Dialog Pertiwa dan Hindiana

Di Desa Java, hiduplah sepasang keluarga bahagia. Mereka memang sudah lama ditinggalkan suami-suaminya karena sakit yang menahun. Keluarga pertama bernama Bu HIndiana, beliau sudah cukup tua dan tidak memiliki anak. Sedangkan yang satunya keluarga  Bu Pertiwa, relatif lebih muda dan memiliki putra/i.

Mereka bersaudara kandung dan hidup berdampingan meneruskan tradisi keluarga berada di sana.  Anak-anak Bu Pertiwa lebih memilih tinggal di kota Batava, walaupun sesekali berkunjung menjenguknya.

Bu Hindiana dan Bu Pertiwa menggantungkan hidupnya dari hasil alam yang mengelilingi desa. Mereka menolak untuk hidup di kota, selain karena tidak terbiasa, khusus untuk bu Pertiwa, ia khawatir membebani anak-anaknya.

Pilihan ini memang cukup dilematis awalnya, mengingat anak-anak bu Pertiwa sudah berkeluarga dan menjalani kehidupan yang sudah jauh berbeda dari sebelumnya. Namun, menurutnya, berada di desa merupakan panggilan suci, bakti istri sampai mati ‘mendampingi’ suami.

Dalam satu malam, Bu Hindiana dan Bu Pertiwa berkumpul seperti biasa. Bercerita dan membagi kisahnya bersama. Kali ini Bu Pertiwa yang berinisiatif memulai kisahnya. Ia bertutur panjang soal keadaan anak-anaknya, yang pertama, yakni Garuda. Ia baru saja berpisah dari istrinya. Penyebabnya tak lain tak bukan tuntutan istri yang tak pernah berakhir. Bukan membantu, sang istri malah semakin berlebihan memenuhi pola  hidup dirinya, yang konon berasal dari keluarga berada. “Kulihat Garuda semakin terlihat tidak begitu bahagia dan tak jarang pulang ke desa hanya sekedar tidur di pangkuan saya, ucap Bu Pertiwa”.

Sedangkan yang kedua, yakni Kartina terlihat teguh menerima keadaan suami yang kurang bertanggung jawab menafkahi. Ia rela menambah penghasilan keluarga melalui usahanya yakni, mengajar. Walaupun tak banyak penghasilan yang diterima, ada kepuasan batin tak terkira di sana. Setidaknya itu lebih dari cukup untuk menjalani hari demi hari bersama Nusa, anaknya. Si buah hati, rupanya mengerti keadaan sang Ibu, ia setia berjualan kue di sekolah untuk membantu keuangan keluarga.

Tanpa di sadari, air mata Ibu Pertiwa jatuh membasahi pipi. Ibu Hindiana hanya fokus mendengarkan dan mengacuhkan refleks emosi adiknya itu. Ibu Pertiwa berharap bahwa anak-anaknya selalu sabar menjalani kehidupan.

Setelah Bu Pertiwa mengakhiri ceritanya, bu Hindiana melanjutkan. Ia bertutur tentang masa mudanya dulu. Sedikit banyak  bu Pertiwa tahu, karena mereka dibesarkan dalam lingkungan yang sama. Namun, seperti kakaknya, bu Pertiwa  mencoba mendengarkan dan berusaha melihat dari sudut lain, karena konteksnya saat ini berbeda.

Bu Hindiana mulai dengan sebuah pernyataan, “Saya yakin, bahwa saya adalah gadis paling cantik, pintar dan berasal dari salah satu keluarga terpandang saat itu”, Namun, apa yang terjadi? Suami yang saya cintai hanya memanfaatkan apa yang saya miliki.  Ia memang idaman semua gadis di masanya, tapi, ketika bersama, ia tidak seperti yang semua fikirkan, kelakuan amoralnya membuatku muak dan malu. Awalnya, saya lebih memilih diam dan bertahan. Namun, makin lama ia semakin keterlaluan dan sejak itu saya berusaha untuk meninggalkannya.

Alhamdulillah, maut memisahkan kami. Saya berfikir bahwa masa lalu yang saya jalani tidak lebih baik dari apa yang sekarang ini kau rasakan Dik. Paling tidak, kau masih punya banyak harapan, apakah nanti anakmu bisa berubah hidupnya atau cucumu yang membanggakan. Kau pun sendiri tidak terlalu tua, masih layaklah untuk membangun rumah tangga baru kembali. Sedangkan Aku? Harapan yang kugantungkan hanya kepada diriku yang renta ini, tak lebih.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s