SUBSTANSI DEMOKRASI

Iklim perpolitikan kampus akhir-akhir ini begitu terasa hangat. Hal ini, tidak lain disebabkan oleh adanya perhelatan akbar, pesta demokrasi mahasiswa, yakni, Pemilihan Raya (Pemira) untuk memilih Presiden Mahasiswa (Presma). Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM), dan Dewan Perwakilan Fakultas (DPF). Ada banyak baliho, spanduk, pamflet hingga flyer menghiasi jalan-jalan protokol kampus. Belum lagi semarak aktivitas masing-masing tim sukses untuk mengenalkan calon yang diusung.

Dilaksanakannya acara ini, harapannya, dapat memberi gambaran utuh kepada publik, bagaimana prototipe seharusnya Pemilu dilaksanakan. Kehadiran Komisi Pemilihan Raya Mahasiswa (KPRM), Badan Pengawas Pemira (Bawasra), Mahkamah Pemira, eksistensi calon Presiden Mahasiswa melalui jalur independen (sejak tahun 2006) dan Dewan Perwakilan Fakultas, merupakan pembuktian empiris bahwa acara ini bukan sebatas ritual.

Partisipasi dan Representasi Mahasiswa

Khusus untuk mahasiswa, Pemira merupakan sarana untuk mereproduksi harapan dan memastikan masa depan kampus. Ada banyak cara untuk melakukan perubahan, namun bicara efisiensi dan efektivitas, maka Pemira adalah wadah yang paling tepat untuk diikuti. Partisipasi yang diberikan adalah representasi yang wajib diperjuangkan oleh semua calon. Bila representasi ini tidak divisualisasikan, sulit bagi mahasiswa bicara hal yang lebih konkrit di masa mendatang. Aras Praksis idealita terkadang harus ditempuh dan ditransformasikan dengan berbagai bentuk toleransi, kompromi, dan akomodasi yang meniscayakan mental yang matang. Keterlibatan mahasiswa menjadi mutlak untuk menjawab keraguan banyak pihak.

Pembelajaran politik ini sebenarnya sudah didukung oleh kondisi kondusif, bagaimana antusiasme masyarakat Amerika Serikat, menantikan Barrack Obama sebagai presiden. Ditambah lagi, pada tahun 2009 ini, kita juga akan melaksanakan Pemilu untuk memilih siapa yang layak memimpin negeri ini lima tahun ke depan. Yang menarik, untuk pertama kalinya, dalam sejarah gerakan mahasiswa, BEM KM UGM berhasil mempelopori debat Calon Presiden Mahasiswa dengan Calon Presiden Republik Indonesia untuk membahas dan menuntaskan berbagai bentuk problematika bangsa. Ke semua hal di atas sebenarnya adalah arahan bagi seluruh mahasiswa Indonesia, bahwa hari ini kita dituntut untuk lebih responsif dan progresif memaknai realitas.

Checks and Balances System

Reproduksi harapan dan memastikan masa depan harus dipahami secara komprehensip. Ikut dan terlibat Pemira saja tidak cukup. Karena kontrol publik niscaya untuk mengawal visi dan misi yang sudah dijanjikan semua calon. Ketika kondisi ini tidak diciptakan, yang terjadi adalah apatisme, fatalisme, dan bahasa-bahasa negatif yang kurang kreatif.

Mahasiswa hari ini, adalah pemimpin masa depan, pola fikir dan tindakannya harus lebih cerdas dan konstruktif dalam rangka menyelesaikan berbagai masalah (problem solver). Basis utama ia berbuat adalah mengubah apa yang dan akan dikonstruksi oleh sistem, agar tetap dan terus memberikan keadaan yang lebih baik.

Revitalisasi dan reorientasi peran DPM dan DPF, akhirnya penting dilakukan, untuk menjelaskan bentuk hidup pertanggungjawaban BEM. Mahasiswa yang sudah rela ‘menyerahkan’ nasibnya kepada sistem harus diapresiasi dengan kinerja optimal dan profesional. Aktualisasi peran ini memang harus disinergikan dengan kelompok-kelompok di luar sistem (pressure group) agar seimbang (check and balances system).

Format Ideal Kelembagaan Politik Kampus

Dalam konteks Pemilihan Raya Mahasiswa (Pemira), partai politik mahasiswa memegang peranan strategis untuk mendorong kehidupan berdemokrasi yang lebih substansial. Partai-partai politik mahasiswa diharapkan tidak hanya hadir ketika Pemira sudah diujung mata. Karena konstituen akan lebih pragmatis memaknai ini. Fungsi-fungsi utama partai seakan hanya wacana dan terlalu tabu untuk diimplementasikan, sehingga, perlu diupayakan penguatan kehadirannya lebih aplikatif dan adaptif dengan kebutuhan mahasiswa.

Miniatur Indonesia sebenarnya sudah terwujud nyata dalam kehidupan kampus. Namun, impian besar itu perlahan sirna karena semua masih melihat prosesi Pemira hanya sebatas ritual. Mengubah paradigma ini menjadi tugas bersama bagi mereka yang merindukan kejayaan Mahasiswa Indonesia*

*Dimuat sebagai Edisi Khusus Buletin Mahasiswa FEB UGM dalam Rangka menyambut Pemilihan Raya Mahasiswa UGM 2008-2009

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s