Mentorship-1

Agung Baskoro : Assalamualaikum. Mohon doanya Mas, siang ini Agung akan sidang. InshaAllah, bila tidak ada halangan, 18 Agustus akan wisuda (Mon, 11/07/11, 5:30am)

Anies Baswedan : Agung, selamat ujian. Saya yakin you will do very well. You are a great student. Sore ini saya ke Jogja s/d besok. Malam ini ada acara, tp, semoga besok bisa ketemu. Salam, Anies (Mon, 11/07/11, 8:51am)

Agung Baskoro : Aamin yaa Rabb. Makasi Mas. Insha Allah. Agung juga ingin sharing dan butuh masukan banyak dari Mas agar sinergis dan strategis dengan visi Indonesia 2045. Agung tunggu kepastian kabar dari mas untuk bertemu ^-^ (Mon, 11/07/11, 9:05am)

Agung Baskoro : Assalamualaikum. Mas hari ini jadi ketemu? Kl iya, kira2 jam brp? Biar agenda Agung menyesuaikan. Makasi Mas (Tue, 12/07/11, 3:40pm)

Anies Baswedan : Sy brngkt dr rumah jam 5 sore. Bs ikut ke airport ngobrol di jalan (Tue, 12/07/11, 3:53pm)

Agung Baskoro : Baik Mas (Tue, 12/07/11, 3:54pm)

Pengantar di atas adalah SMS antara Mas Anies dengan Penulis. Semuanya mengalir …karena dari beberapa mentor yang penulis kabari tentang berlangsungnya sidang, beliau salah satu yang meresponnya dengan cukup cepat. Walau sesudah sidang sempat was-was, khawatir tidak bisa bertemu kembali.

Terakhir, pertemuan kami terjadi pada saat terselenggara acara Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I4) di Depdiknas. Beliau dalam kapasitas sebagai Dewan Penasehat, sedangkan saya mewakili mahasiswa berprestasi.

Alhamdulillah..sekitar pukul 5 kurang 10 sore (Selasa /12 Juli 2011), bertempat di rumah orang tua beliau di Grompol, jalan Kaliurang Yogyakarta. aku tiba di sana. Ditemani Mas Ali (salah seorang asisten pribadi orang tua Mas Anies), sambil menunggu, kami banyak bercerita soal keluarga beliau, perubahan Yogyakarta, maupun keadaan orang tua Mas Anies sendiri.

Sekitar 15 menit, Mas Anies keluar bersama kedua orang tuanya. Aku terkejut, karena dikenalkan sebagai Pak, tepatnya, “kenalkan Bah..Ma..ini Pak Agung”, sambil beliau melemparkan senyuman khas. *Weleh2..setua itukah, hehe..oh iya, terakhir kali bertemu dengan Abah dan Mama Mas Anies tahun 2007, tepatnya saat sarapan bersama, sebelum Mas Anies menjadi pembicara dalam kegiatan Pelatihan Pemimpin Bangsa I BEM KM UGM*

Tp, suasana jadi lebih cair dan penuh kehangatan. Kedua orang tua mas Anies memberi selamat kepadaku atas keberhasilan menuntaskan sidang kemarin.

Setelah pamit, akhirnya  kami mulai ngobrol tentang beberapa hal, utama seputar hidup, masa depan, dan seputar aktivitas yang kita lakukan selama ini. Bagiku, obrolan kemarin sangat menarik dan inspiratif banget. Selain santai, namun, obrolan kemarin memudahkanku dalam mengeksekusi beberapa rencana-rencana strategis ke depan.  Simpulan dari obrolan kami, saya rangkum di bawah ini,

Pertama, kalau memang serius mau kuliah ke luar negeri, Menikahlah sebelumnya. karena manfaat dan mashlahatnya besar. *kuliah di dalam negeri juga mesti segera koq nikahnya:)* Idealnya bisa studi bareng dengan istri atau saling back up untuk pencapaian cita-cita salah satu. lagipula kita diberi kesempatan mengelola keluarga tanpa intervensi. Bukan tidak penting orang tua, namun, alangkah baiknya, mahligai rumah tangga dibangun dengan kemandirian dan profesionalitas dua insan.

Kedua, ngga sekedar ke luar negeri. sebelum pergi, tinggalkan prestasi, kontribusi, dan dedikasi kecil untuk negeri ini. Setidaknya saat menyanyikan Indonesia Pusaka atau Yogyakarta, jadi lebih hidup:) Ada euforia kata luar negeri atau jakarta dalam konteks rekan-rekan di kampus. Hati-hati…jangan sampai kita lengah dan jadi ngga strategis pasca pulang dari studi atau ketika kerja di jakarta. kalau bisa, ada ‘misi’ yang dibawa selain ‘dokumentasi pribadi’:)

Ketiga, di Jakarta kita memang grow to fast..tp, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi membuka kesempatan yang sama dengan daerah-daerah seperti Yogya, Bandung, dsb untuk berkualitas sama. yang terpenting, selalu belajar dan terus memperbaiki diri. sifatnya malah saling melengkapi. Misalnya, gimana caranya, walau Abas tinggal di Jogja, tp rezeki bisa seperti di Jakarta.

Keempat, network. Jangan sekedar kuliah atau kerja aja, mau di Indo atau di luar. Sayang waktu yang sudah digunakan. Jejaring bisa mengakeselerasi kemampuan diri dan potensi kita yang masih terpendam lainnya. Kuncinya kembali ke point pertama sampai ketiga.

Kelima, terkait dengan karir, coba kembali petakan akselerasi yang bisa dilakukan. misalnya, buat yang mau kelar studi, coba dari S1 langsung S3..atau gimana saat kita jadi PNS atau Profesional, kita tidak sekedar menjalankan rutinitas dan aktivitas yang dimaksud. misalnya, ada nilai tambah yang diberikan. nulis, aktif berorganisasi atau membangun komunitas, berwirausaha..kita butuh akselerasi2, agar hidup yang kita jalani lebih hidup.

Keenam, kuasai hal-hal yang belum dipahami. misal, abas sangat suka dengan qualitative research, besok kl ke luar diusahain belajar quantitative. karena yang qualitative akan berkembang dengan sendirinya. tp pertimbangkan juga kemungkinan2 lain, bisa jadi waktunya mendesak. jadi harus fokus.

keenam itu, perlu time frame yang baik dan komitmen. Mimpi besar akan terwujud bila kita bersedia memulainya dari aksi-aksi kecil, pengorbanan-pengorbanan besar, dan berbagai bentuk zona ketidaknyaman lainnya.

Terakhir, pesan buat blogger, mentor itu penting buat orang-orang seusia kita, biar lebih jelas track yang akan dilalui. kalau bisa dari multi profesi dan memang sudah ‘teruji’ (Tentang Mentor, bisa baca tulisan di blog ini yang berjudul, Kepemimpinan Mahasiswa, BEDA!)

InshaAllah, sesudah urusan administrasi untuk wisuda selesai, kami berencana ke Jakarta untuk menemui beberapa mentor sehingga keputusan yang benar-benar dibuat, memang yang terbaik. Aamin yaa Rabb.

2 thoughts on “Mentorship-1

  1. subhanallah
    bisa punya mentor spt pak anis baswedan
    awal mula nya gimana k?

    oya
    Barakallah atas sidang nya kak
    ^^

    1. Berawal saat kakak pertama kali diberi kesempatan menerima beasiswa dari PPSDMS Nurul Fikri. Dalam salah satu programnya, ada sesi diskusi tokoh dengan mengundang beliau. jadilah, saat sesi tanya jawab, kakak mengajukan pertanyaan, waktu itu beliau menyampaikan materi Ruling Elite di Indonesia.

      Jawaban beliau kurang memuaskan, karena waktunya terbatas. Tapi, pemaparan dan tanggapan beliau memberikan inspirasi yang luar biasa.

      Kakak akhirnya menelusuri track record beliau dan mencoba meneladaninya. Alhamdulillah, setelah Momen itu, tanpa disengaja, kakak sering dipertemukan dengan beliau.

      Di sela-sela kesibukan beliau, tak jarang ia menyempatkan diri untuk memberi saran dan sekedar sharing. Yang terpenting, kita harus aktif, karena figur-figur seperti beliau tidak memiliki cukup waktu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s