MENYALAKAN HARAPAN

“Leadership is action, not position”

(Donald H. Mc. Gannon)

Pesan singkat yang sungguh bermakna. Bukan posisi tidak penting, tetapi kepemimpinan banyak berurusan dengan aksi nyata. Apa yang dilakukan dan dikerjakan jauh lebih penting daripada sekedar menjaga jabatan. Jabatan memang membuat kepemimpinan lebih “utuh”, tetapi tanpa jabatan pun seorang pemimpin tak akan kehilangan jiwa kepemimpinannya.

Di negeri ini semakin sulit menemukan pemimpin. Politik pencitraan telah menjadi panglima yang menghegemoni. Sungguh ironis! Karena basa basi ini masih terus mengemuka. Sementara rakyat semakin menderita akibat semakin kompleksnya permasalahan yang dihadapi dan kebutuhan hidup yang harus dipenuhi.

Mereka jenuh, bosan, bahkan emosional karena setiap saat dijadikan korban. Mereka punya banyak pilihan, namun pilihan ini tidak berpeluang membuat mereka lebih baik karena buruknya sistem yang menyertai. Dengan kondisi demikian, sebuah kewajiban bagi seluruh elemen bangsa untuk segera mengupayakan perubahan dan perbaikan. Karena bila terus dibiarkan, sendi-sendi kehidupan bangsa yang sebelumnya sudah berangsur-angsur membaik akan kembali hancur berkeping-keping.

Generasi Emas

Opini Kompas “Peringatan bagi Pemimpin”, yang ditulis oleh Anies Baswedan (25/7), menarik untuk dicermati. Pertama, pesan ini memberi isyarat kuat bagi masyarakat untuk tetap semangat, di tengah ketidaktegasan, penyimpangan, dan lambannya kinerja pemerintah, Kedua, semua harus tetap fokus menuntaskan tanggung jawab, jangan sampai berbagai permasalahan yang hadir dijadikan alasan maupun pembenaran terhadap rendahnya kinerja yang dilakukan.

Peringatan yang coba disampaikan oleh Anies dan konteks kebangsaan yang hadir hari ini dapat dibingkai dalam berbagai aktivitas perbaikan dan perubahan yang lebih produktif. Pilihan paling strategis dan sinergis adalah upaya perbaikan regenerasi kepemimpinan nasional melalui pendidikan keluarga dan sekolah. Bila usaha ini menjadi prioritas dan dijadikan pilar ketahanan bangsa, maka kehadiran generasi emas tinggal menunggu waktunya.

Kalau-lah republik ini belum memiliki pemerintah atau pemimpin yang ideal, maka seluruh orang tua Indonesia diharapkan menjadi garda terdepan dalam mendidik anggota keluarganya. Karena untuk menghadirkan pemimpin yang berkualitas, dibutuhkan dukungan lingkungan yang kondusif agar mereka mampu berintegritas dan berkualitas. Lingkungan yang dimaksud tentu dimulai dan diawali dari keluarga.

Berikutnya, sekolah, yang direpresentasikan oleh guru-guru, diharapkan dapat menjadi pengabdi dan teladan terbaik bagi para anak didik. Karena dari sinilah konfirmasi pendidikan keluarga yang diterima oleh mereka akan berlangsung. Pertanyaan dan jawaban akan hadir silih berganti. Orang tua dan guru akhirnya memiliki peranan penting menjadi referensi. Pengaruh interaksi dari pendidikan keluarga dan sekolah ini diharapkan mampu mengkonstruksi masyarakat untuk lebik baik secara perlahan dan berkelanjutan.

 The Founding Fathers adalah salah satu generasi emas yang lahir dengan kolaborasi kebaikan kedua hal di atas, yakni pendidikan keluarga dan sekolah. Mereka awalnya hanya kumpulan anak-anak muda, namun akhirnya sadar dengan nasib bangsanya. Proses ini lahir karena pendidikan bukan dipahami sekedar transfer ilmu namun juga dibutuhkan pemahaman terhadap nilai-nilai yang selama ini telah menjadi ruh dari realitas keindonesiaan. Sehingga, apa yang mereka cita-citakan tidak berhenti sebatas kesadaran. Mereka kemudian bergerak menghimpun kekuatan mewujudkan imajinasinya (man of idea) menuju aksi nyata (man of action).

Di sinilah letak perbedaan pemimpin dengan yang dipimpin. Mereka tidak hanya berkata karena terus berkarya. Tidak sekedar berwacana namun juga rela mengorbankan harta, keluarga, bahkan nyawanya. Jiwa yang besar ini tidak mungkin lahir dari keraguan-raguan, pragmatisme, dan ‘beban masalah masa lalu’.

Optimisme Kolektif

Indonesia punya Sulawesi Utara atau Solo serta beberapa daerah tingkat 1 dan II, yang sukses. Yang menjadi pertanyaan berikutnya, apa kiat mereka? Kenapa Indonesia sebagai sebuah negara belum bisa melakukannya?

Kesuksesan beberapa daerah di atas terjadi, karena pemimpin-pemimpin yang hadir memiliki visi dan inovasi. Untuk Indonesia,  keduanya belum hadir karena visi tidak didukung dengan inovasi. Pemerintahan hari ini minim terobosan. Langkah-langkah yang dilakukan untuk menghadirkan infrastruktur kebijakan masih terkendala politik dagang sapi partai politik. Akhirnya, visi dan inovasi berdiri sendiri tanpa koordinasi. Dalam titik ini, peran sentral pemimpin dibutuhkan. Namun, kenyataannya?

Pemimpin yang bervisi dan berinovasi secara langsung ataupun tidak memiliki keberanian, baik dalam bersikap maupun bertindak, sehingga, memunculkan kepemimpinan berkarakter. Muaranya rakyat memiliki teladan dan berikutnya, sistem bisa berjalan dengan optimal. Korupsi, kemiskinan, dan kemandirian bangsa dengan sendirinya akan muncul dan lahir tanpa harus ‘merayakan’ 17 Agustus.

Masyarakat membutuhkan mimpi baru tentang masa depan Indonesia. Modal ini didukung oleh sejarah, sumber daya, dan potensi besar lainnya dari bangsa ini untuk tampil menjadi kiblat peradaban dunia.

Harapan harus tetap dinyalakan dan ia dekat dengan keseharian. Bila lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat mampu memastikan hadirnya calon-calon pemimpin bangsa ini, maka tidak ada alasan bagi ‘langit’ dan ‘bumi’ untuk tidak menghendaki kembalinya kebesaran Indonesia.

Bangsa ini harus optimis, jangan sampai kegelapan mengorbankan lilin-lilin yang telah menyala. Kalaulah memang, mereka tak bisa lagi memimpin dan hanya sekedar prihatin, izinkan kami untuk menggantikan*

*Dimuat dalam Portal Indonesia Berprestasi Edisi 31 Juli 2011

2 thoughts on “MENYALAKAN HARAPAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s