“Surat Untuk Calon Istri”

Yogyakarta, 16 Juli 2011

Assalamualaikum Wr. Wb.

Di manapun kau berada..Aku ingin menyapamu, Apa kabar? Semoga kau selalu baik-baik saja di sana. Aku berharap dirimu dan keluarga yang bersamamu, senantiasa diberi kekuatan untuk lebih baik dan istiqomah di jalanNya. Aamin.

Aku menuliskan surat ini karena salah satu kewajibanku sebagai seorang anak hampir tuntas di bangku akademik.

Surat ini adalah maklumat terhadap diriku agar lebih bertanggung jawab. Setidaknya aku sudah pernah berusaha untuk terus berjuang melakukannya hingga hari ini. Dalam blog ini, aku pernah berniat dan menuliskan sebuah cita-cita untuk hidupku menikah di usia 25 tahun. Sama seperti ketika Rasulullah menyempurnakan agama bersama Siti Khadijah. Namun, aku harus mengatakan kepadamu, bahwa sepertinya, janji ini harus kurevisi hingga aku nanti berusia 27 tahun. Paling tidak itu ambang batas yang telah kutetapkan untuk kurealisasikan sesegera mungkin.

Ada banyak alasan, tapi alasan mendasar aku menundanya adalah menuntaskan janji-janji atas diriku yang sempat tertunda sebelumnya.

Yaa…kau perlu tahu, aku ingin ketika kita menikah nanti, maharku adalah pemikiranku. Bukan yang lain. Bila Hatta menyerahkan “Alam Pemikiran Yunani” untuk Siti Rahmi, maka aku ingin menghadirkan karyaku untuk mahasiswa Indonesia kepadamu. Mereka yang membesarkanku, mereka yang telah membuatku seperti sekarang. Keringat, air mata, luka, sakit, keluh, kesah…adalah saksi abadi besarnya pengaruh mereka kepadaku.

Karya pertamaku sudah kuselesaikan. Karya keduaku sedang kukerjakan bersama yang ketiga. Aku berharap akhir tahun ini semua bisa kuselesaikan. Yaa..sebuah Trilogi untuk Mahasiswa Indonesia.

Aku cinta ilmu dan ingin berbakti kepadanya agar umat kita bisa lebih baik. Disela-sela aktivitasku menuntaskan trilogi itu, aku ingin, ketika menjemputmu, di tanganku sudah tergenggam kepastian master atau doktorku. Setidaknya cintaku berujung bukti bahwa bukan sekedar kata. Habibie membuatku tak ingin tidak melakukannya, seperti ketika menyapa Ainun. Aku yakin bisa lebih baik darinya saat menjemputmu kelak.

Aku berharap…kau juga punya cita dan mimpi yang sama, bukan hanya terbatas pada diri, namun bisa melampauinya. Karena, imajinasiku tentang sebuah keluarga akan utuh, bila kita produktif memberi manfaat dan maslahat kepada umat, seperti hikmah yang dapat kita petik ketika Rasullullah dijemput oleh Izrail..Ummati..Ummati..Ummati..

Oh iya…aku bukan orang baik. Penuh dengan keterbatasan, kekurangan, aib, dan seterusnya. Masa laluku tidak begitu baik. Namun, aku berjanji masa depanku lebih baik. Setidaknya waktu yang kumiliki sebelum menjemputmu bisa membuatku belajar lebih tekun untuk lebih baik. Bagaimana mungkin, aku sanggup menjadi imammu selamanya, bila diriku seperti sekarang? Aku malu..bukan hanya padamu. Tapi, utamanya kepada yang menciptakanku dan generasi yang akan melanjutkan perjuangan kita nanti.

Siapa ayahnya? Apa yang telah dia lakukan selama hidupnya? Yaa.. aku hanya ingin ibadah yang kita lakukan sempurna dan mampu membuat semua bahagia.

Bagiku kau sangat istimewa. Aku ingin memperlakukanmu bak putri kerajaan atau seorang bidadari syurga..hanya inget Papa ketika nanti menjadi suamimu, lebih baik darinya.

Itu yang ingin kusampaikan… Agar kau tak bertanya di sana.

 

Wassalam,

Agung Baskoro

2 thoughts on ““Surat Untuk Calon Istri”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s