Menjejak Hatta

‘Penjara’ menjadi rumahnya

Bersahaja adalah bajunya

Indonesia Merdeka dan Ekonomi Pancasila manifestonya

Ia rela menghabiskan hidupnya untuk bangsa

Pribadi ini penuh kharisma

Ia tak banyak bicara karena sibuk berkarya

Namun, cita-citanya selalu diakui dunia

Karena manfaat tak terhingga

Tak ada yang berbeda, saat ia muda dan ketika tua

Aku terkesima karena tak banyak orang sepertinya

Padahal…zaman penuh pancaroba

Di manapun dan kapanpun, Ia terus berusaha,

Membantu bangsa semampunya

namun apa daya,

Tak banyak yang bisa memahami caranya

Pun akhirnya, semua lebih kecewa, karena ia  ‘mengalah sementara’

Namun, ternyata bagi mereka itu selamanya

Bila aku sempat berada di sana

Kukira ia hanya diam dan tersenyum mesra

Karena ia bicara untuk prinsip bukan kuasa

Aku utuh melihatnya sebagai bapak bangsa

Mengayomi semua tanpa cela

walau msh ada yg melihatnya hampa

bahkan bernoda..penuh dosa

kalau memang ada, maafkan iya

bukan maksudnya, bukan inginnya

karena ia ingin Indonesia ada selamanya

(ditulis pertama kali 8 Feb 2011 dan direvisi kembali 11 Feb 2011)

Aku melihatnya utuh sebagai bapak bangsa. Baik sebagai pribadi maupun negarawan. Tidak ada yang beda dengan keduanya. Ini bukan hal yang instan apalagi sebatas pencitraan. Karena Hatta melakukan sepanjang hidupnya. Ada beberapa hal yang dapat dielaborasi untuk menapaki jejak Hatta dan menghadirkan Hatta yang lebih baik di masa-masa mendatang.

Pertama, Tradisi Minangkabau yang cukup kuat keislamannya berpadu dengan Sosialisme Barat dan realitas kolektivitas Indonesia, membuat hidupnya lebih hidup. Walaupun, ayahnya wafat sejak masih kecil, perhatian dan kasih sayang dari Ibu dan keluarga besar selalu menyertainya. Keluarga lagi-lagi menjadi faktor penting mendukung kesuksesan seseorang. Dengan modal demikian, otomatis, setinggi apapun ia meraih mimpinya, ia memiliki akar yang kuat, yang tetap dapat menyerap sari-sari pati kehidupan dan kebaikannya (grass root understanding but have world competence).

 

Kedua, Pendidikan menjadi basis ia membangun kredibilitas dan integritas. Dari Bukit Tinggi via Betawi menuju Rotterdam, ia jelajahi, untuk mencari ilmu. Hatta berinteraksi dengan ilmu ekonomi setelah pengalaman menempanya sebagai bendahara di beberapa organisasi, mulai darI Swallow (sebuah klub sepakbola) dan Jong Sumatra Bond (JSB) serta efek interaksi membantu pamannya (Ayub Rais) berwirausaha.

Ketiga, Organisasi. perannya mulai cukup menonjol saat mulai aktif di dan puncaknya memimpin Perhimpunan Indonesia (PI) di Belanda pada usia 24 tahun. Cikal bakal PI ini yang kita kenal dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia. Dari sini Hatta bersama para tokoh pergerakan bangsa mulai mereproduksi ide-ide tentang ke-Indonesia-an.

Keempat, Partai Politik.

Sempat aktif di PNI bersama Soekarno, Hatta akhirnya mendirikan dan memimpin PNI baru (1932) setelah PNI dibubarkan Belanda. Namun, tidak jauh berbeda dengan PNI, PNI baru pun dibubarkan oleh Belanda dan Hatta dibuang ke Boven Digul.

Melihat sepak terjang di atas, kita dapat melihat bagaiman keempat hal tadi membentuk diri Hatta. Namun perlu diingat selain keempat hal di atas di bawah ada beberapa hal pendukung yang menjadi bangunan fundamental Hatta menjaga konsistensinya.

 

Pertama, Baca

Hatta merupakan pembaca yang ulung. Sampai ada anekdot, bahwa istri utamanya adalah buku, keduanya, juga demikian, sedangkan yang ketiga, adalah Siti Rahmi. Kecintaannya pada buku tertanam begitu kuat. Sepanjang hidupnya Hatta akhirnya mampu mengoleksi puluhan ribu buku dan menjadi salah satu sumber informasi paling berharga untuk memotret perjalanan bangsa ini

Kedua, Diskusi

Budaya ini merupakan efek samping dari organisasi. Karena banyak problem yang dihadapi di dalam organisasi sehingga perlu diupayakan jalan keluar terbaik bagi semua. Tanggung jawab tersebut kolektif melekat di setiap pengurus atau ‘alumni pengurus’ agar eksistensi dan esensi organisasi tersebut tetap berjalan. Dalam konteks Hatta, kesempatan ini betul-betul ia manfaatkan dengan baik, karena pemahaman bersama menjadi dasar bergeraknya organisasi. Apalagi, di masa-masa IA aktif, Jong Sumatra Bond dan Perhimpunan Indonesia menghadapi masalah yang datangnya tidak hanya dari internal namun juga eksternal. Bahkan dalam beberapa waktu tantangan eksternal yang berasal dari Belanda menjadikan kedua organisasi lebih fokus bergerak.

 

Ketiga, Nulis

Siapakah di antara pemimpin bangsa yang menyempatkan diri menulis textbook Filsafat Yunani?  Atau ilmu ekonomi? Dalam konteks ini, tepat kiranya bila Hatta juga kaum cendikiawan atau ilmuwan. Alam Pikiran Yunani, Beberapa Pasal Ekonomi, Pengantar Kedjalan Ilmu dan Pengetahuan dan Pengantar kedjalan Sosiologi Ekonomi merupakan pembuktikannya. Di luar itu Hatta aktif menjadi kolumnis dan dalam beberapa kali, tulisan mampu berdampak sistemik bagi Indonesia,  yakni Indonesia Merdeka (1928), Lampau dan Datang (1956), dan Demokrasi Kita (1960).

Keempat, Integritas

Harta, tahta, dan wanita sering membuat seorang pria lupa dan terlena. Namun, ini tidak berlaku bagi Hatta. Dalam sebuah kesempatan, ia menyampaikan, Dalam Seri di Mata Pribadi Manusia Hatta, beberapa kali dalam setiap kesempatan dibujuk untuk bekerjasama dengan penguasa (baik ketika di masa Belanda maupun saat sudah berpisah dengan Soekarno untuk mendukung setiap kebijakannya). Ia teguh dengan prinsip yang diyakininya, bahwa cita-cita kemerdekaan itu pasti maupun bentuk ‘cara untuk memastikannya’.

 

Penutup

Dengan kemajuan zaman dewasa ini, sebenarnya tidak ada alasan bagi seorang aktivis atau organisatoris tidak lebih baik dari Hatta. Kemajuan yang dimaksud ditandai dengan semakin terbukanya ruang-ruang perubahan lewat berbagai media, ranah, dan bidang kehidupan.

Inti dari diri Hatta sebenarnya sederhana, yakni budaya literasi. Baca-diskusi-nulis maupun sebaiknya. Tradisi ini sebenarnya diketahui oleh semua namun masih sebatas wacana. Belum ditindaklanjuti menjadi sebuah kebiasaan yang mengakar dan mendukung kehidupan sehari-hari. Bentuknya pun sebenarnya tak mesti ansih harus demikian, karena baca yang dimaksud bukan harus duduk rapi dan tertib menghadap buku. Bisa jadi, bentuknya membaca film, lingkungan, dan sebagainya. Untuk diskusi, mungkin bisa dari hal-hal terdekat, sederhana. Yang terpenting rutin. Karena akan banyak efek kumulatif dari diskusi yang dilakukan. Nulis pun demikian, tak harus serius karena generasi setiap zaman beda dan unik. Bisa blog, note, ataupun sekedar update status atau tweet.

Berikutnya penguasaan bahasa. Sepanjang penulis membaca karya-karya intelektualnya, baik berupa buku, auobiografi maupun biografi, Hatta mampu menguasai banyak bahasa. Inggris, Perancis, Jerman, dan Belanda. Bagaimana dengan kita maupun dengan saya (autokritik)?

Salah satu simpul strategis menyatukan dan menguatkannya hadirnya jejaring sosial. (baik secara nyata dan maya). Hanya saja pemahaman dan pemanfaatannya yang dirasa masih kurang optimal. Oleh karenanya ke depan hal ini harus diperhatikan. Karena cara bergerak, sampai sejauh yang penulis cermati tidak banyak jauh berbeda dari substansi. Karena kembali hal ini tergantung potensi, kemampuan, dan kebutuhan yang mengikuti. Pertimbangan-pertimbangan tersebut mutlak untuk menjaga semangat sekaligus efektivitas perjuangan dalam mencapai hasil yang diharapkan.

NB : Makalah yang disampaikan pada Kajian BEM KM UGM, “Hatta di Mata Mereka”

Hari ini aku harus adil untuk mereka

Khawatir salah satu ada yang terluka

cemburu karena perlakuanku yang istimewa

Tidak..kalian sama dihati dan jiwa ini..

“Im in love Hatta dan padamu Habibie”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s