CATATAN HARIAN MAHASISWA INDONESIA

Karena Kita Ada, untuk Selalu Mengubah Apa yang Setia Dikatakan Dunia….

Banyak hal semakin tak kumengerti, ketika harus melanjutkan hidup ke fase lainnya. Hal-hal yang kuanggap seharusnya terjadi, ternyata hanya sebatas teori. Banyak ketimpangan, kesenjangan dan keunikan saat melakoninya secara utuh. Aku masih terlalu lugu dan polos memaknai ini. Seakan-akan Aku seperti sendiri menjalani, tidak ada yang menemani dan membantu berdiri untuk berlari ketika sudah terjatuh dan ingin kembali menyambut matahari dan sinar rembulan yang syahdu.

Hari demi hari ku lalui dengan sebuah optimisme dan kenyakinan bahwa aku mampu menaklukan dunia. Mengubahnya dan membuatnya menjadi lebih baik. Tidak hanya untukku, tapi juga buat orang-orang lainnya. Hidupku dibangun dari mimpi-mimpi peradaban yang selalu setia menyapa insan yang gelisah akan masa depan. Ini bukan tanpa latar belakang dan sejarah, karena Aku harus mengakui bahwa hidupku bukanlah hidup yang cukup ideal untuk dijalani. Ketidaksempurnaan inilah yang memotivasiku untuk mewujudkan segala idealita di muka bumi. Apapun akan kuhadapi karena tidak ada satu pun yang kutakuti dalam hidup, ketika akhirnya Aku harus berhadapan dengan anak manusia sekalipun. Hanya satu kekhawatiran kian mengemuka, ketika orang-orang tidak mau berubah dan meskipun mereka menginginkan perubahan itu

Apakah kondisi seperti itu dan saat ini cukup nyaman bagi kita hidup di dunia? hanya keegoisan yang bisa menjawabnya. Karena dunia sudah banyak berbenah menuju kehancuran. Hampir setiap waktu manusia merancang dan mensukseskan berbagai bentuk kebodohannya untuk dinikmati bersama. Mulai dari genocide, pemanasan global, rasisme, perlombaan senjata hingga dalih hak asasi manusia.

Aku tidak pernah membayangkan sebelumnya juga, seperti apa hidup yang harus ku jalani dengan kondisi seperti sekarang. Bahkan, sampai hari ini pun, Aku bingung kenapa ada di posisi dan peran tertentu. Sampai akhirnya Aku sampai pada sebuah pertanyaan mendasar, Apa yang sudah kulakukan?

Semuanya terjadi, seperti ada yang mengarahkan dan memobilisasi sumber daya yang kumiliki. Orang-orang memberikan apresiasi dan bagiku hal itu luar biasa. Artinya, kontribusi dan dedikasiku mulai diakui dan sudah menjadi kewajiban untuk selalu membantu mereka selama Aku mampu melakukannya. Namun, Aku cukup cemas, apakah Aku bagian dari desain yang merancang kerusakan yang terjadi?

Tidak ada jalan lain bagiku untuk tidak keras menjalani hidup, karena menggagas perubahan (yang kubayangkan) tidak sebanding dengan kesulitan yang dihadapi rakyatku di luar sana. Bangsaku terlalu sering disapa keterbelakangan, entah sampai kapan, yang jelas rakyatku sudah muak dengan kondisi ini. Mereka adalah korban kebijakan penguasa yang tidak pernah merasakan penderitaan. Aku berjanji, pada suatu fase nanti, Aku harus menjalani dan memaknai hidup bersama orang-orang yang setia mencintaiku dan rakyatku yang selalu menderita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s