Menimbang Para Kepala Daerah Berprestasi

Krisis kepemimpinan nasional yang sering diarahkan melalui wacana minimnya figur marak menghiasi media. Realitas ini relevan, bila publik hanya melihat paket pemimpin dari interaksi panggung politik nasional di Jakarta. Padahal bila mencermati lebih jauh, maka akan ditemukan berbagai kiprah yang tak jauh berbeda dari Joko Widodo (Jokowi) di ibukota misalnya. Mereka adalah figur lokal berkualitas nasional yang cukup sukses memimpin daerah dengan gagasan brilian, penuh integritas, dan dedikasi tinggi. Mulai dari sosok Tri Rismaharini (PDIP), Syahrul Yasin Limpo (Golkar), Basuki Purnama Tjahaja alias Ahok (Gerindra), Sinyo Harry Sarundajang (Partai Demokrat), Ahmad Heryawan atau Aher (PKS), dan Isran Noor (PPP).

Nama-nama ini muncul bukan hanya karena rekam jejak kepemimpinan publiknya di daerah, namun, di tingkatan elit mereka telah masuk dalam radar politik nasional. Beberapa di antaranya malah sedang ikut berkontestasi, seperti, Sinyo Sarundajang dalam Konvensi Demokrat atau Isran Noor yang masuk dalam bursa hasil rekomendasi Mukernas PPP dan menjadi peserta Konvensi Rakyat. Sementara, Jokowi-Ahok-Tri Risma, intens mendapatkan pemberitaan media karena kinerja maupun intrik yang turut menyertainya, sehingga, tak sulit memperoleh perhatian dari publik dan Parpol masing-masing. Ditambah keberhasilan Aher masuk tiga besar dalam Pemira PKS serta kehadiran Syahrul, yang memastikan bahwa partai berlambang beringin tak pernah kehabisan stok berkualitas figur dari timur.

Kehadiran daerah menjadi penting dalam konstelasi politik nasional, mengingat perubahan sistem politik setelah reformasi meniscayakan terjadinya desentralisasi otoritas dan administratif dalam pengelolaan daerah. Selama ini, eksplorasi publik secara luas tak banyak memberikan tempat bagi kepala-kepala daerah yang potensial untuk lebih jauh berkiprah di pentas nasional. Padahal di ranah global, seperti di Amerika Serikat, Iran, Nigeria, Uruguay dan Korea Selatan, realitas ini bukan hal baru. Bahkan di negara-negara persemakmuran (commonwealth), bekas jajahan Inggris Raya, seperti Australia, Jamaika, Malta, Sierra Leone, Selandia Baru, Barbados, Kanada, Trinidad-Tobago—terdapat jabatan gubernur jenderal yang diangkat dan mewakili Ratu Inggris. Bila menilik sejarah pun sebenarnya, saat pra-kemerdekaan negeri ini juga dipimpin oleh seorang gubernur jenderal yang mewakili Ratu Belanda.

Satu hal yang paling penting dalam memunculkan kepala daerah sebagai figur alternatif adalah kapasitas eksekutif yang dimiliki berdasarkan pengalaman di daerah. Bentuk keberhasilan melalui beberapa kebijakan dan keputusan yang akhirnya berbuah prestasi adalah eksperimentasi jabatan eksekutif paling riil dalam mengelola negara di level mikro. Selain itu, partisipasi para kepala daerah ini dapat pula menguatkan tenun ke-Indonesia-an kita, karena kehadiran mereka dapat mengobyektifikasi perspektif anak bangsa dalam mengelola negeri.

Partai sebagai tempat para kepala daerah berprestasi ini bernaung, sebaiknya mulai memikirkan dan mengarahkan level kepemimpinan yang lebih strategis kepada mereka, agar rakyat luas dapat merasakan manfaat yang lebih besar. Apa yang mereka miliki bagi Katz (1955) dalam sebuah artikel klasik Harvard Bussiness Review bertajuk “Skills of an Effective Administrator”, merupakan penerjemahan dari tiga keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, yakni keterampilan teknis, keterampilan manusia, dan keterampilan konseptual. Keterampilan teknis merujuk pada keahlian atau kompetensi (Mumford, Zaccaro, Harding, et al., 2000). Sedangkan keterampilan manusia adalah kemampuan untuk bekerja sama, dan keterampilan konseptual adalah kemampuan untuk bekerja dengan ide dan konsep. Ketiga keterampilan ini dapat ditelusuri secara mudah melalui rekam jejak (track record) kepemimpinan para kepala daerah. Mereka bukan sekedar pemimpin layar kaca yang siap memerintah dari balik meja, karena, setiap saat siap turun tangan (baca: blusukan atau incognito). Di satu sisi, mereka merupakan figur solidarity maker seperti Sukarno, namun, pada waktu yang lain, tidak bermasalah bila dituntut menjadi administrator ulung layaknya sosok Hatta. Dalam konteks inilah para kepala daerah relevan sebagai kepala negara alternatif. Karena hadir melalui sebentuk seleksi terukur jenjang birokrasi yang meritokratis atau proses politik yang cukup lentur namun kompetitif.

Ketika Pemilu akan digelar, perhatian publik pada akhirnya selalu tersita kepada figur (Pemilihan Presiden), dibanding partai (Pemilu Legislatif). Bila masuk dalam logika ini, maka Pemilu 2014 akan diwarnai oleh ketidakpastian karena belum adanya calon presiden yang dominan, sebagaimana elektabilitas Presiden Yudhoyono jelang Pemilu 2004 dan 2009 yang lalu. Padahal, sudah seharusnya, strategi partai dalam menyikapi Pemilu Presiden (Pilpres) tidak hanya ditentukan oleh raihan suara di Pileg, namun juga visi dan gagasan para Capres-Cawapres yang dijagokan. Belum adanya kandidat presiden terkuat, semakin memastikan bahwa publik sebenarnya masih menanti calon-calon lainnya. Calon-calon lainnya ini merupakan figur baru yang memiliki semangat perubahan (Poltracking, 2013), yang ditandai oleh tanpa adanya beban masa lalu dan minim dosa politik. Inilah yang berikutnya dapat menjelaskan mengapa Jokowi melesat sebagai calon kepala negara alternatif maupun para kepala daerah lainnya. Mereka solusi bagi elit (high politics) di tengah krisis kader dan relevan dengan aspirasi masyarakat tingkat bawah (lower politics) yang menginginkan perubahan substansial. Bila partai jeli membaca ini, maka harapan merebut suara secara maksimal sekaligus dapat menggenggam hati rakyat dapat dilakukan. Bak kata pepatah, sekali mengayuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.

http://koran.tempo.co/konten/2014/03/04/336282/Menimbang-Para-Kepala-Daerah-Berprestasi

One thought on “Menimbang Para Kepala Daerah Berprestasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s