Pendidikan dan Menanti Indonesia Baru

JEFFREY Sachs di dalam bukunya The End of Poverty menyatakan bahwa salah satu mekanisme dalam mengatasi kemiskinan adalah pengembangan human capital, terutama pendidikan dan kesehatan.

Dengan pendidikan sebagai motor penggerak, manusia sebagi subjek akan lebih kreatif menyikapi keadaan. Kreativitas ini menjadi landasan fundamental untuk memberdayakan potensi yang dimiliki agar lebih kontekstual.

Belum lagi cerita kesuksesan bangsa-bangsa seperti Jepang dan Inggris akhirnya memaksa setiap politisi kembali merevisi konsepsi kepemimpinannya terkait pendidikan. Jepang hampir tidak jauh berbeda kondisinya dengan Indonesia setelah diluluhlantakkan oleh bom atom.

Yang menarik, mereka tidak perlu meratapi nasibnya dan menyalahkan Amerika Serikat karena kaisarnya saat itu berinisiatif, selain mengumpulkan guru-guru yang masih tersisa, dia juga memerintahkan putra-putri terbaik mereka untuk belajar ke luar negeri dan segera kembali bila studinya usai. Inggris punya pengalaman lain. Sebagai negara kepulauan, Inggris dahulu menjadi negara terbelakang dibandingkan negara-negara Eropa daratan.

Namun, sekarang, kita bisa menyaksikan bagaimana bangsa ini mampu mewarnai peradaban manusia dengan kebudayaannya. Inggris bisa memastikan terjadinya revolusi industri secara dramatis lewat penemuan mesin uap oleh James Watt sehingga mendorong munculnya inovasi teknologi mutakhir lain.

Ketika berbicara peningkatan kualitas pendidikan, yang pertama harus diubah ialah mindset bahwa persoalan ini bukan domain kalangan elite saja. Pendidikan adalah hak seluruh warga negara dan pemenuhannya mutlak menjadi kewajiban negara. Menggeser paradigma bahwa pendidikan adalah ”komoditas”elite, tentu harus menjadi perjuangan bersama seluruh elemen bangsa.

Kedua, transformasi kurikulum diperlukan untuk mengintegrasikan antara wacana dan realitas, berikutnya teori dan praktik, sehingga tidak mematikan potensi para peserta didik. Permasalahan bangsa yang terus mengalami kompleksitas tidak semuanya terjawab dengan pendekatan keilmuan. Sebuah harapan besar, bila integrasi ini berjalan, berbagai permasalahan yang dimaksud dapat dibedah dan dituntaskan melalui pendekatan lain seperti kultural, moral maupun spritual.

Ketiga, peran kampus menjadi penting mengingat tempat ini menjadi pusat dan awal mula tumbuh berkembangnya peradaban. Terlepas bahwa di seluruh tempat manusia bisa menuntut ilmu, kampus menjadi garda terdepan untuk memastikan bahwa ketidakoptimalan fungsi substansial negara dalam meningkatkan kualitas pendidikan nasional perlu diperkuat dengan upaya-upaya sinergis melalui berbagai rekayasa kebijakan.(*)

*Dimuat dalam Kolom Opini Suara Mahasiswa Koran Seputar Indonesia Edisi 9 September 2008

 

One thought on “Pendidikan dan Menanti Indonesia Baru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s