Untukmu
(17 Jun 2009)
Khadijah bersama Rasulullah mengubah dunia
Fathimah menemani Ali mengasah Pena
Obama punya Micchele untuk merawat Amerika
Hatta bersama Siti Rahmi melepas senja
Tapi, aku juga mengenal Balqis hingga Khaleda Zia
Mereka begitu perkasa dan digdaya
Tiada kuasa ..aku terpedaya pesona mereka
Kenapa kita tidak bertanya…saat mereka berbeda?
Ini realita…fakta!
Butuh banyak Megawati dan Indira Gandhi untuk Indonesia baru
Memastikan Mikail tersenyum di ufuk biru
Hati berseru menjemput jiwa yang rindu
Menyambut pelita yang terharu bisu
Pengabdian Rumi dan Gibran seakan tak pernah berhenti
Menapaki cinta illahi yang tak bertepi
Aku semakin mengerti dan memahami
Artinya hawa untuk siapa
Maknanya Adam bagaimana
Aku percaya di sana ada sepasang bidadari dan bidadara menunggu kita
Menyapa dan sedang berusaha mengantarkan syurga
Siapapun dia…
Senandung di atas kembali kusampaikan, setelah tertulis dengan baik sebelum berangkat menuju Sorong Selatan, Papua Barat, 2009. Tak lain disebabkan kharisma ‘The Iron Lady’, Margaret Thatcher. The Iron Lady sebenarnya bukan semata judul film, karena julukan ini disematkan Uni Sovyet kepada Thatcher, karena penentangannya terhadap Komunisme.
Di luar itu, Thatcher juga dikenal dengan berbagai kontroversi keputusannya ketika menghemat anggaran lewat deregulasi dan privatisasi di tengah resesi (Thatcherism) dan Perang Falkland dengan Argentina. Dan yang menarik, di balik sisi kontroversinya ini, Thatcher berhasil mengembalikan kebanggaan dan kejayaan Inggris di mata dunia karena kemampuannya memimpin di tengah krisis.
Film besutan sutradara Phyllida Lloyd berdurasi 105 menit dan menampilkan alur maju-mundur. Meski didahului oleh kekalahan, Margaret Thatcher akhirnya sukses menjadi anggota Parlemen Inggris (1959), Menteri Pendidikan dan ketua partai (1975) dan akhirya dipercaya sebagai perdana menteri (1979).
Dalam film ini, Margaret Thatcer diperankan oleh Meryl Streep, aktris kawakan yang sebelumnya sukses membintangi The Deer Hunter bersama Robert De Niro, Kramer vs Kramer dengan Dustin Hoffman, dan Sophie Choice. Film ini selain Mengisahkan sosok Margaret Thatcher sebagai Perdana Menteri, juga menceritakan kehidupan pribadinya bersama mendiang suami, Denis. Meski usianya telah senja, tetap saja ia terlihat keras kepala. Dibalik sifat kerasnya, Margaret tetap saja wanita biasa, kadang dia terlihat rapuh dan kesepian. Di tengah film, kisah ini mengingatkanku pada cerita tentang Habibie dan Ainun. Begitu menderitanya Habibie ketika ditinggalkan oleh sang istri, sampai sang dokter pun menvonisnya ‘gila’.
(Aku membayangkan memoar kisah mereka berdua, segera difilmkan karena buku yang mengisahkannya, mendapat respon positif dari rakyat Indonesia dan dunia)
Apa yang dialami Habibie, tak jauh berbeda dengan Thatcher, ia pun merasakan betapa beratnya kehilangan sang suami. Suami yang rela ditinggali demi ambisi dan pengabdiannya kepada bangsai. Tak pernah mengeluh, malah senantiasa setia memberikan sumbangsih pemikiran dan rekomendasi tindakan bagi sang istri.
Film ini layak ditonton agar anak negeri ini senantiasa memiliki energi untuk berbagi dan menginspirasi generasi. Harapan dan kenyakinan memang selalu dibayar dengan pengorbanan. Kecil atau besar bentuknya tak berarti, ketika cita-cita besar dan manfaat itu telah diraih! Selamat Menikmati ^-^
menarik.jadi pengen segera nonton
segera ditonton..ditunggu ceritanya:)
i like it ..
mas,, anda pandai sekali untuk membuat puisiii ..
yang lebbih bagiusnya lagii puisi anda membuat saya terimajinasi membayangkannya .. siptt
terima kasih apresiasinya, sedang mencoba belajar untuk menulis puisi yang lebih baik lagi
ternyata Kak Abas puitis juga.
cukup menginspirasi
eksistensi wanita memang tdak bisa dipandang sebelah mata. maka Ladies, mari membangun peradaban lewat tangan-tangan kita!
betuuuuull…
seni membuat diri lebih hidup dek..