25 Tahun (Tamat)

Bagian terakhir ini, aku hanya akan bercerita soal masa depan. Mungkin agak sedikit abstrak. Tp, yang jelas, tulisan ini sifatnya reflektif sekaligus menjadi bagian vital dari dua tulisan sebelumnya.

Dari buku studi futuristik yang kubaca, merencanakan masa depan memberi banyak keuntungan, pertama, kita mampu memiliki banyak alternatif dan kedua, kita mampu ‘melihat’ masa depan.

Namun, perlu digarisbawahi, bahwa masa depan yang dimaksud, tetap berpijak pada apa yang telah dilakukan, karena bila tidak, maka hasilnya tidak akan terlalu signifikan.

Key Question1 :

APA YANG SUDAH KITA LAKUKAN?

Contohnya, Rasulullah, di usia 25 tahun, sudah menikah sekaligus membuktikan diri sebagai seorang entrepeuner sejati, Drs. Mohammad Hatta yang saat itu sedang kuliah di Belanda, menghasilkan manifesto terbaiknya lewat Indonesia Merdeka di negeri orang. Habibie? Beliau baru menyelesaikan diplom ingineur di RWTH Aachen untuk berikutnya kembali melanjutkan studi doktoralnya.

Rasulullah, Hatta hingga Habibie, memberi kita sebuah pemahaman tentang hidup. Sekilas, mungkin tak ada yang berbeda dari apa yang dilalui oleh rekan-rekan kita yang lain. Mereka menikah, berwirausaha, kuliah, dan seterusnya. Tapi, mengapa sosok Rasulullah, Hatta hingga Habibie mampu menggetarkan dunia?

Key Question2:

 MENGAPA MEREKA ISTIMEWA?

Oh iya, kenapa Rasulullah, Hatta, dan Habibie diambil sebagai sample? Sederhananya, karena mereka adalah beberapa role model yang setia menginspirasiku.

Pertanyaan di atas sebenarnya buatku bukan sekedar untuk dijawab apalagi dicatat. Mungkin kata-kata bijak di bawah bisa sedikit membantu.

Banyak orang meyakini
bahwa yang diyakininya itu terbaik,
tapi tidak menerapkannya
dalam kehidupan nyatanya.
Seandainya setiap orang ikhlas
menerapkan keyakinannya
dalam setiap helaan nafasnya,
pada setiap retakan senyumnya,
sebagai peneduh wajahnya,
sebagai pemerdu suaranya,
dan sebagai pelembut perilakunya,
maka dunia ini akan dipenuhi
oleh orang baik yang hidupnya kuat
dan sejahtera.

(Mario Teguh)

Jawaban yang sudah kita siapkan sebenarnya membantu kita untuk menjadi diri sendiri. Karena pada dasarnya, manusia hidup untuk beribadah dan bermanfaat.

Dan Tidaklah Aku Menciptakan Jin dan Manusia Kecuali untuk Beribadah Kepada-Ku

(Adz Dzariyat : 56)

“Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.

(HR. Bukhari)

Sekedar menjelaskan, diri sendiri yang dimaksud tentunya bukan hanya berdiri atas Hak Azasi Manusia (HAM) namun juga Kewajiban Azasi Manusia (KAM). Karena yang terakhir sering luput dari pembahasan kita.

Keseimbangan keduanya inilah yang diharapkan mampu membuat kita lebih jujur, obyektif, dan fair dalam menjalani hidup dan peran di masa-masa mendatang.

Key Question3:

2025…2045…KITA SEDANG APA?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s