Menangkap Pesan World Dreams

Memahami Indonesia merupakan pekerjaan besar bagi setiap orang yang mencoba memberikan solusi. Setelah 63 tahun merdeka, banyak harapan tertumpuk pada pundak setiap pemimpin negeri ini. Tak terlepas dengan mahasiswa dan segenap generasi muda lainnya. Harapan tadi tertumpuk bukan tanpa alasan. Mahasiwa sebagai kaum intelektual telah membuktikan bahwa mereka mampu mengeluarkan bangsa ini dalam setiap periodisasi ketidakadilan penguasa.

Hampir setengah abad lebih Indonesia merdeka, diakui, banyak ketimpangan terjadi. Walaupun, dalam beberapa hal ada kemajuan dan perbaikan sistem pengelolaan negara. Ketimpangan tadi lebih banyak diakibatkan dari sikap pemerintah yang terlalu mengakomodasi elit. Sehingga, energi yang tersisa tidak mampu menyelesaikan banyak pekerjaan rumah dengan baik. Kemiskinan, pengangguran, dan turunan lain dari tema besar terkait kesejahteraan seakan semakin susah dituntaskan.

Harapan yang harusnya menjadi peluang, ternyata harus berakhir sebatas impian. Komunikasi lintas generasi mengalami kebuntuan, sebagai akibat euforia kebebasan yang kebablasan. Konsepsi yang harusnya segera direalisasikan, tertunda karena semua kalangan sibuk memperebutkan kursi kekuasaan. Akhirnya, persoalan demi persoalan lahir dan semakin menambah kompleksitas permasalahan.

Sejarah bangsa ini telah lama membuktikan lahirnya pemimpin-pemimpin besar dan berpengaruh luas di kalangan masyarakat dunia. Sebut saja Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Natsir dan sederet nama yang tidak begitu asing lainnya. Mereka adalah orang-orang muda dan menjadi ikon penting di zamannya untuk mengeluarkan bangsa dari jeratan keterbelakangan. Kapasitas dan kualitas yang dimiliki terbukti mampu diterjemahkan dalam visi dan misi yang jelas dipahami oleh rakyat.

Pemimpin Muda Harapan Indonesia

Indonesia punya Gorontalo atau Sragen serta beberapa daerah tingkat 1 dan II, yang sukses. Yang menjadi pertanyaan berikutnya, apa kiat mereka? Kenapa Indonesia sebagai sebuah negara belum bisa melakukannya?

Kesuksesan beberapa daerah di atas terjadi, karena pemimpin-pemimpin yang hadir memiliki visi dan kompetensi yang jelas. Untuk Indonesia, Apa fokus dan spesifikasi yang bisa dilakukan Pertanian, kelautan, Migas, atau jangan-jangan kita melupakan bahwa pariwisata adalah sektor potensial itu. Pemimpin hari ini gagal menemukan fokus itu sebagai visi besar untuk memobilisasi seluruh sumber daya melaju bersama.

Pemimpin yang diharapkan hadir, sudah seharusnya juga memiliki keberanian, baik dalam bersikap maupun bertindak, sehingga memunculkan kepemimpinan berkarakter, kuat, dan mengakar ke rakyat. Muaranya, rakyat memiliki teladan dan berikutnya, sistem bisa berjalan dengan optimal. Korupsi, kemiskinan, dan kemandirian bangsa dengan sendirinya akan muncul dan lahir kembali tanpa harus ‘merayakan’ 17 Agustus.

Rakyat sudah jenuh mendengar janji para politisi yang sekarang lebih banyak didominasi wajah-wajah basi. Oleh karenanya, ketika kepemimpinan muda berhembus dan akan terus bergelora, sewajarnya sudah dipersiapkan langkah-langkah taktis dan strategis untuk memberikan bukti kepada publik, bahwa persoalan kepemimpinan muda bukan hanya sekedar usia dan pengalaman semata. Tetapi bagaimana, seorang figur lahir dan mampu bertindak progresif, sensitif, aspiratif, dan solutif. Modal demikian setidaknya bisa membangkitkan harapan baru bahwa memang bangsa ini masih memiliki masa depan.

Saat ini kita menyaksikan untuk pertama kalinya dalam sejarah negeri Paman Sam, seorang berkulit hitam dan muda tampil sebagai kandidat presiden. Barrack Husein Obama (46 tahun), tak hanya mengkristalkan aspirasi masyarakat Amerika untuk berubah, tapi juga menggelorakan mimpi perubahan untuk dunia yang lebih baik.  Pamor ini terlihat tidak hanya ketika Obama mengalahkan Hillary Clinton (60 tahun) dalam nominasi kandidat yang mewakili Partai Demokrat. Karena di fase-fase berikutnya saat berhadapan dengan John Mc Cain dari Partai Republik, peluang tersebut juga tidak berubah, sesuai dengan survei yang digelar USA Today/Gallup (Senin, 25 Agustus 2008), menjelang digelarnya konvensi nasional Partai Demokrat.

Perubahan juga berhembus di Rusia dengan tampilnya Dmitry Medvedev (42 tahun) sebagai presiden baru menggantikan Vladimir Putin. Berbeda dengan Obama, mantan Menteri Ekonomi dan kepala bank nasional Russia itu dinominasikan partai berkuasa (United Russia) dan tiga partai pendukung Kremlin.  Putin (56 tahun) masih tetap berpengaruh karena mereposisi diri sebagai perdana menteri. Ini merupakan suatu pola regenerasi damai, tokoh senior yang memberi jalan bagi junior penerus jejak, sebelum kekuasaannya menjadi koruptif.

Perubahan yang dimaksud di sini, tentu bermaksud untuk meremajakan sisem dan memberikan kesempatan terjadinya inovasi dalam menjalankan kinerja sebagai seorang pemimpin. Hal inilah yang terlihat, ketika mencermati proses pergantian perdana menteri di Australia dari John Howard (68 tahun) kepada Kevin Rudd (50 tahun).  Desakan rakyat Australia akhirnya memupus mimpi Howard untuk berkuasa kembali. Ketika Kevin Rudd telah dilantik sebagai perdana menteri, untuk pertama kalinya, seorang penguasa di negara persemakmuran milik Ratu Elizabeth tersebut meminta maaf kepada suku Aborigin atas perlakuan diskriminatif pemerintah Australia selama ini. Proses lebih unik dilalui Juan Evo Morales Ayma, Presiden Bolivia yang menapaki puncak kekuasaan pada usia 49 tahun.  Ia merupakan tokoh pribumi pertama yang berkuasa sejak kemerdekaan Bolivia tahun 1809, setelah ratusan tahun dijajah Perancis.

Pada bagian lain, kita juga menyaksikan bagaimana seorang puncak pimpinan Microsoft bernama Bill Gates (52 tahun), memilih untuk mundur dari posisi eksekutif di perusahaan yang dibesarkannya, unuk mengabdi dalam sebuah yayasan yang berperan memajukan pendidikan dan kesehatan warga dunia.

Sebagian contoh di atas adalah bukti bahwa kepemimpinan muda semakin menguatkan maknanya, yakni progresif, sensitif, aspiratif dan solutif terhadap realitas yang sedang dan akan ia hadapi.

Sejarah dan Masa Depan Indonesia Kita

Kita punya sejarah dan dunia harus memiliki masa depan yang lebih baik. Semua hal itu ditentukan oleh aksi kita hari ini. Bangsa ini harus bangkit dan optimis menghadapi zaman. Mahasiswa Indonesia harus segera membuktikan peran optimalnya sebagai aktor intelektual yang mampu berbuat progresif, sensitf, aspiratif, dan solutif terhadap berbagai permsalahan yang sedang dihadapi rakyat. Universitas akhirnya menjadi penentu dan bertanggung jawab menciptakan iklim yang kondusif bagi pembentukan mahasiswa ideal yang tidak hanya sesuai dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi namun juga mampu mengadaptasi berbagai perubahan yang dimaksud demi mewujudkan Dunia yan lebih baik dan bermartabat.

Mampukah kita menangkap pesan world dreams untuk menjadi nyata di negeri ini, wahai mahasiswa Indonesia? Atau memang sudah saatnya, peran itu kita kubur dan menjadi dongeng pengantar tidur bagi anak-anak bangsa di masa mendatang?*

*Dimuat dalam Kolom Opini Media Indonesia, Edisi 29 Agustus 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s