KONSISTEN berkata-kata dan INKONSISTENSI berkarya

Hari ini aku berkeliling ke beberapa kampus untuk mengunjungi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Kunjungan ini dilakukan untuk menyampaikan amanah sahabat dan saudara seperjuanganku, Goris Mustaqim, yang telah menuntaskan buku terbarunya, “Pemuda membangun Bangsa dari Desa” kepada rekan-rekan mahasiswa di Yogyakarta. Buku yang menurutku sangat inspiratif, penuh inisiatif, dan solutif. Ciri kuat betapa dahsyatnya anak muda ketika mereka bergerak, berbuat, dan terus melakukannya secara berkelanjutan.

Seharusnya lebih cepat amanah ini kuselesaikan, namun tertunda, karena di waktu yang bersamaan ada kondisi tanggap darurat bencana dan berikutnya aku harus menerima amanah di Wisdom World Conference. Dengan semangat, aku menelusuri satu persatu kampus yang dimaksud. Namun, apa yang terjadi? Sangat menarik! Jam masih menunjukkan waktu aktif untuk berkontribusi, ternyata banyak pintu dari sekretariat yang ku tuju tertutup rapat tanpa penghuni. Dan keadaan ini terjadi bukan hanya di satu kampus, namun beberapa..fiuuh!

Akhirnya, Aku menitipkannya  juga ke rekan-rekan Pers Mahasiswa. Karena kupikir, mereka lebih relevan dan terbukti ‘online’ setiap saat ketika kuhampiri.

Apa kata dunia? bila ‘sang pencerah’ lenyap tak berbekas..saat ia selalu dan senantiasa sedang dibutuhkan? Selama dahulu berada di BEM, kami sebagai pengurus, selalu membagi jadwal untuk berada di sekretariat. Selain karena banyaknya amanah lembaga yang diterima, kondisi kampus dan negeri ini meniscayakan kami tetap dalam posisi ‘siap’ di tempat.

Keadaan inilah yang tak kulihat sekarang. Seperti kehilangan orientasi dan semangat juang, gerakan intra kampus yang di bangun oleh  BEM semakin tumpul dan jarang menggerakkan. Aneh, tapi ini nyata! Tugas berat menanti, karena pekerjaan ini sebenarnya adalah gambaran bagaimana esok negeri ini akan dikelola oleh generasinya. Wajah BEM, walaupun bukan representasi utama, paling tidak memberi gambaran bahwa kondisi generasi muda sungguh mengkhawatirkan.

Di waktu yang tak berjauhan, setiba di kontrakan, aku menyaksikan debat kandidat bakal calon presiden mahasiswa di kampusku yang kelak akan memimpin BEM. Sebenarnya ngga mood, tapi, antusiasme anak-anak kontrakan berhasil mendudukkan ku rapi bersama mereka untuk menyaksikan tayangan itu. Lumayan okelah..karena para calon mampu menjawab pertanyaan dengan baik disertai fakta-fakta informatif.

Aku hanya tersenyum kecil, karena baru menerima dua kejadian, keduanya paradoks.. memberi pemahaman yang berbeda namun lumrah dilakukan di negeri ini. “Konsisten Berkata-Kata dan Inkonsistensi Berkarya”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s