25 Tahun (Bagian-1)

Akhir Bulan kemarin, tepatnya tanggal 31 Mei 2011, aku kembali mengulangi waktu pertama kalinya lahir di muka bumi. Kata Mama, aku lahir di Bulan Ramadhan, tepatnya, hari Senin Wage, sekitar sore hari.

Aku diberi nama Agung Baskoro oleh Mbah (Kakek, orang tua Papa). Nama ini bermakna, Agung artinya besar, sedangkan Baskoro berarti matahari. Jadi, kira-kira Agung Baskoro adalah Matahari Besar.

Makna nama ini baru kugali setelah tiba di Yogyakarta. Karena banyak rekan-rekan yang menanyakan identitasku. Mereka selalu bingung, besar lahir di Medan, tapi, koq nama Jawa banget. Setelah kujelaskan asal-usulnya barulah mereka paham kenapa jadinya seperti itu.  Papaku Jawa, sedangkan Ibuku berasal dari ranah minang. Namun, jangan tanya padaku tentang kedua bahasa dari masing-masing daerah orang tuaku, karena Insha Allah, aku hanya bisa menjadi pendengar yang baik:)

Oh iya, Aku tidak sempat menyadari belaian kasih sayang Mbah karena beliau wafat begitu cepat. Begitu pun dengan Papa, beliau wafat saat aku kelas 6 SD. Kalau Mama bekerja di Jakarta. Sedangkan Adik di Pekanbaru namun dalam waktu dekat akan pindah ke Jakarta dan berkumpul bersama Mama untuk membantu membangun perusahaan keluarga besar.

Back to topic, Kadang aku kurang menyadari bahwa usia yang telah kumiliki kini sudah mencapai ¼ Abad,  (Keliatan mulai lebay ni…hehe). Lama ku merenung dan berusaha menapaki jalan hidup yang sudah kulalui selama ini. Karena selalu ada perasaan khawatir, bahwa diri ini belum bermanfaat.

Usaha ini cukup obyektif, bila kubandingkan dengan beberapa rekan-rekanku kini yang telah menjelajah dunia maupun menikmati kehidupan barunya. Boleh dibilang saat ini, aku sedang berada pada fase transisi. Era yang sangat menentukan bagaimana akhir masa depan yang sedang kurencanakan selama ini *buat Anak sekarang, katanya sih inilah masa-masa galau itu..hoho ^-^*

Tak banyak yang berubah dari hidupku, selain kesendirian yang sering menemani (semi curcol..huhu) Hidupku akhir-akhir ini memang lebih banyak dihiasi dengan aktivitas publik bersama turunannya. Aku bersyukur, karena keadaan ini membantuku untuk mengoptimalkan waktu dengan baik.

Di luar itu, aku biasanya membaca, menulis, silaturahim, berolahraga (bersepeda, badminton, futsal), dan jalan-jalan.

Untuk soal privat, aku lebih sering tertutup dan hanya mengungkapkannya pada teman-teman terdekatku. Tapi, jujur, terkadang mereka nyebelin juga, karena sering ‘bocor keliling’..(fiuuuh). Agak sulit mencari ‘sahabat sejati’ ^-^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s