Kepemimpinan Mahasiswa, BEDA!

Membahas kepemimpinan dalam konteks organisasi kemahasiswaan dengan lingkup lain seperti negara, perusahaan, maupun masyarakat tentu berbeda. Namun, paling tidak, kampus masih cukup relevan menjadi salah satu tempat lahirnya kemampuan dan pengalaman seseorang untuk menjadi pemimpin. Harus diakui kepemimpinan yang ingin dibahas dalam kesempatan ini lebih cenderung kepada kepemimpinan sebagai proses. Di mana di dalamnya ada interaksi dan belajar, baik melalui buku, kursus, role model maupun pengalaman praktis. Bukan untuk membuat dikotomi dan menghabisi model kepemimpinan ‘keturunan biru’, namun dalam lingkungan kampus yang dinamis dan akademis, kondisinya kurang tepat.

Selama lebih dari empat tahun meniti karir di organisasi kampus, ada banyak pelajaran yang diterima. Mulai dari amanah sebagai staf, deputi, menteri, dan terakhir, sebagai wakil presiden mahasiswa di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Dan beberapa pengalaman pasca kampus seperti perlombaan kompetisi kepemimpinan, The Next Leader dan aktivitas Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Sorong Selatan, Papua Barat. Secara subyektif, semua amanah tadi akhirnya ‘memaksa’ diri keluar dari zona nyaman. Bukan lagi memikirkan pribadi, kelompok, atau bahkan kepentingan, akan tetapi, bagaimana publik sebagai logika utama pertimbangan sikap dan kebijakan dapat mewarnai keputusan yang diambil. Harus cepat, tepat, dan efektif. Itulah idealita yang ingin dicapai, agar masalah dan dilema yang dihadapi dapat segera dituntaskan.

Di sisi lain, ada obyektifikasi terhadap fungsi mahasiswa yang menuntut untuk tetap berprestasi dan memiliki kompetensi. Proporsi terhadap kedua tanggung jawab (subyektif dan obyektif) inilah yang kelak dapat menjadi kunci keberhasilan sebuah kepemimpinan.

Seringkali, aktivis mahasiswa gagal menerjemahkan kedua tanggung jawab di atas. Imbasnya, gerakan yang diusung kurang memiliki kebermanfatan secara luas dan mampu menggerakkan. Sampai pada titik ini sebenarnya makna kepemimpinan sudah jelas, yakni keteladanan. Namun, sering terjadi bias antara makna dengan implementasi, disebabkan kualitas personal para aktivis kampus. Hal ini cukup krusial, ketika penerimaan terhadap mereka dan idealismenya hanya dapat dipahami oleh segelintir pihak. Padahal kalau mau jujur, apa yang dibawa dan diperjuangkan sungguh bernilai dan menjanjikan masa depan yang lebih baik bagi bangsa ini. Namun, apa mau dikata, nilai, idealisme, dan substansi peran tidak berarti signifikan di era pencitraan (brand image) seorang pemimpin seperti sekarang. Pernak-pernik berupa latar belakang personal, track record akademis, hingga kemampuan bahasa asing menjadi penting dan selayaknya perlu diberi tempat dalam aktivitas para aktivis kampus yang sering didaulat oleh rekan-rekannya sebagai pemimpin.

Menyikapi keadaan demikian, memang diperlukan strategi-strategi khusus agar kedua tanggung jawab ini tidak ada yang terbengkalai. Pertama, optimalisasi diri, untuk menggerakkan potensi pribadi dan berbagai sumber daya di sekitar agar bekerja membantu. Sudah menjadi keniscayaan kualitas dan kapasitas figur mutlak dimiliki. Hal ini demi menunjang tercapainya capaian-capaian strategis yang sudah direncanakan sebagai target.

Kedua, sinergi, tidak ada pilihan lain bagi para aktivis untuk tidak bekerjasama melibatkan seluruh elemen di sekelilingnya dalam mendukung realisasi visi dan misi. Sistem yang bekerja akan lebih maksimal bila menerima intervensi sistem yang lain agar proses yang berjalan dapat saling melengkapi dan hasilnya mampu menutupi keterbatasan.

Ketiga, Komunikasi, membagi ide, nilai, serta pemahaman kepada rekan-rekan di satu angkatan, fakultas (bahkan lintas), dosen pembimbing, hingga pihak-pihak terkait diperlukan agar tidak terjadi kesalahpahaman. Visi dan misi yang baik adalah cita-cita yang dikerjakan dengan ‘cara bumi’, bukan bahasa langit yang sulit dimengerti. Semakin lugas dan sederhana bentuk penyampaiannya, maka akan lebih mudah penerimaannya.

Keempat, Aksi, maksudnya, pengakuan seseorang yang dikatakan sebagai seorang pemimpin lahir dari produktivitas karya. Ini menjadi bukti bahwa kualitas dan kapasitasnya sudah teruji oleh berbagai situasi. Sekaligus menguatkan visi dan misi yang dibawa bahwa semua bukan sekedar janji tnpa realisasi.

I. Jalan Efektif Kepemimpinan Mahasiswa : Karya dan Prestasi

Di kampus, mahasiswa diberikan banyak wadah dan kesempatan untuk berkreasi dan beraksi. Ruang-ruang ekspresi yang cukup strategis untuk mendukung bangunan sosial ketika akan berbicara tentang perubahan dan perbaikan. Tanpa basis ekspresi ini, seorang mahasiswa akan kesulitan untuk mengintegrasikan dirinya dalam lingkungan sosial yang lebih besar pasca kampus. Oleh karenanya, optimalisasi peran sudah seharusnya dilakukan, mengingat kompleksnya zaman yang sedang dan akan dihadapi. Dalam banyak bentuk, ruang-ruang tadi dapat diterjemahkan melalui aktivitas organisasi, pemberdayaan masyarakat, riset, kewirausahaan, menulis, seni dan budaya, serta inovasi (penemuan). Namun, bentuk aktivitas ini tidak cukup hanya sebatas partisipasi. karena biila ingin mencapai keaktifan sebatas kuantitas, otomatis tidak ada yang berbeda dari mayoritas mahasiswa yang lainnya. Menjadi catatan penting di sini, bagaimana aktivitas pada wadah-wadah tersebut, memiliki nilai tambah (value added) yang belum atau jarang dilakukan

  1. Karya; definisi karya di sini diungkapkan dalam sebuah program atau aktivitas yang dilakukan bersama. ia layak disebut sebagai sebuah karya ketika mampu menggerakkan, memperbaiki, dan mengubah keadaan yang sudah ada menjadi lebih baik. Sifatnya keberlanjutan, bukan asal baru dan beda. Karena seringkali dalam sebuah lembaga, ketika kepengurusan berganti, maka program yang sudah berjalan pun ikut berganti bahkan mati suri. Sangat ironis, karena perubahan, perbaikan, dan kemajuan sendiri baru akan terealisasi dengan proses dan tahapan tertentu yang meniscayakan waktu yang tidak cepat.
  2. Prestasi, tanggung jawab subyektif dan obyektif mahasiswa perlu ditempatkan secara proporsional demi menjamin keberlanjutan manfaat diri di tengah-tengah mahasiswa dan masyarakat. Bentuk konkritnya, bisa dilihat melalui identitasnya yang multi. Ia mampu memastikan karya-karya yang ia dedikasikan untuk masyarakat bisa melahirkan kemanfaatan ganda (subyektif dan obyektif), hal ini yang layak disebut masterpiece (karya monumental). Sebagaimana Rasulullah memperoleh gelar Al-Amin, Leonardo da Vinci, yang berkarya dengan Monalisa hingga Albert Einstein yang memiliki Teori Relativitas. Masterpiece yang dimaksud bagi seorang mahasiswa, menempatkannya menjadi referensi dan teladan kolektif bagi rekan-rekannya. Tidak hanya itu, secara tidak langsung karena kemanfaatan dirinya sudah dirasakan, ia memiliki pengaruh dan mampu mereproduksi kepercayaan publik dengan kuat (trust). Sampai pada fase ini, sebenarnya inilah makna kepemimpinan paling mendasar.

II. Konsistensi Kontribusi dan Integritas Pribadi

Berkarya mudah, begitu pun dengan berprestasi. Namun ketika berbicara konsistensi melakukannya, tentu ini menjadi menarik. Selain membutuhkan energi baru, agar visi perbaikan dan perubahan yang diusung dapat terealisasi, perlu diimbangi  dengan integritas pribadi. Karena semakin luas kemanfaatan yang diberikan, maka tantangan yang dihadapi pun semakin besar. Konsistensi kontribusi dan integritas pribadi sebenarnya mengafirmasi siklus terjadinya interaksi antara kepentingan individual dan sosial. Bahwa perlu dipenuhinya dua kebutuhan ini secara bersamaan dan membingkai sebuah pemahaman holistik bahwa manusia memiliki peran yang tidak tunggal (multiple role).

Kemampuan adaptif dan progresif seperti ini semakin jarang dimiliki anak negeri. Padahal, kebutuhan masyarakat akan manusia-manusia seperti ini mutlak sifatnya dikarenakan banyaknya masalah yang dihadapi dan ekstrimnya perubahan zaman. Untuk menyikapinya diperlukan kesiapan yang baik meliputi,

  • Peta hidup.

Ibarat sebuah tujuan, hidup ini membutuhkan banyak petunjuk, arah, dan tanda agar kita tidak tersesat. Kebiasaan menggunakan peta hidup dalam menjalani berbagai aktivitas harian, bulanan, tahunan, 5, atau 20 tahun sekalipun, membuat kita tetap fokus dan maksimal menjalani hidup. Seberapa pun besar dan kecilnya kontribusi yang sudah dilakukan, tidak membuat puas dan lelah untuk belajar.

  • Mentor atau pembimbing

Artinya, orang-orang seperti ini kita butuhkan untuk membantu kita berkomitmen sampai di tujuan. Mereka sudah tentu harus lebih baik dari kita dan memiliki kualitas serta kapasitas yang diakui oleh publik. Diharapkan tidak hanya 1, 2, 5, atau 10 saja, makin banyak mentor yang mendampingi kita dari beragam perspektif (militer, entrepeuner, politisi, akademisi, birokrat, dsb) akan membuat hidup ini lebih aktual.

  • Lingkungan

keberadaan lingkungan amat menunjang bagi terbentuknya iklim yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya komitmen menjadi lebih baik. Jangan sampai, ketika berada di lingkungan tempat tinggal, muncul ambivalensi dan inkonsistensi perilaku yang kontradiktif dengan peran-peran yang sudah dilakukan. Oleh karenanya, memilih pergaulan penting demi menjaga stabilitas kondisi psikologis.

  • Media

Kemampuan kita bersinergi dengan media, baik cetak maupun elektronik, apakah itu skala lokal ataupun nasional, akan membuat publik paham maksud dari ‘Idealisme’ yang ditawarkan. Intensitas interaksi ini penting, untuk menjamin keberlanjutan efek dari kontribusi yang sudah dilakukan. Sebagai aktor utama di balik ini semua, sebenarnya secara tidak langsung, menghadirkan kontrol sosial dari publik agar kualitas kontribusi dan integritas tetap terjamin.

III. Pemetaan Politik Kampus

Pasca reformasi terjadi perubahan drastis pada perpolitikan kampus. Khusus di kampus-kampus negeri geliat aktivisme mahasiswa ini menemukan momentumnya setelah selama 3 dekade mati suri. Organ-organ ekstra kampus dalam konteks seperti ini mengisi ruang-ruang tersebut dengan ideologi dan beragam aksinya. Khusus di UGM, hingga saat ini, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) cukup dominan mewarnai. Organisasi seperti BEM pun intens bersinggungan dengan interaksi eksternal tadi, sehingga, banyak kalangan menganggap BEM bukan seutuhnya lembaga yang merepresentasikan kepentingan dan kebutuhan mahasiswa. Anggapan tersebut tepat, ketika meletakkanya dalam konteks BEM terjebak dalam konstelasi dan ekskalasi politik ansih, tanpa mempertimbangkan aspek lainnya. Semakin relevan bila BEM dijadikan perpanjangan politik partai semata.

Mencermati kondisi perpolitikan kampus, bagi mereka yang akan berkontribusi signifikan cukup urgen dilakukan. Selain agar substansi peran lebih optimal dalam mempengaruhi kebijakan, di sisi lain, kita diajak untuk menjadi manusia strategis. Tentu dengan beberapa kriteria yang memang sudah dimiliki sebelumnya. Karena bila menjadikan politik kampus sebagai satu-satunya panglima dalam pengelolaan kompetensi pribadi, otomatis sisi-sisi oportunistik dan pragmatisme lebih banyak mengemuka.

a. Semua Berawal di BEM KM UGM

Masuk BEM KM UGM, sebenarnya sudah direncanakan sejak kelas 6 SD. Waktu itu tepat saat reformasi bergulir. Saat sedang menonton televisi, sekelompok anak muda dengan pakaian berwarna-warni (almamater) berteriak-teriak dengan menggunakan spanduk dan beberapa pengeras suara. Secara mendadak, aktivitas mereka dibubarkan oleh aparat dengan berbagai perangkat keras. Ada yang terjatuh, terinjak, dipukul, ditembak, dan saat itu, dibenak ini timbul pertanyaan, mengapa mereka diperlakukan demikian? Apa yang bisa saya lakukan untuk menolong mereka?

Pertanyaan demi pertanyaan lahir, dan semakin menguatkan kenyakinan, bahwa apa yang mereka sudah lakukan, harus dilanjutkan. Waktu bergulir, sampai pada fase di mana bangku sekolah tingkat menengah atas ditempuh. Keinginan untuk melanjutkan kuliah di Jawa sepertinya sudah tak bisa dibendung, selain motivasi awal untuk mengembangkan diri, alasan melunasi janji yang terpatri untuk melanjutkan cita-cita orang-orang yang teraniaya tadi terus mengemuka. Yang menarik, cita-cita keduanya tidak langsung terwujud di tahun pertama, namun di periode kedua, Jurusan Politik dan Pemerintahan dengan bangga menyambut. Fokus studi di jurusan ini serta keaktifan di lembaga seperti BEM, diharapkan mampu menghasilkan sinergi yang nantinya semakin mengoptimalkan perjuangan yang akan dilakukan.

Semuanya menemukan momentum, ketika pelaksanaan penerimaan mahasiswa baru. Mulai dari tingkat universitas hingga jurusan, masing-masing melaksanakan penyambutan untuk menerima mahasiswa baru sebagai warga civitas akademik. Untuk di universitas, pelaksana kegiatan ini diselenggarakan oleh BEM KM. Saat ingin mengikuti agenda ini, di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) terjadi pembubaran OSPEK oleh pihak Dekanat, karena panitia pelaksana terindikasi melakukan penyimpangan. Namun, ketika akan beralih ingin mengikuti Ospek di Univ., banyak senior yang melarang mengikuti, selain karena aktivitas pembodohan yang terjadi di dalamnya, juga mengemuka isu-isu ideologis. Apa mau dikata, apapun bentuknya, agenda ini harus tetap diikuti. Sekali seumur hidup, karena ada banyak hal yang harus diketahui.

Setelah mendaftar dan menikmati seharian acara penerimaan mahasiswa, sampailah pada sebuah momen di mana sekitar 3 ribuan mahasiswa berkumpul di gedung pusat universitas untuk menyampaikan aspirasi ke pada rektor di wakili wakil rektor kemahasiswaan. Tidak semuanya memang, namun akan diwakili seorang koordinator gugus (kelompok) yang ditunjuk melalui mekanisme internal di masing-masing gugus. Waktu itu terpilih saya sebagai wakil gugus psyche, untuk menyampaikan perihal, “Bagaimana kampus merespon terkait kesejahteraan dosen dan karyawan yang masih minimal?” Jawaban yang diterima masih cukup normatif dan tak menjawab apa-apa. Setelah selesai acara, niat untuk bergabung BEM KM menguat dan ingin segera melunasi janji yang selama ini telah terpatri. Yang menarik, kekhawatiran para senior di fakultas terkait dengan OSPEK di universitas tidak terbukti, bahkan panitia justru menempatkan para mahasiswa baru secara terhormat dan cukup bijaksana

b. Dari Teknis hingga Hal Strategis

Cita-cita untuk bergabung di BEM KM terwujud dan teruji pertama kali lewat aktivitas Seminar Nasional : 100 hari Kepemimpinan SBY-JK. Amanah yang diterima sebagai staf acara, tepatnya juru foto. Itu pun akhirnya tidak melakukan apa-apa, karena anggota kepanitiaan ternyata lebih dari cukup. Acara berlangsung sukses dan berjalan lancar sesuai dengan harapan semua pihak. Pelajaran pertama yang begitu berharga, walaupun intensitas saya tidak terlalu dalam di sana. Saya hanya berusaha mengingat dan mencatat detail satu persatu bagian-bagian vital yang mesti dipastikan ketika akan melaksanakan agenda seperti ini. Desain dan format acara, tempat, dan waktu sebagai awalan. Setelah fixed, bisa melanjutkan ke isi, baik pembicara, peserta hingga perangkat pendukung acara lainnya seperti dana. Untuk yang terakhir, sering kali ditempatkan paling awal dalam setiap agenda, namun sering inkonsisten tidak dipikirkan bila sebuah kepanitiaan sudah memasuki masa-masa krusial. Akhirnya terlupa dan sepertinya akan baik-baik saja, padahal sebenarnya keadaan seperti ini sudah tidak terlalu sehat untuk dilanjutkan. Selain karena anggota kepanitiaan sudah pada puncak kelelahan, mereka juga dihadapkan dengan persoalan lain, berupa pengorbanan materil yang sejak awal tidak dikehendaki. Perlu komunikasi dan koordinasi intens bila keadaan seperti ini terjadi, agar aktivitas yang diselenggarakan dapat tetap terlaksana. Sering keadaan seperti ini terjadi di lembaga pada saat itu.

Setelah acara selesai, aktvitas departemen bergulir seperti biasanya, kami langsung terjun dalam beberapa aktivitas kajian lembaga untuk menganalisis berbagai problem kebangsaan yang sedang terjadi. Alurnya sederhana, yakni riset-kajian-aksi atau aksi-kajian-riset. Skema ini dibentuk dengan pertimbangan karena usia gerakan sangat cepat, problem yang dihadapi cukup banyak dan kompleks, sementara sumber daya gerakan sangat terbatas. Tanggung jawab departemen kajian, bagaimana bisa mengolah data dan fakta secara cepat dan tepat untuk menjadi ‘amunisi’ bagi pernyataan sikap dan aksi lembaga kepada publik.

Setiap penyikapan bentuknya beragam, tidak hanya aksi demonstrasi, karena terdapat aksi intelektual, sosial, dan moral yang turut mewarnai. Khusus untuk demonstrasi, penyikapan ini ditempuh setelah penguasa, baik pemerintah dan rektorat kampus menutup keran negosiasi. Pengertian negosiasi di sini diletakkan pada porsi bahwa kedua pihak saling berbagi informasi dan mencari solusi demi kebaikan bersama dengan setara. Seringkali aktivitas ini hanya dijadikan komunikasi formalistik tanpa komitmen. Demonstrasi menjadi jalan akhir yang ‘wajib’ ditempuh agar publik mengetahui problem yang mereka hadapi dan realitas lain yang selama ini belum mereka pahami, tentunya, hal ini dilakukan dengan cara-cara elegan dan mencerdaskan.

Selang 3 bulan keaktifan di BEM KM, tepatnya di akhir tahun 2005, amanah saya  berganti menjadi deputi. Tugasnya, wakil bagi departemen jika menteri berhalangan. Sekaligus mengkoordinasi gerak para staf agar tetap berkomitmen. Pada fase inilah, saya seperti dihidupkan kembali karena mempelajari banyak hal tentang kehidupan dan maknanya. Bahwa hidup harus diperjuangkan, bahwa pengorbanan adalah keniscayaan dalam perjuangan, bahwa untuk mencapai hasil dan fokus dalam berjuang membutuhkan dedikasi dan totalitas seluruh jiwa dan raga. Bentuk praksisnya dikomunikasikan dengan arahan yang jelas, tegas, dan lugas. Sehingga, rekan-rekan yang lain memiliki lembaga seutuhnya. Dalam masa-masa ini, departemen kami menggelar hajatan besar berupa seminar nasional anti korupsi dan mendirikan Sekolah Anti Korupsi pertama di Indonesia sehingga diberi gelar penghargaan oleh Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

Berikutnya di masa periode kedua keaktifan di BEM KM, terjadi pergantian kekuasaan. Amanah Menteri Kajian kini diemban oleh figur baru, namun wajah lama di kalangan para aktvis gerakan. Selain di BEM, beliau aktif di Pelajar Islam Indonesia (PII). Di tiga bulan berikutnya, beliau diangkat sebagai Ketua Wilayah PII Yogyakarta.  Praktis secara tidak langsung urusan internal dan eksternal departemen kembali mesti dipegang oleh deputi. Di masa-masa inilah, pembelajaran banyak diterima, walaupun beban kian terasa. Penyebabnya, selain rekan-rekan masih seusia, kebanyakan mereka sudah dekat dan memiliki ekspektasi lebih ketika bergabung dengan departemen. Untuk mengkomunikasikan ini, ditemui banyak kesulitan di awal, karena terkait dengan cara yang harus disesuaikan, kinerja personal yang fluktuatif terhadap departemen, hingga pengelolaan program kerja.

c. Menuju Organisasi Mahasiswa Berbasis Riset

Kembali terjadi pergantian periode pengurus, walau tetap dengan patron kekuasaan yang sama. Pada saat itu, muncul dilema dalam diri, tetap berada di BEM KM atau ‘kembali ke kampus’ untuk lebih fokus pada pengembangan mahasiswa di fakultas dan karir akademik. Namun, tak lama, singgah sebuah tawaran amanah baru dari presiden mahasiswa terpilih, untuk menghidupkan Departemen Keilmuan dan  Riset dengan pola dan bentuk yang berbeda dari sebelumnya. Terserah bentuknya, yang jelas, mahasiswa UGM bisa lebih cerdas, begitu perintah darinya.

Departemen pun berdiri, dan diberi nama Departemen Keilmuan dan Riset Informasi (Depkerinfo). Mengapa di beri nama seperti itu? Sederhana, karena di sana ada kata keilmuan, jelas, karena basis identitas kemahasiswaan secara utuh sebenarnya adalah ilmu. Sedangkan untuk riset informasi sendiri tugas departemen ini mengolah informasi yang beredar luas di publik apakah memang sesuai dengan data atau fakta. Ketika pertama kali ini didengar oleh para pengurus, mereka hanya tersenyum simpul dan kadang menertawakan. Semuanya baru, karena di dua periode sebelumnya pernah berdiri namun kurang efektif berfungsi. Tidak ada kebanggaan, sumber daya nol,  tantangan jelas, karena pada saat itu wilayah kerja departemen ini cukup berat, harus menopang kerja internal (di dalam kampus) dan eksternal (di luar kampus). Namun, dalam perjalanannya, samapai sekarang departemen ini masih tetap diadakan, sebagaimana departemen-departemen lainnya. Untuk wilayah kerjanya fleksibel, selain program kerja yang sudah didesain, departemen ini mampu adaptif terhadap perubahan lewat instruksi langsung presiden mahasiswa dan koordinasi lintas departemen yang ada.

d. Cumlaude dan Beasiswa

Pertanggungjawaban individual sebagai bagian dari kondisi subyektif amanah seorang anak kepada orang tua mutlak dilaksanakan. Salah satu bentuknya, adalah nllai dan prestasi akademik yang baik. Sejak awal, tanpa disadari, dalam diri kita sudah melekat banyak peran (multiple role). Bila ini tidak dikelola dengan baik, tentu akan menjadi bumerang di kemudian hari. Kemampuan menyeimbangkan peran-peran ini dalam diri saya sebenarnya tidak didukung dengan kondisi yang ideal.

Pertama, terlambat masuk kuliah, karena belum berhasil di tahun pertama. Kedua, perlu banyak energi untuk membagi diri dalam peran-peran di kampus, organisasi, dan komunitas. Ketiga, semuanya dipelajari sendiri, tanpa ada keluarga, saudara, maupun mitra sebagaimana ketika bersekolah. Latar belakang inilah yang memacu untuk tetap maksimal di bangku akademik, karena kuliah di jurusan politik dan pemerintahan merupakan salah satu impian yang sudah diperoleh dengan tidak mudah.

Akhirnya penantian itu perlahan terjawab, Hingga semester 6, Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tetap cumlaude, sehingga memberikan kemudahan untuk mendapatkan berbagai beasiswa. Beasiswa pertama yang diperoleh dari dalam kampus, yakni, Tanoto Foundation, dalam skema beasiswa ini, aku memperoleh kuliah gratis (8 semester) dan tunjangan sebesar 500 ribu/ bulan. Berikutnya dari luar kampus, Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Strategis (PPSDMS) Nurul Fikri, sebuah beasiswa kepemimpinan selama 2 tahun asrama dengan fasilitas pelatihan pengembangan diri, beladiri, bahasa asing, spritual. Kedua beasiswa ini dapat kuterima, dengan IP Semester minimal 3,25 (Tanoto Foundation) dan 3 (PPSDMS Nurul Fikri) serta aktif di organisasi.

Keadaan ini membuat pola hidup menjadi sedikit berubah. Selain jadwal makin padat, jarak tempuh antara kampus dan tempat tinggal semakin jauh. Sebelumnya, semua tujuan dihampiri dengan berjalan kaki dan menaiki angkutan umum. Namun, sekarang, harus bersepeda agar batasan itu dapat dilalui dengan baik. Karena di Jogja, angkutan belum melayani semua jalur dan terbatas hingga jam 6 sore. Sering saya lalui jalan-jalan di kota pelajar ini hingga larut karena berbagai rutinitas yang dilakukan. Lelah pasti, bosan apalagi, namun bila dinikmati dan dimaknai ini menjadi pendewasaan yang cukup berarti karena tidak bisa dicari dan dibeli.

e. Bukan Pengabdian Terakhir

Di tahun 2008, momentum 100 tahun kebangkitan nasional, 80 tahun sumpah pemuda, dan 10 tahun reformasi seakan memuncaki klimaks sejarah bangsa ini. Tidak terkecuali dengan BEM KM UGM. Ketika pengurusan berganti, saya kembali diminta membantu pengurus terpilih. Perlu waktu yang cukup lama untuk memikirkannya, karena konsekuensinya cukup kompleks. Pertama, studi pasti tertunda sementara, karena semua pengurus terpilih nantinya diharapkan menunda pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Kedua, tantangan semakin besar karena untuk menjalankan agenda-agenda di atas memerlukan energi besar, apalagi BEM KM UGM diamanahi sebagai Koordinator BEM Seluruh Indonesia.

Sebagai permintaan presiden terpilih, awalnya diamanahi sebagai Menteri Kajian, karena beliau menggangap, pengalaman yang saya miliki sudah cukup menjawab kebutuhan atas departemen ini. Sekitar beberapa hari, baru menjawab, dan saya bersedia menerima amanah di BEM untuk terakhir kalinya. Namun, terjadi perubahan secara mendadak, hanya berselang satu jam, amanah berganti, dari Menteri Kajian menjadi Menko Eksternal (Wakil Presiden Mahasiswa). Penyebabnya tiada lain, pengunduran diri salah satu kandidat yang sudah dipilih. Sudah basah, mengapa tidak mandi sekalian, tanpa berlama-lama, langsung amanah ini diterima, karena kesempatan belajar yang ada sangat besar.

Dugaan tersebut benar adanya, berbagai pembelajaran di terima mulai dari bagaimana mengelola intensitas interaksi dengan rekan-rekan mahasiswa seluruh Indonesia, kesempatan mewakili mahasiswa Indonesia di Australia, menghadapi pers dan media nasional, negosiasi dengan para politisi, birokrat, profesional hingga aparat keamanan. Semuanya hingga kini terbingkai rapi dalam memori dan banyak menginspirasi dalam menghasilkan kontribusi-kontribusi lanjutan,

Sampai pada satu fase, di mana politik menunjukkan wajahnya. Afiliasi yang selama ini melekat dalam bingkai kaderisasi yang kuterima, kali ini harus melawan pragmatisme afiliasi rekan-rekan saya sendiri. Sudah berulangkali, secara halus saya menghindari untuk ditetapkan sebagai calon presiden mahasiswa, karena empat periode keaktifan di kampus selama ini sudah cukup dan sudah saatnya bagi rekan-rekan menampilkan figur-figur baru. Untuk berikutnya, dalam berbagai kesempatan selalu saya katakan bahwa, “yang dibutuhkan Gadjah Mada, banyak Obama, Mc Cain seperti saya, tolong diizinkan menata hari tuanya”.  Dan jelas, hingga debat para calon yang diusung pun saya tidak menghadirinya.

Pasca kejadian itu, kondisi perpolitikan kampus menghangat. Beberapa nama lain di luar partai berkuasa, maju lewat partai politik mahasiswa seperti biasanya,  namun, ada juga yang maju dengan tetap melalui mekanisme jalur independen. Syaratnya lebih berat dari calon yang diusung oleh partai politik mahasiswa. Karena syarat minimal 75 Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) plus berasal dari 6 Fakultas. Akhirnya, setelah mempertimbangkan banyak aspek dan salah bentuk konsistensi untuk terus memberikan pembelajaran politik di kampus, saya mendukung salah satu kandidat dari jalur independen. Konsekuensinya, harus mengundurkan diri sebagai wakil presiden mahasiswa, walaupun pada saat itu sebenarnya tidak diperlukan pengunduran diri,  disebabkan amanah yang tersisa tinggal sebulan lamanya, namun, demi menghindari resistensi, atas nama profesionalitas dan menjaga netralitas lembaga, saya pun mengundurkan diri dari lembaga yang sudah 4 tahun lamanya membesarkan. Perasaan bercampur aduk, namun, hidup harus diteruskan dan pembelajaran harus tetap dilakukan agar alternatif hadir di tengah kejenuhan iklim perpolitikan kampus yang semakin jauh dari harapan. Walaupun pada akhirnya calon yang diusung kalah dari kompetisinya, namun figur yang bersangkutan dan tim kampanye kami, tetap diajak duduk bersama membangun BEM KM di periode berikutnya.

IV. Pasca BEM KM

a. Cerita di Balik The Next Leader

Di tengah-tengah amanah kampus sebagai Wakil Presiden Mahasiswa, seorang adik kelas di fakultas sekaligus staf BEM KM menunjukkan pengumuman sebuah kompetisi kepemimpinan.

Dengan deadline waktu yang semakin terbatas, akhirnya kompetisi itu pun diikuti. Walaupun cukup lama menunggu hingga proses seleksi, akhirnya semuanya dilalui dengan baik. Satu hal yang menjadi motivasi saat itu, yakni ingin memberikan kado spesial bagi ibu yang berulang tahun. Karena bagi para finalis yang berhasil masuk 10 besar di tingkat regional memiliki kesempatan menyampaikan pesan dan kesan selama mengikuti acara melalui Metro TV.

Pada saat acara, peserta yang terlibat 300 orang dari seluruh Indonesia, dibagi dalam 2 regional, yakni Jakarta dan Yogyakarta. Seleksi pertama berupa berkas dan syarat administrasi, menyisakan 86 peserta. Berikutnya, seleksi kedua, berupa Foccus Group Discussion (FGD) membahas sebuah masalah, bicara di depan publik, dan wawancara. Seleksi terakhir, hanya menyertakan 12 kandidat untuk di bawa ke Jakarta, dan hanya dipilih 3 terbaik. Tes terakhir ini dilewati setelah melalui masa karantina selama seminggu, dengan didahului pemberian pelatihan dan simulasi kepemimpinan bersama tokoh-tokoh nasional. Di dalam masa karantina, tim juri tetap melanjutkan penilaiankepada para peserta.

Yang menarik, terpilihnya saya mengikui seleksi 12 kandidat untuk di bawa ke Jakarta, sebenarnya berstatus menggantikan, karena peserta utama berhalangan hadir. Dengan niatan besar untuk belajar, saya menyakinkan diri untuk berangkat, walaupun lawan yang dihadapi memiliki kualitas di atas rata-rata.

Pelatihan berlanjut dan simulasi mulai bergulir di masa karantina, di sana saya berinteraksi dengan anak-anak terbaik negeri ini, rata-rata usianya 20-30 tahun, karena salah satu syarat mengikuti ajang ini harus berusia demikian. Mereka berprofesi dari beragam bentuk, mulai dosen, aktivis LSM/Mahasiswa, politisi, kepala desa hingga profesional. Di sela-sela aktivitas, para peserta saling bertukar informasi dan sampailah pada satu momen di mana saya mengetahui, bahwa para peserta benar-benar mempersiapkan diri dan merencanakan segala sesuatunya tentang agenda ini dengan baik. Beberapa di antaranya melakukan sosialisasi di daerah asal melalui surat-surat kabar lokal, melibatkan rekomendasi sejumlah tokoh penting di negeri ini, dah memiliki segudang  pengalaman sejenis terhadap kegiatan ini. Sedangkan saya, sekedar hanya hadir dan mengisi tempat salah satu peserta yang berhalangan hadir plus pengalaman 4 tahun beraktivitas di kampus. Namun, semenjak itu, saya hanya fokus dan selalu berusaha memberikan yang terbaik.

Sebelum kompetisi dimulai, dalam satu sesi akhir pelatihan, seorang dewan juri melakukan kuis sederhana di antara peserta, yang intinya siapa peserta paling kharismatik di antara semua. Secara tidak terduga, pada saat itu, dari total 12 peserta, saya memperoleh perolehan suara terbanyak. saya juga bingung ketika itu, beberapa rekan-rekan yang selama ini ‘lebih baik’ juga bingung dengan hasilnya. Bagi saya, ini awalan positif untuk lebih maksimal di hari esok.

Pada saat hari H, kegiatan berlangsung dibagi dalam 3 sesi, pertama orasi dan persentasi terhadap sebuah masalah. Di bagian ini seluruh finalis mendapat kesempatan untuk berbicara selama 2 menit, dalam kesempatan tersebut, pertanyaan yang diterima seputar kondisi pendidikan di tanah air dan Badan Hukum Pendidikan (BHP). Setelah selesai babak pertama, seleksi bergulir dan hanya dipilih 6 peserta terbaik. Saya berhasil masuk dan berkesempatan mengikuti seleksi berikutnya untuk mempersentasikan sebuah soal dari panitia selama 2 menit, yakni konflik Israel dan Palestina.

Berikutnya diilanjutkan dengan debat (pro dan kontra) selama 20 menit dengan 2 pertanyaan dan anggota kelompok debat 3 orang dalam satu tim. Tema debat saat itu tentang fatwa haram Golput dan menyoal sistem multi partai di Indonesia. babak ini pun berhasil saya lewati dengan baik dan bersiap menuju Babak terakhir bersama 2 kandidat lainnya.

Di babak terakhir ini dibahas soal tipe pemimpin siapa yang lebih dibutuhkan negeri ini, solidarity makers ala Soekarno atau administrative ala Hatta. Debat berlangsung selama 6-10 menit dan saat itu saya menjawab Hatta dengan alasan konteks zaman yang dihadapi sudah berbeda jauh bila dibandingkan dengan keadaan di masa-masa kemerdekaan. Sementara, jawaban 2 kandidat yang lain beragam, ada yang Soekarno dan menjawab dua-duanya, Soekarno dan Hatta. Babak terakhir ini cukup emosional karena inilah momen yang paling ditunggu-tunggu, karena para peserta diharapkan dapat berekspresi semaksimal mungkin

Sampailah pada pengumuman, dan dewan juri mengumumkan, bahwa sayalah pemenang utamanya. Saya sebenarnya hampir tidak percaya dengan pengumuman tadi dan masih bingung ini nyata atau maya. Namun, dewan juri menjelaskan, apa yang menyebabkan, saya dapat terpilih dari rekan-rekan lainnya. Ada 4 hal, pertama, kestabilan emosi, kedua, sistematika berfikir, ketiga, solusi yang aplikatif, dan terakhir adalah penampilan yang konsisten. Itulah kesimpulan akhir juri yang dikoordinatori oleh Dr. Bima Arya Sugiarto.

Saat itu merupakan malam yang cukup panjang, momen puncak dari aktivitas yang dilakukan selama ini di kampus. Namun, awal dari perjalanan panjang sebuah kontribusi. Semuanya mengalir dan menjadi respon bawah sadar. Pertanyaan demi pertanyaan yang diberikan, dinikmati di tengah rasa lelah, lapar, dan kantuk yang mengemuka.

Program The Next Leader termasuk dalam bagian acara The Candidate, namun karena para peserta muda, diberi tambahan The Young Candidate selama 3 episode khusus. Sedangkan untuk The Candidate sendiri, merupakan sebuah ajang uji kompetensi bagi para pemimpin-pemimpin senior negeri ini dan di desain untuk merespon agenda Pemilu 2009.

b. Kuliah Kerja Nyata di Sorong Selatan, Papua Barat

Pasca amanah di kampus tuntas, bersama beberapa rekan-rekan pengurus harian BEM, saya menyusun rencana Kuliah Kerja Nyata di Papua. Walau sekilas hanya mimpi, tapi mimpi ini akhirnya terealisasi atas bantuan dan kerjasama antara Pemerintah Daerah Kabupaten Sorong Selatan dan Fisipol UGM. Obsesi ini berangkat dari keinginan saya, bahwa S1 harus keliling Indonesia, S2 dan S3, keliling dunia. Hingga saat ini, baru 23 propinsi dari total 33 propinsi yang sudah dikunjungi.

Di awal, tim ini hanya beranggotakan 5 orang, dan semuanya adalah pengurus BEM dan rekan kontrakan. Setelah bergerilya selama lebih dari 4 bulan, berkumpulah 22 orang anggota. Di dalamnya, sengaja dikumpulkan aktivis organisasi lintas bidang, mulai dari aktivis mushala, gereja, pers, pecinta alam, koperasi mahasiswa hingga beberapa asisten dosen berstatus mahasiswa. Latar belakang rekrutmen ini dilakukan, agar tim ini mampu mengimajinasikan Indonesia yang selama ini belum utuh dibenak saya. Indonesia yang hanya sebatas jawa atau sumatra saja, bukan Sabang sampai Merauke atau Miangas hingga Rote.

Berkumpulnya mereka, menjadi cerita tersendiri, karena masing-masing berangkat dari latar belakang yang beragam sehingga di awal-awal sering terjadi kesalahpahaman dan ketegangan. Namun, cukup menarik, karena basis organisasi yang mendasari, akhirnya terbentuk kebersamaan dan saling pengertian. Mulai dari penggalangan dana, persiapan keberangkatan, sampai di tujuan dan kembali ke Yogya semuanya berjalan lancar tanpa kesulitan berarti.

Sebagai inisiator, akhirnya saya diberi amanah oleh rekan-rekan dan dosen pembimbing untuk bertanggung jawab. Selama berada di Sorong Selatan, keberadaan Koordinator Tim menjadi penanggung jawab utama baik dari sisi program, komunikasi dengan masyarakat dan pemerintah, hingga keadaan tim sendiri. Untuk perangkat KKN dari universitas dan dosen pembimbing, tidak memungkinkan hadir disebabkan beberapa kendala yang kurang mendukung pada saat itu.

Tantangan yang cukup menarik, karena beban tanggung jawabnya berskala luas di tempat, di mana saya baru pertama kali menginjakkan kaki. Ada data namun sebatas catatan ala kampus yang harus ditelusuri kebenarannya. Saya bersyukur, di dalam tim terdapat salah satu anggota yang berasal dari Papua, walaupun beliau bukan orang asli karena transmigran dari Jawa.  Beliau yang menjadi guide book berjalan bagi kami untuk mengatasi kesenjangan budaya yang ada.

Selama dua bulan berada di sana, kami mengajar SMP dan SMA, mengenalkan kurikulum anti korupsi, hasil kerjasama dengan KPK. Tidak berbeda dengan pelajaran Pancasila dan Kewarganegaraan  dalam beberapa babnya, kami justru hanya memberikan nilai tambah pada metode pengajaran. Dari sini kami semakin memahami negeri ini, bagaimana anak-anak bangsa yang bersamanya, alam yang mendiaminya serta berbagai masalah yang menyertainya.

Selain mengajar, tim kami juga membangun mikrohidro dan memasang sollar cell. Selebihnya program diarahkan untuk pengomposan dan pendampingan aparatur daerah dalam menjalankan pemerintahan. Waktu 2 bulan memang tidak cukup untuk menjawab semua kegelisahan kami, namun setidaknya, bayangan tentang bangsa ini mulai lebih hidup dan menjadi basis dalam setiap pemikiran dan tindakan kami dalam mengubah dan memperbaiki negeri ini di masa mendatang.

V. Epilog

Tulisan ini ditulis dengan sebuah harapan besar kepada kaum muda khususnya mahasiswa, agar dapat kembali menyadari peran dan tanggung jawabnya dalam membangun masa depan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat. Tidak ada pilihan lain, saat berbicara Indonesia di masa mendatang tanpa peran kaum muda di masa kini. Mendesain kesuksesan sebuah bangsa meniscayakan setiap kaum muda juga harus memiliki motivasi besar menjadi pribadi-pribadi yang sukses. Semuanya tidak dibangun dalam semalam, membalik telapak tangan atau berfikir bahwa ada intervensi metafisis yang diam-diam mencoba mensukseskan kita. Perlu perjuangan, pengorbanan, kesabaran, keikhlasan, dan tekad yang kuat untuk merealisasikan tujuan besar ini.

Tergantung kita apakah tantangan ini mau diambil sebagai peluang dalam mengakselerasi diri atau justru beban yang sarat belenggu dan menjadi penghalang kemajuan. Perubahan apapun namanya, tetap menjadi hak semua, tinggal kita mau atau tidak melakukannya. Artinya, perubahan tidak terbatas hanya pada domain Presiden Republik Indonesia, Menteri, Rektor, Komisaris, Pengusaha, atau Sekjen PBB sekalipun. Karena di tubuh dan jiwa ini ia bersemayam. Kita tinggal Menggerakkannya dalam ritme sinergis bersama visi yang jelas dan langkah yang strategis*

*Salah Satu Artikel Dalam Buku Bumi Mahasiswa*

2 thoughts on “Kepemimpinan Mahasiswa, BEDA!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s