MENTORSHIP-3

Tak ada yang istimewa malam itu (Jum’at/14 Oktober 2011), aku seperti biasa menunaikan shalat Isya berjama’ah di Mesjid Nurul Islam. Namun, tanpa disengaja, aku dipertemukan dengan saudara seperjuangan, yang dulu pernah bermukim bersama di asrama PPSDMS Nurul Fikri selama 2 tahun lamanya.

Aku memanggilnya Ali..*Aku bisaaa* beliau saat ini sedang menempuh pendidikan magister di Psikologi Klinis UGM. Selain itu, ia sudah berkeluarga dan memiliki seorang putra berumur 14 bulan *Faras nama putra Ali..lihat fotonya di bawah ini blogger, gimana?*

Selesai shalat obrolan pun dimulai tanpa komando,  mungkin karena terlalu lamanya kami sudah tidak bertemu. Ali mulai bercerita seputar aktivitas barunya, yakni sebagai dosen, seorang ayah, suami, dan mahasiswa S2 tentunya. Beliau harus rela ngelaju (istilah lainnya commuter) Yogya-Kalasan sebagai rute sehari-hari. Namun, tak jarang harus sampai Solo, karena sang istri dan si buah hati berada di rumah keluarga. Hal ini dikarenakan aktivitas Ali yang cukup intens berada di Yogya. keluarga kecilnya belum cukup memungkinkan untuk dibawa ke kota pelajar. Jadilah, jarak menjadi ruang yang harus ditaklukkannya setiap hari.

Menarik sekali menyimak cerita dan pengalaman yang ia bagi. Namun, di balik senyum khasnya yang mengembang seperti biasa, aku bisa merasakan betapa besar pengorbanan yang ia lakukan. Aku hanya berfikir dan merenung, bahwa Ali yang kutemui sudah jauh berbeda dengan yang ku kenal sebelumnya *Selamat berjuang Sob!! Semangat selalu…*

Di tengah obrolan kami, seketika motor terparkir di depan mesjid dan bergegas masuk untuk menyapa takmir. Sekilas, aku kenal sosok tersebut, namun, kuacuhkan untuk kembali mendengarkan cerita Ali.

Tak lama kemudian, sosok tersebut menghampiri kami, dan menyapa.

Mas Sakti : Assalamualaikum..kabar Gung? Sehat?

Agung : Alhamdulillah..Mas gimana?

Mas Sakti : Alhamdulillah..

Agung : ada apa mas? Koq buru2?

Mas Sakti : Oo..ngga. tadi cuman bantuin Pak X aja. Yup..ada apa ni? Ngobrol berdua aja..

Agung : ngga Mas, kenalin ini saudara, teman lama dulu, satu asrama di PPSDMS. Namanya Ali

Ali : Gimana kabarnya Mas?

Mas Sakti : Baik. kaya’nya pernah ketemu yaa?

Ali : Hehe…iya Mas, saya adik kelasnya mbak Miftah *istri mas sakti*

Mas Sakti : ooo..yup2.

Ali : Mas masih inget, dulu waktu acara nikahan teman mbak y, pernah ngasi saran. Sarannya, “nikah itu enak..hehe *tawa lebar bersama*

Mas Sakti : oo yaa..masya Allah..

Ali : waktu itu Mas baru dapat momongan *nama anak mas sakti, zahro..perhatikan fotonya:)*

Agung : gimana kabar keluarga mas?

Mas Sakti : Alhamdulillah

Agung : Ali ini dosen psikologi mas, sambil kuliah s2..tadi kita cerita2 soal aktivitas gitu. Beliau juga sudah berkeluarga dan memiliki seorang putra

Mas Sakti : Subhanallah..

Agung : Kalau mbak miftah, sekarang aktivitas apa mas?

Mas Sakti : sekolah juga, beliau ngambil profesi, buat persiapan mendirikan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) di rumah.

Agung : Subhanallah…ngga bole kerja di luar rumah Mas?

Mas Sakti : hehe…bukan ngga bole, tapi, lebih baik di rumah. Karena anak shaleh/a hanya lahir dari ibu yang ‘hadir’.

Agung dan Ali : (Mengangguk) Subhnallah..

Ali : dengerin tu Bas..siap komandan!

Terima Kasih Allah…caramu memberitahu hambamu begitu lembut dan selalu istimewa ^-^

setelah obrolan, akhirnya aku mencari beberapa referensi dan menemukan artikel di bawah ini. Menarik untuk dibaca dan dipraktekkan:)

Hendaklah kalian (para istri) tetap di rumah kalian” (QS. Al-Ahzab:33).

Ahli Tafsir ternama Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini dengan perkataannya: “Maksudnya, hendaklah kalian (para istri) menetapi rumah kalian, dan janganlah keluar kecuali ada kebutuhan. Termasuk diantara kebutuhan yang syar’i adalah keluar rumah untuk shalat di masjid dengan memenuhi syarat-syaratnya” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/409).

Inilah keluarga yang ideal dalam Islam, kepala keluarga sebagai penanggung jawab utama urusan luar rumah, dan ibu sebagai penanggung jawab utama urusan dalam rumah. Sungguh, jika aturan ini benar-benar kita terapkan, dan kita saling memahami tugas masing-masing, niscaya terbangun tatanan masyarakat yang maju dan berimbang dalam bidang moral dan materialnya, tercapai ketentraman lahir batinnya, dan juga teraih kebahagiaan dunia akhiratnya.

Bolehkah wanita bekerja?

Memang bekerja adalah kewajiban seorang suami sebagai kepala rumah tangga, tapi Islam juga tidak melarang wanita untuk bekerja. Wanita boleh bekerja, jika memenuhi syarat-syaratnya dan tidak mengandung hal-hal yang dilarang oleh syari’at.

Syaikh Abdul Aziz Bin Baz mengatakan: “Islam tidak melarang wanita untuk bekerja dan bisnis, karena Alloh jalla wa’ala mensyariatkan dan memerintahkan hambanya untuk bekerja dalam firman-Nya:

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ

Katakanlah (wahai Muhammad), bekerjalah kalian! maka Alloh, Rasul-Nya, dan para mukminin akan melihat pekerjaanmu“  (QS. At-Taubah:105)

Perintah ini mencakup pria dan wanita. Alloh juga mensyariatkan bisnis kepada semua hambanya, Karenanya seluruh manusia diperintah untuk berbisnis, berikhtiar dan bekerja, baik itu pria maupun wanita, Alloh berfirman (yang artinya):

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang tidak benar, akan tetapi hendaklah kalian berdagang atas dasar saling rela diantara kalian” (QS. An-Nisa:29),

Perintah ini berlaku umum, baik pria maupun wanita.

AKAN TETAPI, wajib diperhatikan dalam pelaksanaan pekerjaan dan bisnisnya, hendaklah pelaksanaannya bebas dari hal-hal yang menyebabkan masalah dan kemungkaran. Dalam pekerjaan wanita, harusnya tidak ada ikhtilat (campur) dengan pria dan tidak menimbulkan fitnah. Begitu pula dalam bisnisnya harusnya dalam keadaan tidak mendatangkan fitnah, selalu berusaha memakai hijab syar’i, tertutup, dan menjauh dari sumber-sumber fitnah.

Karena itu, jual beli antara mereka bila dipisahkan dengan pria itu boleh, begitu pula dalam pekerjaan mereka. Yang wanita boleh bekerja sebagai dokter, perawat, dan pengajar khusus untuk wanita, yang pria juga boleh bekerja sebagai dokter dan pengajar khusus untuk pria. Adapun bila wanita menjadi dokter atau perawat untuk pria, sebaliknya pria menjadi dokter atau perawat untuk wanita, maka praktek seperti ini tidak dibolehkan oleh syariat, karena adanya fitnah dan kerusakan di dalamnya.

Bolehnya bekerja, harus dengan syarat tidak membahayakan agama dan kehormatan, baik untuk wanita maupun pria. Pekerjaan wanita harus bebas dari hal-hal yang membahayakan agama dan kehormatannya, serta tidak menyebabkan fitnah dan kerusakan moral pada pria. Begitu pula pekerjaan pria harus tidak menyebabkan fitnah dan kerusakan bagi kaum wanita.

Hendaklah kaum pria dan wanita itu masing-masing bekerja dengan cara yang baik, tidak saling membahayakan antara satu dengan yang lainnya, serta tidak membahayakan masyarakatnya.

Kecuali dalam keadaan darurat, jika situasinya mendesak seorang pria boleh mengurusi wanita, misalnya pria boleh mengobati wanita karena tidak adanya wanita yang bisa mengobatinya, begitu pula sebaliknya. Tentunya dengan tetap berusaha menjauhi sumber-sumber fitnah, seperti menyendiri, membuka aurat, dll yang bisa menimbulkan fitnah. Ini merupakan pengecualian (hanya boleh dilakukan jika keadaannya darurat). (Lihat Majmu’ Fatawa Syaikh Bin Baz, jilid 28, hal: 103-109)

Ada hal-hal yang perlu diperhatikan, jika istri ingin bekerja, diantaranya:

1. Pekerjaannya tidak mengganggu kewajiban utamanya dalam urusan dalam rumah, karena mengurus rumah adalah pekerjaan wajibnya, sedang pekerjaan luarnya bukan kewajiban baginya, dan sesuatu yang wajib tidak boleh dikalahkan oleh sesuatu yang tidak wajib.

2. Harus dengan izin suaminya, karena istri wajib mentaati suaminya.

3. Menerapkan adab-adab islami, seperti: Menjaga pandangan, memakai hijab syar’i, tidak memakai wewangian, tidak melembutkan suaranya kepada pria yang bukan mahrom, dll.

4. Pekerjaannya sesuai dengan tabi’at wanita, seperti: mengajar, dokter, perawat, penulis artikel, buku, dll.

5. Tidak ada ikhtilat di lingkungan kerjanya. Hendaklah ia mencari lingkungan kerja yang khusus wanita, misalnya: Sekolah wanita, perkumpulan wanita, kursus wanita, dll.

6. Hendaklah mencari dulu pekerjaan yang bisa dikerjakan di dalam rumah. Jika tidak ada, baru cari pekerjaan luar rumah yang khusus di kalangan wanita. Jika tidak ada, maka ia tidak boleh cari pekerjaan luar rumah yang campur antara pria dan wanita, kecuali jika keadaannya darurat atau keadaan sangat mendesak sekali, misalnya suami tidak mampu mencukupi kehidupan keluarganya, atau suaminya sakit, dll.

4 thoughts on “MENTORSHIP-3

  1. subhanallah, semoga kita dapat selalu berkumpul dengan orang yang kita cintai di Jannah dunia maupun akhirat, dan senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT.. aamiin

    1. Aamiin yaa Rabbalalamin. Terima kasih arief atas doanya. Semoga kebaikan ini selalu melingkupi diri kita agar istiqomah meraih ridhoNya dan terus bermanfaat untuk umatNya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s