“ON AIR”

Materi ini biasa disampaikan saat aku diberi amanah oleh panitia untuk membawakan tema terkait Public Speaking. Semoga bermanfaat.

Sebelum membawakannya, biasanya aku merekomendasikan beberapa buku dan film di bawah ini kepada peserta :

  1. Seni Berbicara oleh Larry King, penerbit Gramedia Pustaka Utama
  2. The Power of Public Speaking dari Charles Bonar Sirait, penerbit Gramedia Pustaka Utama
  3. Film The King’s Speech atau The Great Debaters

Terkait dengan substansi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat ingin merencanakan diri menjadi seorang Public Speaker, berikut tips and triknya :

a. MEMETAKAN AKSES UNTUK BICARA DAN MEMPERLUAS KESEMPATAN BERBICARA (How to action)

–  Kuliah : Presentasi, Partisipasi di Kelas, Berdiskusi

–  Organisasi : Kepanitiaan, Demonstrasi, Pembicara, Moderator, Berdiskusi, Rapat

–  Mengikuti Perlombaan / Konferensi : Debat, Karya Tulis, Reality Show,

Penting bagi seorang mahasiswa memanfaatkan setiap akses di atas agar kemampuannya berbicara dapat terasah dengan maksimal. Sama seperti halnya dengan menulis, maka seorang pembicara yang baik, adalah seorang yang terus berlatih untuk bicara. Jadi kalau ditanya, apa tips terbaik menjadi pembicara, jawabnya sederhana, BICARA! BICARA! BICARA! Selain itu, sebenarnya ruang-ruang pribadi (privat) juga bisa dimanfaatkan untuk melatih diri berbicara, seperti saat bercermin, ketika berkendara, atau saat-saat di mana kita sedang menyendiri.

Pun ketika tidak lagi menjadi mahasiswa, ruang-ruang bagi seorang public speaker untuk berekspresi tidak jauh berbeda, tergantung pemetaan konteks yang nantinya dihadapi. Karena di organisasi profesional/swasta sekalipun, media-media di atas relatif lebih luas, tergantung performa dan kualitas pekerjaan yang dihasilkan.

b. MEMPERSIAPKAN DIRI

–   Mind : Wawasan

Inti gagasan yang ditawarkan harus jelas dan tegas. Karena ini adalah sensasi pertama yang akan memberi tiket masuk untuk fase berikutnya. Bila mengambang dan bias maka dikhawatirkan para pendengar kurang merespon pesan yang akan disampaikan.

–   Mapping : Masalah dan Solusi

Presentasi yang baik mampu menghadirkan semangat atau ruh yang menggerakkan rasa keingintahuan pendengar. Walaupun tetap mengutamakan dimensi proporsionalita dan profesionalitas. Artinya, ia memang memiliki kompentensi dan pengalaman yang sudah teruji dan terbukti. Ekspresi bukan tidak boleh, namun konteksnya ada. Biasanya di akhir atau disela presentasi.

–  Me : Emosi, Karakter, Sikap,

Ini penting, seorang public speaker harus menjadi dirinya, walaupun pada saat yang sama, ia sedang memodifikasi figur yang menjadi role model-nya

c.  MENCARI DUPLIKASI DAN MEMODIFIKASI MENJADI DIRI SENDIRI

Tokoh publik yang memiliki kompetensi dan pengalaman di bidang ini cukup membantu dalam proses belajar menjadi seorang public speaker. Setidaknya, imajinasi diri untuk sementara dipermudah agar sampai pada satu tujuan. Setelah itu, ia akan berproses untuk menyesuaikan diri dengan pribadi dan konteks yang dihadapi. Karena menjadi seorang Sukarno atau Obama, bukan pada tempatnya, akan membuat kerancuan suasana dan ketidaknyaman bagi pendengar.

d. BERAKSI

Saat menghadapi hari-H, perlu diperhatikan hal-hal di bawah ini, agar penampilan optimal.

  1. Survei, wajib melakukan survei tentang audiens, mengenai SES (social economic status) audience, mulai dari latar belakang pekerjaannya, usia, jenis kelamin, agama, dll. Hal ini bisa dilakukan via Term of Reference (TOR) yang diberikan panitia atau ngobrol dengan panitia sebelum acara.
  2. Penampilan, pastikan penampilan dari ujung rambut dan kaki relevan dengan acara, pendengar, dan corak budaya yang ada
  3. Berbicara yang efektif & efisien, menggunakan kata yang sederhana dan istilah populer
  4. Ritme bicara, kekuatan intonasi, dan kejernihan artikulasi jelas dan rileks. Karena semakin terburu-buru, akan menunjukkan kekurangan. Dinikmati proses dan suasana yang hadir.
  5. Penguasaan panggung yang sempurna. Sesekali boleh berjalan, bahkan mengelilingi area, agar pendengar ‘lebih dekat’ dan ‘lebih hidup’ menerima materi dan kehadiran kita
  6. Body Language, lebih ke ekspresi dan gerak tubuh yang sinkron dengan materi yang dibawakan. Hal ini dilakukan agar pendengar lebih jelas memahami materi dan pesan yang disampaikan.
  7. Eye Contact, empati yang dihadirkan pembicara kepada pendengar sangat penting. Paling efektif bisa diwujudkan lewat kontak mata. Cara ini bisa mempermudah pembicara menerima respon (feedback) terhadap materi yang disampaikan.
  8. Partisipatif dan emansipatorik, tak ada salahnya melempar pernyataan dan pertanyaan kepada peserta untuk mencairkan susasana dan menjadikan forum sebagai media sharing
  9. Humor, untuk membuat peserta tertawa di sebuah acara formal tidak mudah. Namun, tidak sulit, asal dilakukan apa adanya, relevan dengan konteks keseharian mereka. Humor menjadi penting, agar peserta semakin nyaman menerima materi dan lebih hidup memahaminya
  10. Presentasi audio-visual bila dibutuhkan
  11. Handouts

 

 

3 thoughts on ““ON AIR”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s