Habibie

Seperti biasa, setiap pagi sebelum sarapan, aku mengecek semua account di dunia maya. Sambil melirik headline beberapa portal berita untuk mengupdate semua informasi.

Tak sengaja melintas dalam timeline account twitter-ku berita dari Mas Adrie Subono yang mengungkapkan kedatangan Habibie, esok hari (Sabtu, 5 Februari 2011) di Yogyakarta, di Gramedia Ambarukmo Plaza dan Taman Pintar untuk tanda tangan buku Habibie-Ainun. Mas Adrie sendiri merupakan keponakan Habibie dan turut serta tinggal bersama beliau saat di Jerman.

Aku serba salah..karena waktunya cukup berdekatan dengan beberapa janji yang harus kupenuhi esoknya. Namun, hidup harus memilih. Dan saat itu, aku langsung memilih membatalkan semua janji, kecuali hadir di resepsi pernikahan rekanku.

Lama ku berfikir dan merenung, kira-kira apa yang bisa kupersiapkan untuknya agar ia bisa merasakan juga, isi hatiku.

Sambil mencari hadiah untuk rekanku yang menikah dan untuknya juga, aku mampir ke beberapa tempat untuk mencari inspirasi. Hadiah untuk rekanku dapat, namun untuk sang pujaan hati belum juga.

Tiba lah esok dan yaa…aku dapat! Inspirasinya, malah ketemu di kamar sendiri. Hehe..

 

Bersama rekanku, Pugo Sambodo, kami menghadiri pesta pernikahan dahulu, karena kebenaranyang menikah merupakan sahabat kami. Setelah itu, perjuangan dimulai. Pugo ke toko buku dan Aku sibuk tak menentu. Hati berlari-lari sudah tidak sabar ingin ketemu. Namun, sepucuk surat cinta belum selesai untuknya sebagai pelengkap.

Waktu kian sempit…dan yaa, sampai di Gramedia Ambarukmo Plaza, jam 14.10 WIB, terlambat 8 menit dari jadwal. Namun, beliau belum hadir juga. Cemas dan kembali khawatir…kemana ia. Aku menunggu hingga akhirnya Sepasang Mata Bola bergema menyambutnya dari paduan suara anak-anak yang diundang meramaikan.

Habibie…Habibie…Habibie..akhirnya. Bulu kudukku naik dengan sendiri, entah kenapa. Wajahku (bila ada cermin) mungkin berseri-seri bak gadis yang baru dilamar. Hehe..(beneran lo)

Saking asyiknya mengikuti beliau..aku lupa, sedang membawa buku untuk ia tanda tangani dan menyerahkan hadiah untuknya. Jadilah, aku mengantri agak buncit. Ramai sekali, walaupun kesempatan langka ini akhirnya bisa kuperoleh juga.

Kira-kira inilah dialog 2 menit itu…

 

Agung : Terima kasih Bapak atas waktunya. Sampai kapan di Jogja?

Pak Habibie : Besok sore, terus langsung ke Bali

Agung : emm…gini Pak, Agung baru selesai menulis buku, berharap Bapak bisa memberikan pengantar di sana

Pak Habibie: Ooo..yaa..boleh, nanti saya baca. Apa aktivitas Agung?

Agung : Saat ini sedang  skripsi di UGM. Alhamdulillah di luar itu, pihak kampus mengapresiasi berbagai aktivitas Agung sebagai mahasiswa berprestasi. Inilah latar belakang buku yang ditulis, Membagi sedikit ilmu dan pengalaman kepada mahasiswa lainnya.

(sambil memberikan kenang-kenangan dan surat cinta kepada beliau)

Pak Habibie : Bagus

Agung : Terima kasih Bapak..jangan lupa jaga kesehatan Pak..

Pak Habibie : Iya..terima kasih. Sehatnya orang berusia 75 tahun lah, yaa gini..hehe

 

 

 

 

 

 

 

 

Saat ini aku seperti melayang..ngga tau kemana…ampun dah! Kalau boleh jujur, ini di luar skenario. Ada beberapa calon memang yang nanti akan memberikan pengantar di bukuku. Namun, sampai sebelum bertemu dengannya, Aku belum terfikir sama sekali. Kalau boleh jujur, untuk mengundangnya saja ke Jogja, selama menerima amanah di kampus susah sekali. Yaa..hampir 3 kali, aku mencoba melakukannya, dan alhamdulillah belum ada yang bisa. Mulai dari tahun 2007 (Pelatihan Pemimpin Bangsa) hingga 2008 (Ospek dan Kuliah Tokoh).

Semoga, beliau bisa memberikan pengantarnya, mohon doanya Facebookers..hehe..

Aku melihat ia lelah. Namun, ia tetap rela meluangkan waktu dan berbagi cerita. Karena sebelumnya ia baru memberikan orasi budaya menyambut Milad Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, bertema-kan “Strategi Pengembangan SDM Dalam Rangka Mengatasi Kemiskinan dan Persaingan Global”.

Hari itu, benar-benar sangat istimewa bagiku. Bisa bertemu langsung dengan beliau yang merupakan figur inspiratif kehidupanku selain Drs. Mohammad Hatta.

Sekedar berbagi, ada semacam kemiripan kisah yang melatarbelakangi kehidupan keluargaku dengannya. Dan itu semakin menguat saat menjalani rutinitas sebagai mahasiswa di Jogja. Berawal dari SD kelas 6, saat aku sudah ditinggalkan papa. Bersama mama dan seorang Adik, kami menjalani hari demi hari dengan tetap bahagia walaupun hidup sederhana.

Aku menemukannya dengan cinta saat membaca mini biografi deretan cendekiawan muslim dunia, dan salah satu yang di ulas dalam buku tersebut adalah figurnya. Kagum bercampur malu, karena diriku masih belum banyak melakukan apa-apa di dunia saat membacanya.

Mulai saat itu pun, aku berjanji untuk lebih baik dan terus konsisten berkontribusi. Alhamdulillah, sampai hari ini diberi kemudahan olehNya untuk menepati.

 

3 thoughts on “Habibie

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s