Peluang dan Tantangan Gerakan Mahasiswa

Hiruk pikuk politik terus melanda. Di negeri ini hukum hanya mampu tegak dihadapan jelata dan tumpul di depan penguasa. Pertumbuhan ekonomi secara kuantitas terus meningkat, namun, kualitasnya belum mampu mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran.

Keresahan dan kesenjangan sosial mulai terjadi di mana-mana. Buruh, petani, dan rakyat miskin semakin sering turun ke jalan. Kondisi ini sebenarnya tak mungkin terjadi, bila pemimpin di negeri ini baik di level pusat maupun daerah bersama rakyat.

Absennya figur pemimpin ini akhirnya menimbulkan berbagai ekstrimitas dan kompleksitas. Contoh ini terbukti bila mencermati berbagai kasus hukum yang tak kunjung tuntas seperti; Century, Mafia Pajak, Cek Pelawat, hingga Wisma Atlet.

Tahun 2012 sebenarnya adalah tahun penuh harapan dan tantangan bagi pemerintah agar lebih baik. Upaya ini akan berjalan sinergis bila gerakan mahasiswa mampu pula mengoptimalkan peran-peran strategisnya sebagai agen perubahan, kekuatan moral, dan generasi penerus. Apalagi hal ini didukung oleh keterbukaan informasi dan kemajuan teknologi.

Namun, peluang di atas sepertinya belum mampu dibaca dengan baik oleh keduanya, baik pemerintah maupun gerakan mahasiswa. Akhirnya, negeri ini masih terus terbawa ‘berita Jakarta’ dibanding agenda Indonesia. Penulis menilai terdapat berbagai peluang dan tantangan yang dimiliki khususnya bagi gerakan mahasiswa.

Peluang

Terpilihnya Presiden SBY secara mutlak di periode kedua masa kepemimpinannya diikuti juga oleh dukungan koalisi mayoritas partai-partai yang duduk di parlemen. Dengan kondisi demikian, presiden sebenarnya memiliki modal untuk menjalankan roda pemerintahan secara efektif.

Akan tetapi, ini hanya relevan secara konseptual, karena pada prakteknya, presiden banyak tersandera oleh mitra koalisi. Lahirnya Sekretariat Gabungan (Setgab) menjadi awal dari mandulnya penegakan hukum di tanah air dan sinyal untuk melanggengkan pemerintahan sampai 2014.

Stabilitas yang diagungkan menyebabkan negara menjadi kurang substansial. Sehingga diperlukan alternatif, agar para penyelenggara tetap profesional.

Konteks di atas seharusnya dibaca sebagai momentum oleh gerakan mahasiswa agar kembali menegaskan posisinya, pertama, sikap oposisi yang menjadi langgam gerakan mahasiswa perlu dikuatkan dan di tempatkan secara proporsional, bukan hanya sekedar tolak, lawan, dan ‘bakar’! Gerakan mahasiswa harus tampil elegan dan mencerdaskan karena basis gerakan ini dibangun berdasarkan data dan fakta.

Bentuk implementasinya, bisa secara diplomatif maupun konfrontatif. Tergantung respon dan komitmen pemerintah. Bahkan kolaborasi strategi aksi ini cukup terbuka dilakukan mengingat lambatnya kinerja pemerintah.

Dalam dimensi yang lain, gerakan mahasiswa juga dapat diarahkan dan diharapkan mampu memberikan solusi praktis. Wacana yang dibangun harus bersamaan dengan karya, sebagai bukti bahwa gerakan mahasiswa utuh mengemban tanggung jawab sosialnya. Walaupun pada tahap realisasinya, akan banyak keterbatasan yang melingkupi. Intinya, masyarakat ingin merasakan dan sangat membutuhkan bentuk konkrit kepedulian, kecerdasan, dan jaringan vertikal yang dimiliki gerakan mahasiswa.

Kedua, prioritas isu atau masalah yang disikapi menjadi penting, agar gerakan mahasiswa bergerak secara produktif. Antikorupsi bisa menjadi agenda kerja utama untuk segera dituntaskan melalui pengawalan kasus-kasus besar yang terjadi baik di level pusat maupun daerah, sehingga, mampu menegakkan kembali supremasi hukum di negeri ini. Pilihan ini cukup logis karena kebencian publik semakin menjadi dan dalam momentum tertentu akan mencapai klimaks sebagaimana pernah terjadi pada kasus kriminalisasi Bibit-Chandra dan Cicak vs Buaya. Selain hal itu, perlu juga diupayakan desain (rancang bangun) gerakan mahasiswa secara komprehensip-periodik, agar gerakan tidak sekedar bergerak emosional dan kembali konsisten menciptakan sejarah.

Ketiga, gerakan mahasiswa hari ini didukung oleh media. Dukungan media yang dimaksud hadir lewat jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter. Pengguna Facebook di Indonesia sekitar 45 juta orang (2010), jumlah ini merupakan terbesar kedua di dunia setelah Amerika. Sedangkan pengguna Twitter sekitar 5,6 juta orang (2011) dan menduduki peringkat pertama di Asia.

Jumlah pengguna jejaring sosial yang besar ini, didominasi oleh anak-anak muda dan kelas menengah terdidik. Bila ini dikelola dengan baik oleh gerakan mahasiswa, maka hasilnya akan luar biasa, seperti yang pernah terjadi di Tunisia, Mesir, Libya, Yaman, dan Suriah.

Tantangan

Di samping memiliki 3 peluang, gerakan mahasiswa juga memiliki 3 tantangan di tahun 2012, yakni, mulai melemahnya konsolidasi gerakan mahasiswa, semakin menurunnya kualitas massa yang menggerakkan gerakan mahasiswa, dan minimnya kontrribusi gerakan mahasiswa di masyarakat.

Pertama, melemahnya konsolidasi gerakan mahasiswa (baik lembaga ekstra kampus, intra kampus, dan antara keduanya) disebabkan belum adanya kesamaan platform gerak di ranah praksis. Terkait isu dan problem yang disikapi bila mengusung tema kesejahteraan rakyat, maka gerakan mahasiswa selalu bersatu. Namun, saat ini dioperasionalisasikan dalam bentuk konkrit, cara-caranya sering menjadi awal perpecahan. Pilihan diplomasi dan konfrontasi saat ini lebih didominasi pada aksi-aksi anarkisme atau ‘aksi jual-beli” idealisme. Konsolidasi gerakan mahasiswa secara intens perlu dilakukan untuk meminimalisir hal semacam ini sekaligus mengembalikan citra gerakan mahasiswa yang semakin terpuruk di mata masyarakat.

Kedua, menurunya kualitas massa yang menggerakkan gerakan mahasiswa terjadi karena menurunnya aktivitas literasi. Budaya baca, diskusi, tulis, dan riset kini hanya dimiliki oleh segelintir mahasiswa dan terkadang dianggap tabu. Gerakan mahasiswa juga lebih fokus memperbanyak massa, namun, lupa bagaimana mengelolanya. Akhirnya, sudah kurang strategis, tidak menarik pula. Kuantitas tidak diperoleh, kualitas apalagi. Tidak jarang, mereka yang bergerak pun hanya sekedar mencari eksistensi dan sensasi.

Ketiga, minimnya kontribusi gerakan mahasiswa di masyarakat disebabkan tarikan rutinitas akademik yang tinggi dan kompleksnya masalah yang dihadapi negeri ini. Pemberdayaan masyarakat dan komunitas lewat advokasi dan aksi sosial yang dahulu menjadi simpul massa, kini sudah jarang dilirik. Gerakan mahasiswa asik sendiri dan ketika bersuara hanya mewakili dirinya.

Masa Depan

Gerakan mahasiswa masih memiliki masa depan yang menjanjikan, bila gerakan mahasiswa, pertama, mampu mengkonsolidasikan diri secara intens untuk meminimalisir aksi-aksi anarkisme dan kesalahpahaman antar gerakan mahasiswa. Konsolidasi intens ini menjadi penting, untuk memperbanyak cara-cara perjuangan yang efektif sekaligus memperbaiki citra gerakan mahasiswa yang semakin terpuruk di mata publik. Kedua, menguatkan budaya literasi melalui kemasan-kemasan kegiatan yang populer dan adaptif dengan perubahan zaman. Diskusi tak harus di kampus atau di sekretariat, ruang-ruang publik lain seperti cafe, mall, atau lewat dunia jejaring sosial via Facebook dan Twitter bisa dilakukan. Kaderisasi organisasi juga perlu diperhatikan, agar yang masuk dan terlibat bisa memahami esensi keikutsertaannya. Ketiga, untuk menuntaskan masalah-masalah yang terjadi di masyarakat yang kompleks, di tengah dilematis tanggung jawab yang dimiliki mahasiswa dan gerakannya, kerjasama lintas institusi harus didesain sejak awal agar pendampingan yang dilakukan berkelanjutan dan mampu mencabut akar permasalahan yang sebenarnya.

Keberhasilan gerakan mahasiswa di masa lalu, terjadi karena pemahaman atas keterbatasan dan kekuatan yang dimiliki. Gerakan mahasiswa hari ini dan di masa mendatang perlu diingatkan, bahwa mereka memiliki keduanya bukan hanya salah satunya. Jaya Indonesia!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s