MERANTAULAH ANAK MUDA!

Janji Anak Rantau, pertama, ‘Jadi’ Orang, kedua, ‘bawa’ anak orang, ketiga, ‘dikejar-kejar’ orang, dan keempat, diingat orang. ‘Kesuksesan’ anak rantau akan dipertanyakan bila tidak atau belum  melunasi salah satu janji-janji itu
 

Keterbatasan, Kegagalan, dan Perubahan

Sejak kecil kondisi kesehatanku tidak terlalu baik. Sering sakit-sakitan dan ‘sedikit terbelakang’. Untuk yang terakhir, vonis diberikan dokter karena demam tinggi yang kuterima saat masih berumur 5 tahun. Jadilah, daya tangkapku lemah, penglihatan tidak terlalu baik (miopi-hingga sekarang -8 untuk mata kanan, -7,5 mata kiri, dan silindris 0,75), dan kondisi fisik yang kurang prima. Selain itu, sejak kelas 6 SD, Papa sudah wafat.  Mama sebagai kepala keluarga akhirnya harus ke Jakarta untuk tetap menafkahi kami (aku dan adikku).

Kebebasan yang kami terima pasca mama di Jakarta, membuat hidupku cenderung kurang teratur. Misalnya; waktuku lebih banyak untuk bermain daripada serius belajar. Efeknya terbukti ketika aku tidak diterima di kampus manapun baik lewat Ujian Masuk UGM maupun Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB sekarang SNMPTN). Alhamdulillah, untuk Ujian Nasional, Aku dinyatakan lulus walaupun dengan nilai pas-pasan.

Aku beruntung, dalam kondisi seperti ini, peluang untuk berubah masih tetap terbuka. Kuncinya tetap fokus dan serius. Agar berbagai kemungkinan menjadi kenyataan. karena di ‘saat-saat jatuh’, kita larut dalam kesedihan (akibat) dan lupa dengan sebab.

Rasionalisasi inilah yang mendasari setiap aktivitasku sejak dini. Aku terbiasa mempersiapkan berbagai skenario terbaik dan paling buruk agar memiliki banyak pilihan dan mudah menciptakan masa depan. Selain itu berbagai peluang biasanya ‘kukejar sampai ujung’. Dan  karena salah satu cita-cita yang kumiliki adalah melanjutkan pendidikan di jawa kebiasaanku itu pun terealisasi dengan baik. Bagiku Jawa sebuah kemewahan dan jalan menuju perubahan. Jadilah, tawaran apapun kusambut dengan bahagia, bila Jawa rujukannya.  Yang menarik, Sebelum SPMB, aku menerima undangan masuk Diploma Satu (D-1) UGM bekerjasama dengan sebuah institusi swasta yang baru berdiri melalui sekolah. Semua program yang ditawarkan diarahkan untuk langsung bekerja. Tawaran ini awalnya hanya iseng kulanjutkan, karena tak pernah terlintas untuk melaluinya.

‘Kesombongan’ ini terjadi karena  saat SMA, aku sekolah dan berada di kelas unggulan. Belum lagi berbagai les tambahan dan bimbingan belajar kujalani. Nilai-nilai yang kuperoleh tak terlalu mengecewakan, walaupun sebenarnya berada di kelas IPA bukan pilihan. Dengan modal yang kumiliki, kukira aku sudah bisa duduk di PTN impianku[1]. Namun, siapa sangka, modal itu ternyata tak cukup bila kualitas usahaku minimalis.

Malah, keisenganku tadi akhirnya menjadi salah satu tiket dan alasan untuk meninggalkan kota Medan setelah sejak lahir kudiami. Selain karena sudah jenuh dengan keadaan, aku malu dengan orang-orang sekelilingku. Merantau kukira adalah ‘pelarian’ tepat untuk membuktikan kemampuan yang sebenarnya.

Harapan untuk menikmati pendidikan di tanah jawa yang sebelumnya sirna, kini kembali mengemuka. Motivasiku berlipat dan tinggal menyakinkan keluarga besarku. Niatan ini akhirnya resmi kusampaikan, sehari sebelum keberangkatanku ke Yogyakarta. Berbagai respon kuterima, namun, intinya menolak menyetujui keinginanku ini. Termasuk Mama, yang masih setengah hati mengabulkannya. Hal ini memang terkait dengan biaya dan lingkungan di sana[2].

Dengan sedikit memaksa, aku meninggalkan kota Medan tanpa persetujuan. Berikutnya transit selama 1,5 jam di Soekarno-Hatta sekaligus bertemu Mama, yang saat itu masih belum rela melepasku.

‘Daerah Istimewa Sleman’

Tiba di Bandara Adisucipto  sudah senja. Aku bergegas menuju lokasi kosan rekanku di SMA, yang sudah diterima di UGM. Lokasinya tak begitu jauh dari kampus. Alhamdulillah, semua berjalan lancar walaupun gundah hati sesekali meraja ketika mengingat Mama. Aku akhirnya mendaftar di Manajemen Rumah Sakit (program D1)[3] sekaligus kembali mengikuti Bimbingan Belajar.

Keduanya kulakoni bersamaan, pertama, karena fokus tujuanku adalah kuliah S-1, bukan bekerja. Jadi, ini persiapan sebelum kuliah yang sebenarnya. Kedua, agar aku lulus dipilihan pertama, aku harus mengulang semua pelajaran melalui bimbingan belajar. Karena media ini paling tepat menggantikan peran sekolah.

Alhamdulillah, usaha ini dijawab olehNya beberapa waktu kemudian. Melalui UM-UGM, aku diterima di pilihan pertama, yakni Jurusan Politik dan Pemerintahan dan lulus pada pendidikan D-1 dengan nilai memuaskan (cumlaude).

Di luar raihan itu, aku bersyukur karena di lingkungan yang baru, aku diberi kesempatan bertemu orang-orang luar biasa, yang tanpa sadar, ‘menghidupkan diriku’ untuk kedua kalinya. Lingkungan baru ini, menyimpan banyak anak muda multitalenta yang kuyakin di masa mendatang mampu memberi kebaikan bagi dunia. Sleman nama tempat ini. Ia merupakan salah satu dari 4 kabupaten dan 1 Kotamadya yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Namun, bagi hidupku, Sleman adalah daerah istimewa itu. Dari mulai ngekos, hidup di asrama hingga sekarang mengontrak, tempat ini memberiku banyak inspirasi dan motivasi untuk selalu lebih baik.

Melunasi Janji Anak Rantau

Ada banyak cara seseorang dapat berubah atau termotivasi melakukan sesuatu. Bisa karena keinginan pribadi, namun untuk diriku, hal itu biasanya terjadi karena orang lain. Kebiasaan yang kumaksud adalah hasrat untuk lebih baik (baca : berprestasi).

Tak banyak yang tahu, bahwa apa yang kuraih selama ini karena mereka. Mulai dari juara kompetisi nasional, kesempatan terlibat di forum-forum internasional hingga aktivitas yang sekarang intens sedang kukerjakan, yakni menulis.

Awalnya semua itu berlangsung sederhana, sebatas keinginanku untuk terus berkontribusi. Hal ini didorong karena banyaknya jasa yang telah kuterima dari ‘mereka’. Bentuknya apakah berupa ilmu, pengalaman, beasiswa, maupun perhatian.

Semuanya semakin utuh saat aktivitasku semakin intens di organisasi. Kegiatan ini menemani sekaligus banyak membantu hidupku. Karena di tempat ini,  semuanya ‘berusaha untuk saling’. Hidup terasa lebih berarti karena memiliki dan dimiliki.

‘Mereka’ yang kumaksudkan di sini tak lain adalah UGMHood, rekan-rekan organisasi, asrama dan kontrakan, hingga para mentor. Mereka sudah kuanggap seperti saudara, keluarga baru dan telah menjadi ‘rumah kedua’ bagiku. Namun, keberadaan mereka silih berganti seiring berjalannya waktu dan kompleksnya tuntutan hidup.

Dalam doa selalu kupinta, pada fase hidup berikutnya, janji anak rantau segera kupenuhi. ‘Mereka’ yang selama ini datang-pergi silih berganti, kuharap berikutnya akan abadi dalam jiwa dan raga. Menjadi teman setia yang ada bersama diri dan rela berbakti untuk negeri ini. Aamin.


[1] Aku bercita-cita masuk Ilmu Politik UI. Karena lokasinya yang strategis dengan pusat kekuasaan. ‘Untuk mengubah’ setidaknya jadi lebih mudah. Diperjalanan berikutnya, pasca belum terima di kampus manapun di tahun pertama, aku merantau ke Jogja untuk sementara. Walaupun di akhir, menjadi pilihan utama melanjutkan hidupku berikutnya. Aku bersyukur, pilihan ini tepat dan menurutku, rezeki terbaik dariNya.

[2]Keuangan keluarga belum begitu stabil. Karena biaya untuk kuliah tanpa beasiswa masih dirasa cukup tinggi.

Terkait dengan lingkungan,  keluarga terdekat dari pihak mama berada di Solo, sedangkan keluarga Almarhum papa di Surabaya. Jadi, di Yogyakarta, aku benar-benar sendiri. Mama bimbang menerima keputusanku untuk merantau. Belum lagi kondisi Yogyakarta yang saat itu sedang dihebohkan oleh kontroversi riset seorang penulis muda yang menyebut  97,05% mahasiswi di Yogya tidak perawan lagi,  meski metode  teknik samplingnya pernah menjadi polemik tetapi kebenaran jajak pendapatnya tak perlu diragukan. yang menyebut daerah ini surga pergaulan bebas

[3] Mama ingin aku jadi dokter. Pilihan manajemen rumah sakit setidaknya secara tidak langsung bisa memenuhi keinginannya. Walaupun minatku sejak awal tetap di politik

5 thoughts on “MERANTAULAH ANAK MUDA!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s