Mendesain Jejaring Efektif-2 (tamat)

Lo ngga gaul deh! Hari gene…Apaan sih, katrok banget, gitu aja ngga tau..

Mungkin istilah di atas sering buat kita labil, alay, lebay bahkan galau (kalau istilah ABG sekarang). Tapi, tulisan ini bukan membahas gaul atau tidak, namun lebih mendasar dari itu, apakah kita sudah memahami kata gaul tersebut?

Gaul awalnya  berasal dari bahasa latin, namun, popularitas presiden Perancis saat itu , Charles de Gaulle, membuat istilah ini berkembang dan meluas di tanah air menjadi istilah sehari-hari untuk menggambarkan kualitas hidup seseorang dalam merespon manusia dan lingkungannya.

Gaul yang dibahas di sini diarahkan untuk membedah networking sebagai esensinya. Dalam versi paling sederhana ia adalah relasi atau hubungan. Baik yang sifatnya personal, komunal, maupun sosial. Artinya, peran sebagai makhluk, memastikan bahwa di dalamnya melekat hak dan kewajiban. Keduanya kelak akan dipertanggungjawabkan sebagai bagian dari perjalanan hidup manusia. Oleh karenanya, relasi yang hadir, diharapkan mampu menutupi keterbatasan dan kekurangan yang ada.

Dalam Islam, istilah ini dikenal dengan Silaturahim. Perintah untuk menjalin silaturahim, telah dituliskan dalam kitab suci Al-Qur’an, Surat Ali Imran: 103

“Dan berpeganglah kamu semua kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai”…

Atau ayat 105, Allah memberikan perintah, “Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.

Di luar konteks itu, hadist qudsi di bawah ini mengafirmasi dimensi lain dari silaturahim, yakni; Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim (HR. Bukhori)

Dan berikutnya dalam Hadist Riwayat Ibnu Majah:  Sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan adalah pahala orang yang berbuat kebaikan dan menghubungkan tali silaturahim. Sedangkan yang paling cepat mendatangkan keburukan ialah siksaan bagi orang yang berbuat jahat dan yang memutuskan tali persaudaraan.

Konsep teologis di atas, dalam dimensi praksis diimplementasikan oleh Rasulullah ketika Hijrah ke Madinah, saat mempersatukan kaum Muhajirin dan Anshar dalam satu ikatan persaudaraan yang kuat (QS. Al-Hasyr:9). Sedangkan Barat, yang diwakili Aristoteles membedakan networking dalam dua hal, yakni berdasarkan hubungan saling menguntungkan (economic needs) dan berdasarkan kesenangan (emotional and biological needs).

Geliat Jejaring Sosial

Konteks zaman yang bergerak akseleratif menyebabkan pergeseran makna gaul, silaturahim atau networking berubah. Kalau orientasinya dulu terbatas fisik, kini dengan kemajuan teknologi semuanya bisa terkoneksi dalam sebuah ruang publik baru.

Media virtual ini menjadi sarana untuk memberi dan membagi potensi dan sumber daya yang dimilki untuk menyempurnakan makna gaul, silaturahim atau networking sebenarnya. Lebih jauh, bila kemarin gaul masih identik dengan gaya hidup (lifestyle) bersifat fisik (nyata), kini arahnya menitikberatkan pada informasi dan interaksi (maya). YouTube, Friendster, Facebook, Twitter, BBM, hingga Blog, menjadi identitas dan account ‘ke-gaul-an’.

Sudah menjadi karakter dari jejaring sosial untuk bekerja secara bottom up (mengakar). Walaupun praksisnya, kelas menengah ke atas masih menjadi aktor utama. Namun, kesadaran ini tidak lalu meninggalkan basis, karena ia bergerak secara organis menghidupi seluruh kehidupan. Masyarakat menjadi lebih peka dan kritis terhadap keadaan di sekitarnya maupun ‘desain besar’ yang mendukungnya.

Setidaknya, ini pertanda bahwa sistem yang selama ini dikonstruksi oleh pemerintah (state), swasta (privat), dan intermediary sector di masa-masa mendatang lebih fair dalam berperan meningkatkan kesejahteraan sekaligus mengurangi penyimpangan kekuasaan.

Siapa yang tak kenal ‘Keong Racun’,  Andaikanku Gayus Tambunan, Udin Sedunia hingga aksi kocak Briptu Norman dengan Chaiyya..Chaiyya. Tanpa ditanya pun, semua langsung mengerti, Apa yang terjadi, bagaimana melodi yang mengikuti maupun siapa yang beraksi. Belum lagi ketika kita mencoba mengingat balik kasus Prita Mulya Sari dan Kasus Bibit-Chandra. Di mana ‘suara’ dan aspirasi yang selama ini mati suri kembali hidup sejati. Setidaknya, jejaring sosial mampu memberikan ‘harapan’,  lebih cepat dari yang pernah dihadirkan oleh sistem maupun media lainnya.

Akhirnya, Menjadi terkenal memang bukan hal yang sulit dalam era seperti ini. ‘Hanya’ dibutuhkan spontatnitas dan kreativitas agar publik dapat menerima dengan baik ‘pesan’ yang dilakukan. Efek positifnya, masyarakat memiliki alternatif dalam menikmati dan memahami dunia di luar mainstream yang selama ini masih membatasi rasa dan imajinasi. Selain itu, bagi si ‘obyek’, apa yang dilakukannya dan sedang ia alami, mendatangkan anugerah tersendiri yang diharapkan mampu mendongkrak kualitas kehidupannya agar lebih baik.

Kebebasan Vs Aturan

Geliat jejaring sosial mendatangkan banyak manfaat untuk umat, walaupun di sisi lain bahaya laten masih cukup kuat mengikuti. Apa yang terjadi dengan para wakil rakyat yang terhormat hingga rekaman video artis beradegan mesum turut meramaikan perkembangan yang dimaksud. Oleh karenanya, peranan keluarga sebagai bangunan networking paling dekat di tengah-tengah kita penting untuk terus dikuatkan. Karena aturan untuk mengelola interaksi ini belum jelas.

Dengan dalih kebebasan, terkadang, jejaring sosial justru dijadikan media untuk saling mencaci maki, menjatuhkan, hingga merusak kehidupan pribadi seseorang. Bila terus dibiarkan, kondisi ini justru kontradiktif dengan niatan awal untuk membuat Indonesia lebih baik dan bermartabat. Dengan demikian, perlu diupayakan langkah-langkat taktis dan strategis, pertama, sudah seharusnya account-account yang dimiliki di dunia maya, digunakan untuk menghiasi pemikiran dan dialektika yang dibangun oleh publik maupun media. Kedua, Keberadaan account-account tadi, idealnya bukan hanya sekedar menghiasi, namun memiliki substansi, agar publik dapat merasakan alternatif informasi dan menerima manfaat. Apakah lewat update status, note, twit atau kultwit maupun dokumentasi lain yang relevan dengan peningkatan kualitas hidup umat. Ketiga, Karena account-account maya ini go public, gunakanlah istilah publik yang lebih membumi dan mudah dipahami.

Keutuhan tampilan kita di jejaring sosial, setidaknya dapat meningkatkan kredibilitas dan integritas. Karena inkonsistensi diri sering mengemuka dalam praktek sehari-hari tanpa disadari

One thought on “Mendesain Jejaring Efektif-2 (tamat)

  1. NUMPANG INFO YA BOS… bila tidak berkenan silakan dihapus:-)

    LOWONGAN KERJA GAJI RP 3 JUTA HINGGA 15 JUTA PER MINGGU

    1. Perusahaan ODAP (Online Based Data Assignment Program)
    2. Membutuhkan 200 Karyawan Untuk Semua Golongan Individu yang memilki koneksi internet. Dapat dikerjakan dirumah, disekolah, atau dikantor
    3. Dengan penawaran GAJI POKOK 2 JUTA/Bulan Dan Potensi penghasilan hingga Rp3 Juta sampai Rp15 Juta/Minggu.
    4. Jenis Pekerjaan ENTRY DATA(memasukkan data) per data Rp10rb rupiah, bila anda sanggup mengentry hingga 50 data perhari berarti nilai GAJI anda Rp10rbx50=Rp500rb/HARI, bila dalam 1bulan=Rp500rbx30hari=Rp15Juta/bulan
    5. Kami berikan langsung 200ribu didepan untuk menambah semangat kerja anda
    6. Kirim nama lengkap anda & alamat Email anda MELALUI WEBSITE Kami, info dan petunjuk kerja selengkapnya kami kirim via Email >> https://lowonganterbaik.wordpress.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s