membuktikan itu semua.
Dua tahun kehidupan yang Saya habiskan di asrama amat berarti, selain menunjang kematangan diri sebagai manusia, Saya bersyukur dapat menikmati interaksi dengan putra-putra terbaik negeri ini. Rasa bangga dan kagum sering menghampiri, menyaksikan mereka meraih pengakuan dan apresiasi positif dari publik. Dan tidak ada yang berubah dari itu, saat sekarang pun setelah menjadi alumni, kami sepertinya tetap ‘terkondisikan’ untuk konsisten. Ada rasa malu dan sedih saat tubuh dan jiwa ini tidak bisa memberikan apa-apa bagi umat.
Kehidupan di Asrama memberi banyak inspirasi bagi Saya setelah memasuki fase alumni. Saya percaya, untuk membuat hidup ini menjadi berbeda dan luar biasa kita perlu mempersiapkan banyak hal. Beberapa di antaranya ternyata sudah dilakukan melalui sistem kurikulum dan metode pembelajaran di PPSDMS NF.
Pertama, perlunya peta hidup. Ibarat sebuah tujuan, hidup ini membutuhkan banyak petunjuk, arah, dan tanda agar kita tidak tersesat. Kebiasaan menggunakan peta hidup dalam menjalani berbagai aktivitas harian, bulanan, tahunan, 5, atau 20 tahun sekalipun membuat kita tetap fokus dan maksimal menjalani hidup.
Kedua, kita perlu mentor atau pembimbing. Artinya, orang-orang seperti ini kita butuhkan untuk membantu kita berkomitmen sampai di tujuan. Mereka sudah tentu harus lebih baik dari kita dan memiliki kualitas serta kapasitas yang diakui oleh publik. Diharapkan tidak hanya 1, 2, 5, atau 10 saja, makin banyak mentor yang mendampingi kita dari beragam perspektif (militer, entrepeuner, politisi, akademisi, birokrat, dsb) akan membuat hidup ini lebih lengkap dan aktual.
Ketiga, lingkungan. Penting sekali untuk menjaga aura dan keberlanjutan efek asrama (pasca alumni), kita membutuhkan lingkungan yang kondusif. Saat ini, Saya diberi kesempatan mengontrak sebuah rumah Guru Besar UGM, Bapak Sejarah Indonesia, (Alm) Prof. Sartono Kartodirjo bersama rekan-rekan mahasiswa UGM. Beberapa dari mereka juga ada yang tercatat sebagai alumni PPSDMS NF dan sebagian yang lain rekan-rekan mahasiswa yang masih muda. Kontrakan ini kita beri nama Djong Wiratama 3 (JW 3), dengan penghuni sebanyak 14 Orang. Yang menarik, saat saya meraih juara pertama The Next Leader, beberapa rekan yang lain ada yang juara dunia di Paris dalam kompetisi yang diadakan oleh Danone. Berikutnya, peserta ujian masuk Ecole Normale Superior di Paris, delegasi Model United Nation di Denhag, dan delegasi Konferensi PBB di Jenewa. Sisanya, memang lebih banyak harus menyelesaikan amanah di sebagai ketua HMJ, BEM Fak, BEM Univ., SKI, dan asisten peneliti.
Keempat, Media. Kemampuan kita bersinergi dengan media, baik cetak maupun elektronik, apakah itu skala lokal ataupun nasional, akan membuat publik paham maksud dari ‘Idealisme Kami’ yang ditawarkan. Oleh karenanya, intensitas interaksi ini penting, untuk menjamin keberlanjutan efek dari kontribusi yang sudah dilakukan. Catatan yang harus digarisbawahi adalah. bahwa kita diwajibkan untuk menghasilkan masterpiece. Sebagaimana Rasulullah mendapat gelar Al-Amin, Leonardo da Vinci menghasilkan Monalisa, atau Teori Relativitas dihasilkan oleh Einstein. Masterpiece ini mampu membuat khalayak terinspirasi dan terbantu sepanjang masa, mereka akan sulit melupakan karya ini karena efek yang diberikannya sangat luar biasa. Dengan kondisi demikian, media tidak punya pilihan selain ‘membantu’ memperjuangkan kita.
Peta Hidup, Mentor, Lingkungan, dan Media, merupakan empat kata kunci yang menjadi tips hidup saya selama menjalani rutinitas di kampus dan untuk bersiap merekayasa jenjang public sector yang di masa mendatang mendukung kompetensi Saya sebagai seorang Akademisi-Praktis. Akhirnya, paparan ini kembali membuat Saya harus bertanya, Apa yang sudah Saya lakukan untuk umat?