Sang Pencipta Rencana

Berturut-turut selama 2 hari ini, setiap malam aku makan di angkringan. Edisi pertama, bersama rekan-rekan alumni BEM KM dalam rangka syukuran atas kelulusan wisuda profesi Wulan Prima dan berikutnya dengan Fadly, rekan kontrakan di JW3. Untuk yang kedua ini sebenarnya tidak direncanakan, namun, karena mood lagi jelek, kufikir aku butuh rekan untuk sharing. Agar semuanya bisa kembali lebih baik. Jadilah Fadly yang ‘kuculik’ untuk menemani ^-^.

Aku tidak akan bicara mengapa mood ku jelek malam ini, tapi, belajar dari kasus ini, kukira, kita butuh mitra hidup, sahabat atau soulmate istilahnya untuk saling berbagi dan mengisi. Dan bukan ketika mood sedang jelek saja, karena bisa jadi, apa yang kita pahami harus dijelaskan dan dikomunikasikan dengan beragam ‘bahasa’ kepada orang lain. Dan orang ini, punya kans membantu melihat sudut yang kita gunakan untuk menjalani hidup. Akan lebih baik, bila orang-orang demikian jumlahnya banyak, karena seringkali peluang yang kita hadapi sebanding dengan tantangan yang menanti.

Bergaulah..bertebaran di muka bumi. Karena di sanalah hikmah-hikmah dari langit berserakan..dan di sanalah orang-orang ini berada.

Dipertemuan kemarin dengan alumni BEM KM 08, kami bercerita soal cita-cita, yang mungkin barangkali sempat terlupa dan Alhamdulillah ‘teringatkan’kembali. Santai, ringan, dan penuh tawa, semuanya mengalir dan terasa sangat cair. Aku bener-bener menikmati dan merasa lebih hidup.

Sedangkan yang kedua, bersama Fadli, obrolan kami cukup teknis, karena terkait keluarga, masa depan, dan langkah-langkah strategis melakukannya. Lama ku merenung, sambil menuliskan blog ini, kukira setiap dari kita tanpa disadari, sebenarnya sudah memiliki rencana. Apakah kita yang merencanakan atau Dia yang merencanakannya. Pertemuan keduanya inilah yang sering menghasilkan peluang dan tantangan tadi.

Bagaimana bila si manusia tidak memiliki rencana apa-apa? Yaa..sebenarnya ia tetap berencana, walaupun bedanya, posisi yang harus ia terima, dalam keadaan ‘lebih rela’.

Bagaimana Bila ia tak menerima ‘kerelaan’ ini?

jadinya bahaya!! karena kemanusiaan kita penuh dengan keterbatasan dan kesalahan.

Karena mereka yang berencana pun sebenarnya juga ‘rela’ (baca : hanya rela bukan lebih rela) menerimanya. Trus Apa bedanya dan  apa baiknya bila kita tetap berencana ‘ala manusia’?

jelas ada, beda, dan banyak baiknya. Setidaknya kita berusaha untuk lebih baik dengan cara terbaik yang kita pahami. Walaupun belum tentu itu yang terbaik dalam konteks yang lebih jauh, karena kita hambaNya. Namun, kehambaan ini akan utuh bila usaha optimal bertemu dengan intervensiNya.

walaupun problem sering terjadi saat kita menyikapi hasil pertemuan ini. akibat kita lupa bahwa diri ini hanya Sang Pencipta Rencana, bukan Sang Pencipta.

intinya, tetap waspada, karena ‘lebih rela’ dan ‘rela’ tetap bahaya, bila kita lupa, siapa kita sebenarnya ^-^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s