Beruntung dan Bersyukur

Penutupan acara Forum Indonesia Muda (FIM) 10 berlangsung berbeda dari sebelumnya. Karena kali ini ditutup dengan acara bedah novel ‘Keydo’ karya Bunda Tatty yang juga ‘Founding Mother’ FIM.

Sekedar info, Keydo merupakan sosok ideal perempuan, teguh memegang prinsip, namun tetap fleksibel bergaul. Cerdas dan kritis dalam merespon realitas karena didukung keaktifan organisasi yang baik. Ia cukup konsisten ‘mengubah sistem’ dengan ‘kiri-nya’ sehingga, si kanan (Kinang-sang suami) ‘menjemputnya’ untuk menyempurnakan setiap usahanya.

Kedua sosok (baik Keydo maupun Kinang), lahir di tengah-tengah keluarga yang sepenuhnya mencintai mereka dan memegang tradisi yang cukup kuat.

Kalau boleh jujur, kisah Keydo, membuatku seperti menapaki jalan hidup yang sudah dan akan kulalui. Aku memang tak tahu seperti apa..tapi, Keydo membuat itu tak terlalu gelap (Terima Kasih Bunda atas karyanya..)

Di luar acara, aku merasa bersyukur dan beruntung , karena acara yang diselenggarakan juga menghadirkan para pembicara sekaliber Taufik Ismail, Meutia Hatta, dan Muchtar Naim. Setidaknya, secara tidak langsung aku bisa belajar banyak hal dari mereka.

Taufik Ismail yang memang datang lebih awal dari pembicara yang lain, membuat kesempatan ini menjadi terbuka. Beliau menyampaikan hal-hal sederhana namun, bagiku sangat prinsipil. Seperti pentingnya budaya membaca, menulis, hingga penguasaan berbagai bahasa asing.

Menurutnya, kurikulum bahasa Indonesia hari ini kurang menarik bagi para peserta didik. Dari SD-SMA, kita hanya diajarkan tentang awalan, akhiran, dan sisipan. Sungguh sangat membosankan. Padahal, yang terpenting, sebenarnya bagaimana si anak di ajarkan untuk menyenangimembaca dan menulis. Sehingga kelak ia menjadi budaya dalam kehidupannya. Selain itu, penguasaan bahasa asing mutlak dimiliki. Generasi Founding Fathers, adalah hasil dari didikan ini. Dan dibuktikan dengan menguasai minimal 4 bahasa asing, yakni Belanda, Inggris, Perancis, dan Jerman.

Di akhir penyampaiannya, beliau membagi keresahan tentang kondisi kesastraan di tanah air dan upaya yang beliau lakukan untuk membenahinya.

Ketika acara berlangsung, beliau mengulang apa yang sebelumnya sudah beliau sampaikan kepadaku sekaligus membagi tips menulis lewat diary. Dengan diary, sebenarnya kita bisa memulai aemuanya. Intinya, tulisan yang dibuat cukup menyertakan peristiwa dan perasaan. Peristiwa di sini lebih menekankan pada detail, terkait waktu, tempat, tokoh, dan konteks yang melingkupinya. Sedangkan perasaan lebih ke suasana hati yang terwakili, apakah sedih, senang, atau hampa.

Ibu Meutia Hatta, lebih fokus menjelaskan soal peran perempuan dan konstruksi sosial yang melingkupi perbedaan. Baik ketika merespon difable, potensi anak, hingga kearifan lokal yang biasa mengemuka di negeri ini.

Untuk Pak Muctar Naim, beliau lebih filosofis, menanyakan perbedaan antara anak muda dan pemuda. Kalau diperhatikan sekilas, memang tidak terlihat berbeda. Namun, karena beliau seorang antropolog sekaligus sosiolog, beliau mengkaji, bahwa anak muda adalah, orang-orang yang berusia muda. Sedangkan pemuda, justru lebih sekedar berusia muda, namun ia memiliki kesadaran untuk menyiapkan diri berperan bagi bangsanya.

Hari ini, saya melihatnya, terlalu banyak anak muda daripada pemuda, begitu ucapnya.

Acara berlangsung hangat karena disela-sela diskusi, pembicara dan peserta diiringi alunan musik dari timur hingga ke barat nusantara walau sesaat sempat menghampiri negeri Paman Sam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s