“Menjadi yang TERBAIK”

“Kita ada, untuk mengubah apa yang selalu setia dikatakan dunia”

Motto hidup inilah yang selalu saya pegang ketika berinteraksi dengan beragam realitas. Optimisme, semangat, kerja keras, dan keyakinan yang tinggi senantiasa hadir menemani bila mengingat ungkapan di atas. Tidak ada pilihan selain menjadi yang terbaik untuk memastikan bahwa kehadiran kita selalu menjadi inspirasi dan mampu memberikan manfaat bagi siapapun.

Kenyataan ini semakin diperkuat oleh hadirnya Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis (PPSDMS) Nurul Fikri yang hadir di tahun kedua aktivitas saya di kampus. Selama dua tahun tempaan di asrama, diri semakin sadar bahwa selama ini belum banyak berkontribusi dan berprestasi bagi umat. Dua tahun kehidupan di asrama amat berarti, selain menunjang kematangan diri sebagai manusia, saya bersyukur dapat menikmati interaksi dengan putra-putra terbaik negeri ini. Rasa bangga dan kagum sering menghampiri, menyaksikan mereka meraih pengakuan dan apresiasi positif dari publik. Dan tidak ada yang berubah dari itu, saat sekarang pun setelah menjadi alumni, kami sepertinya tetap ‘terkondisikan’ untuk konsisten. Ada rasa malu dan sedih saat tubuh dan jiwa ini tidak lagi mampu memberikan apa-apa bagi umat.

Kehidupan di Asrama sebagai peserta memberi banyak inspirasi setelah memasuki fase alumni. Saya percaya, untuk membuat hidup ini menjadi berbeda dan luar biasa kita perlu mempersiapkan banyak hal. Beberapa di antaranya ternyata sudah dilakukan melalui sistem kurikulum dan metode pembelajaran di PPSDMS NF.

Pertama, perlunya peta hidup. Ibarat sebuah tujuan, hidup ini membutuhkan banyak petunjuk, arah, dan tanda agar kita tidak tersesat. Kebiasaan menggunakan peta hidup dalam menjalani berbagai aktivitas harian, bulanan, tahunan, 5, atau 20 tahun sekalipun membuat kita tetap fokus dan maksimal menjalani hidup. Orang yang punya tujuan, akan mengerti ke mana arah ia berjalan walaupun  di dalam perjalanan, ia menghadapi berbagai tantangan.

Kedua, kita perlu mentor atau pembimbing. Artinya, orang-orang seperti ini dibutuhkan untuk membantu kita berkomitmen sampai di tujuan. Mereka sudah tentu harus lebih baik dan memiliki kualitas serta kapasitas yang diakui oleh publik. Diharapkan tidak hanya 1, 2, 5, atau 10 saja, makin banyak mentor yang mendampingi kita dari beragam perspektif (militer, entrepeuner, politisi, akademisi, birokrat, dsb) akan membuat hidup ini lebih aktual dan substansial.

Ketiga, lingkungan. Penting sekali untuk menjaga aura dan keberlanjutan efek asrama (pasca alumni), dengan mendesain lingkungan yang kondusif.

Perumpamaan teman yang shalih dengan yang buruk itu seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Berteman dengan penjual minyak wangi akan membuatmu harum karena kamubisa membeli minyak wangi darinya atau sekurang-kurangnya mencium ban wanginya. Sementara berteman dengan pandai besi akan membakar badan dan bajumu atau kamu hanya akan mendapatkan bau tidak sedap“. (HR. Bukhari & Muslim)

Hari ini Anda adalah orang yang sama dengan Anda di lima tahun mendatang, kecuali dua hal: orang-orang di sekeliling Anda dan buku-buku yang Anda baca

(Charles “Tremendeous” Jones)

Saat ini, saya diberi kesempatan mengontrak sebuah rumah Guru Besar UGM, Bapak Sejarah Indonesia, (Alm) Prof. Sartono Kartodirjo bersama rekan-rekan alumni dan mahasiswa lainnya. Imajinasi kami saat mendirikan kontrakan ini di Agustus 2008 sederhana, yakni terbentuknya lingkungan yang kondusif. Namun, dalam perjalanannya, Kontrakan Jong Wiratama 3 (JW3) bukan sekedar tempat tinggal. Karena di kontrakan ini menguat kesadaran tentang masa depan, harapan, cita-cita bersama sebagai anak bangsa dan manusia Indonesia.

(Kalau blogger mau tau lebih jauh tentang kontrakan Jong Wiratama 3 Silahkan langsung ke TKP –>https://smartgeneration.wordpress.com/2011/05/27/kontrakan-jong-wiratama-3-bagian-pertama/ & https://smartgeneration.wordpress.com/2011/05/27/kontrakan-jw3-bagian-kedua-tamat/)

Awalnya biasa, namun bagi sebagian orang ini berbeda. Karena orang-orang yang berada di dalam kontrakan ini cukup aktif dan konsisten berpartisipasi dan berprestasi dalam berbagai kegiatan baik di level nasional maupun internasional. Ketika fase ini telah dilewati, bayangan untuk menginstitusionalisasi secara lebih baik pun menguat. Hal ini diinspirasi dari kos-kosan ala Tjokroaminoto di Gang Peneleh 31 Surabaya dengan penghuninya Alimin, Kartosuwiryo, Muso, Sukarno hingga Semaoen, atau Asrama Menteng 31 Jakarta dengan Chairul Saleh, Sukami, A.M. Hanafi, Ismail Widjaya, Aidit, Lukman, dan Sjamsuddin Can.

Tempat-tempat di atas, sejak awal  memang didesain untuk menghadirkan amunisi ‘aksi’ bagi para penghuninya, karena kegiatannya didominasi oleh ceramah dan diskusi politik, ekonomi, hukum, sosial, filsafat, agama,dan sejarah. The Fouding Fathers tercatat intens terlibat sebagai penceramah sekaligus mentor mereka. Dengan konteks ini, sebenarnya kampus dan organisasi mahasiswa cukup terbantu bila kos-kosan, asrama, dan kontrakan sejak awal memang dikondisikan untuk meminimalisir efek disproporsionalitas iklim akademik di kampus dan kurang jelasnya format kaderisasi di organisasi kemahasiswaan.

Keempat, Media. Kemampuan bersinergi dengan media (baik cetak maupun elektronik) hingga jejaring sosial, akan membuat publik paham maksud dari ‘Idealisme Kami’ yang ditawarkan. Oleh karenanya, intensitas interaksi ini penting, untuk menjamin keberlanjutan efek dari kontribusi yang sudah dilakukan.

Perlu dipahami bahwa keterlibatan media yang dirancang di sini memastikan agar diri mampu menghasilkan berbagai masterpiece. Sebagaimana Rasulullah mendapat gelar Al-Amin, Leonardo da Vinci menghasilkan Monalisa, atau Teori Relativitas dihasilkan oleh Einstein, masterpiece di sini adalah karya spektakuler yang mampu memberikan manfaat dan menginspirasi orang-orang untuk melakukan hal yang sama bahkan lebih.

Dengan kondisi demikian, media baik disengaja ataupun tidak, tak punya pilihan, selain ‘membantu’ memperjuangkannya. Pencitraan dalam konteks ini jelas, karena basisnya manfaat. Bukan sekedar wacana tanpa karya yang akhirnya berujung semu.

Peta Hidup, Mentor, Lingkungan, dan Media, merupakan empat modal penting, agar diri ini terus lebih baik dan siap menjadi yang terbaik.

*tulisan ini revisi dari judul awal yang pernah dipublish di blog ini pada 7 Juli 2009 dan dimuat dalam alumni handbook PPSDMS Nurul Fikri 2010, yakni “Apa yang Sudah Kita Lakukan untuk Umat”?

2 thoughts on ““Menjadi yang TERBAIK”

  1. Subhanallah, tidak menyangka… Semoga Allah mudahkan untuk semakin sukses luar biasa, dunia akhirat. Tetap semangat untuk kian mendahsyat…!

    Mohon maaf, pemanfaatan media untuk pengembangan pribadi dalam contoh yang sederhana mestinya bagaimana? Menulis atau seperti apa saja?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s