Demonstrasi

  • Apa arti dari demo itu sebenarnya?

Demo adalah salah satu bentuk ekspresi intelektualitas yang bertujuan untuk menyampaikan aspirasi kepada penguasa, sifatnya secara langsung dan melibatkan massa.

 

  • Mengapa bisa terjadi demo?

Demo biasanya terjadi karena upaya-upaya yang sifatnya diplomasi menemui jalan buntu. Dengan demo, pihak yang menjadi ‘korban’, memiliki posisi tawar karena membuka terlibatnya ‘pihak ketiga’ atau publik untuk turut menyelesaikan masalah yang sedang terjadi.

 

  • Apakah demo itu masih perlu?

Tentu masih perlu, karena peluang untuk memperbaiki dan mengubah semakin besar. Ingat, demo HANYA salah satu ekspresi intelektualitas dari banyak ragam yang bisa dilakukan, misalnya, diskusi atau kajian, riset, advokasi, hingga audiensi (negosiasi dan lobi). Tergantung konteks dan momentum yang sedang terjadi. Karena cara-cara tadi hanyalah strategi agar masing-masing pihak memiliki posisi tawar agar hal yang diperjuangkan bisa segera dicapai.

 

  • Apa fungsi demo itu sebenarnya?  karena kebanyakan demo yang ada tidak mengubah kebijakan yang sudah dibuat

Demo  dilakukan agar publik mengetahui persis duduk persoalan yang dihadapi  oleh ‘korban’. Selain itu, demo juga berupaya untuk mencerdaskan publik dalam melihat sisi-sisi lain dari sebuah persoalan. Oleh karenanya, fungsi demo lebih ke arah alternatif atau win-win solution yang bisa diupayakan pihak ketiga atau publik sehingga problem yang dihadapi bisa diatasi. Bila demo memang belum mampu mengubah kebijakan, memang sejak awal tidak diarahkan mutlak ke sana atau hanya sekali saja dilakukan. Demo yang baik terus-menerus (berkelanjutan) hingga tujuan tercapai. Tentunya metode demo dan strategi gerakan yang dilakukan harus terus dievaluasi agar demo bukan hanya sekedar rutinitas dari sebuah aktivitas.

  • Bagaimana perkembangan demonstrasi yang dilakukan mahasiswa dari waktu ke waktu?(khususnya ugm)

Untuk konteks UGM sudah cukup baik dan unik.  Hanya saja, cara yang dilakukan dalam menyampaikan tuntuntan harus lebih elegan.


  • Bagaimana demo yang seharusnya? karena banyak demo yang berakhir dengan rusuh

Pertama, untuk konteks UGM dan Yogyakarta, massa aksi yang melakukan demo, sudah cukup cerdas. Setahu dan sepengalaman saya, sangat sedikit sekali demo berakhir rusuh di sini.

Kedua, demo yang baik idealnya juga dilakukan seperti halnya sebuah acara atau perhelatan event. Jadi perlu ada event organizer atau kepanitiaan, agar hal-hal teknis ini tidak menghambat substansi demo. Misalnya, siapa koordinator acara demo, agar tetap menarik simpati massa maupun masyarakat yang melihatnya. Mungkin bisa bentuknya yel-yel, aksi teatrikal, pesan spanduk, orasi, hingga aksi simpatik berupa penyebaran leaflet demo dan sebagainya. Intinya, demo harus mampu menjadi acara yang sakral sehingga memberikan spirit baru bagi massa yang berada dalam barisan demo maupun menerima dukungan dari masyarakat sendiri.

Ketiga, kerusuhan yang sering terjadi dalam demo biasanya ditunggangi atau diprovokasi oknum massa, aparat, bahkan media, agar eksistensi salah satu pihak atau masing-masing pihak dapat terekspose dengan baik atau ‘layak cetak’.

  • Demo terbesar apa yang pernah terjadi di ugm?

Semasa saya kuliah, kalau tidak salah, Sekitar tahun 2006/2007, terkait rencana kenaikan BOP

 

  • mas nya suka demo ga? Kalo iya biasanya suka memprotes masalah apa?

Saya akan demo (tanpa diminta tentunya), bila rasionalisasi fakta dan data sudah saya terima dan dikaji dengan baik.

 

  • Mengapa memilih demo? Tidak dengan cara lain?

Seperti yang sudah saya sampaikan, demo maupun cara lain (diskusi, riset, advokasi, negosiasi atau lobi) bukan dikotomi. Karena semuanya terintegrasi. Atau lebih tepat ini pilihan strategi gerakan.

 

  • Proses pengerahan masa untuk demo itu bagaimana?

Biasanya lewat diskusi, seminar, dan riset. Kemudian diprogandakan secara masif lewat berbagai media.

  • esensi demo menurut mas agung dari sudut pandang mahasiswa sekaligus sudut pandang oarng yang kritis?

Karena demo merupakan salah satu entuk ekspresi intelektualitas, maka basisnya jelas, data dan fakta. Bila instrumen ini tidak hadir maka rasionalisasi mengapa harus demo jadi bias. Karena dikhawatirkan lebih didominasi otot ketimbang otak atau emosi daripada logika. Mahasiswa harus lebih banyak menggunakan akal  dalam merespon dan menyikapi sebuah permasalahan.

Kedua, karena demo hanyalah cara bergerak BUKAN substansi atau tujuan bergerak maka, persiapkan dan rencanakan dengan baik.

Ketiga, obyek perjuangan mahasiswa yang demo, adalah mahasiswa maupun masyarakat. Jadi, jangan nodai demo untuk mereka dengan cara-cara yang melukai perasaan dan jiwa mereka


*Hasil Wawancara dengan SKM Bulaksumur UGM, “Esensi Demonstrasi” / Awal Mei 2011

One thought on “Demonstrasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s