Mentorship-2

Selama berlebaran di Jakarta , aku berkesempatan bertemu beberapa mentor yang kembali memberi panduan dan pilihan-pilihan untuk menjalani hidup yang lebih baik. Jangan dibayangkan seperti di kelas saat dosen mengajar atau perbincangan serius ala tokoh yang lumrah kita temui.

Menurutku unik namun tetap menarik. Diselingi humor, penuh kehangatan, dan tetap dengan arah pembicaraan yang jelas dan konkrit. Kesempatan pertama aku bersilaturahim bersama Mas Bima Arya Sugiarto (Ketua DPP PAN Bidang Komunikasi Politik dan Dosen Universitas Paramadina) dan rekan-rekan alumni The Next Leader, pada tanggal 5 September 2011.

Waktu ini disepakati setelah merencanakan sejak sebulan lamanya, namun, tidak semua dapat menghadirinya. Perbincangan seru menghiasi mulai dari aktivitas yang sekarang kami lakukan, sampai cerita underground yang merebak dalam kontestasi perpolitikan nasional.

Aku lebih banyak mendengarkan, karena pengalaman yang telah dijalani rekan-rekanku jauh berbeda dan terkadang ekstrem. Mungkin itulah yang menyebabkan,  Jakarta sebagai ibukota dan Yogyakarta tetap istimewa:)

Sebelum pertemuan ditutup, Mas Bima menyampaikan pesan kepada kami, dan bagiku pesan ini cukup bermakna. Beliau mengungkapkan, “kita harus bertemu kembali seperti ini, namun dalam medan kontribusi yang lebih baik”, syaratnya:

  1. Kita serius dan fokus dengan bidang yang ditekuni

  2. Kita sekolah setinggi-tingginya namun dengan target spesifikasi kompetensi

  3. Kita tau posisi diri dan berupaya ‘bersama seseorang’ yang sudah teruji

Menurutnya, memilih salah satu syarat di antara 3 syarat tersebut penting, agar hidup terakselerasi sehingga semakin hidup untuk dijalani. ‘Kita akhirnya menjadi’ (to be) bukan hanya sebatas memiliki (to have). Dalam pertemuan ini juga, para alumni The Next Leader sepakat untuk kembali mengaktivasi account jejaring sosial yang selama ini sempat tak terurus. Di dalamnya akan diulas seputar pengalaman inspiratif rekan-rekan The Next Leader dalam berbagai bidang, beserta tips/tricknya juga. Semoga ini segera terealisasi. Aamin.

 Silaturahim berikutnya, aku ke Universitas Indonesia (6 September 2011) untuk menemui Mas Roby Muhammad. Pertemuanku dengan beliau untuk memastikan rencana melanjutkan sekolah ke Amerika. Sekedar berbagi, Mas Roby adalah salah satu pakar jejaring sosial. Latar belakang pendidikan beliau S1 hingga S2 di Fisika ITB dan S3 di jurusan Sosiologi Columbia University, New York. Saat ini beliau mengajar sebagai dosen psikologi UI. Selama 10 tahun di Amerika beliau sempat bekerja. Yang menarik, istri beliau juga meraih Ph.D dari kampus yang sama.

Menurutku tak banyak pasangan suami-istri yang bisa melakoni hal demikian. Sehingga untukku, butuh role model sepertinya agar keluargaku bisa lebih baik nantinya. Saran beliau untukku sederhana, “tinggallah di New York, persiapkan diri dan keluarga bila serius ingin menjalaninya”. Kenapa New York?

  1. Columbia dan New York University, merupakan salah satu universitas terbaik di Amerika. untuk politik maupun science tidak jarang kedua universitas ini menjadi referensi pengetahuan manusia di seluruh dunia.

  2. Di sana terdapat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Wall Street. Seluruh tokoh dunia sepertinya ‘wajib’ mengunjungi kota ini. Minimal sering-seringlah silaturahim ke Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI).

  3. Selain lewat beasiswa, penghidupan di New York bisa dijalani dengan berbagai pekerjaan beragam diikuti insentif yang menggiurkan. Walaupun buat mahasiswa, jam kerja dan profesi dibatasi.

 Untuk menindaklanjuti pertemuan ini, aku diarahkan mempersiapkan beberapa syarat di antaranya research, TOEFL, GRE, Statistika Dasar, dan beberapa ‘coaching clinic’, agar nantinya benar-benar siap menjalani tes yang ada di sana. Karena diusahakn untuk langsung S3. Menurut beliau, S2 bila majornya sama, ‘buang-buang waktu, tenaga, dan biaya’, buat apa!

 Namun, beliau mempersilahkanku, untuk mempersiapkan rencana S2 lewat mekanisme beasiswa yang lumrah seperti Fullbright, ADS, DAAD, dan sejenisnya, sebagai rencana alternatif. Sebelumnya, sudah ada beberapa tawaran untukku bila ingin melanjutkan studi kembali. Untuk sementara di Turki dan dalam negeri (Universitas Paramadina serta seluruh kampus negeri di Indonesia), semuanya dalam mekanisme full scholarship.

 Aku bersyukur dalam beberapa waktu terakhir diberi banyak kemudahan dariNya. Awalnya memang berat, penuh tantangan, tidak jarang aku ‘babak belur’ karena harus menghadapi ‘pahitnya’ pelajaran Universitas Kehidupan.

Alhamdulillah, saat ini bila mau sekolah, ada tawaran, mau bekerja, ada beberapa lowongan, mau menikah, apalagi..walaupun semuanya harus dijalani dengan apa adanya untuk sementara. Aku berharap, dalam jangka waktu 1-1,5 tahun ke depan, semua rencana ini telah dieksekusi dan diri siap “MENJADI”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s