Ingar-Bingar Golkar

3154122_logokorantempo

Setelah lama berkutat dalam kontestasi Pilpres kemarin, dinamika internal Golkar kembali memanas dengan pertarungan elitnya menyoal Munas yang harus segera digelar Oktober 2014 (sesuai AD/ART) atau tetap pada April 2015 (rekomendasi Munas 2009) untuk memilih Ketua Umum maupun secara tersirat ingin terlibat dalam dinamika pemerintahan yang baru. Berbeda dengan PDIP maupun Demokrat, yang cukup membaca Megawati atau SBY, dalam memahami Golkar, publik harus masuk ke dalam sebuah faksi dan pertarungannya dengan faksi-faksi lain. Dalam kajian ilmu politik, faksi merupakan salah satu alasan utama hadirnya partai, sehingga, eksistensi dan dinamika faksi menjadi hal wajar. Kehadiran faksi mengemuka, utamanya disebabkan dua kondisi, yakni; (1) Pemilu Presiden dan (2) Pemilihan Ketua Umum Partai.

Pertama, jamak diketahui publik bahwa jauh sebelum Pemilu Presiden (Pilpres) terselenggara, Aburizal Bakrie (ARB) gagal meraih elektabilitas tertinggi setelah dalam banyak survei dikalahkan oleh Jokowi dan Prabowo. Sempat menjadi polemik, ARB kemudian berhasil untuk sementara waktu mengondisikan partai, walaupun pada akhirnya, ia gagal maju sebagai calon presiden, wakil presiden, menteri utama, dan memenangkan Golkar dalam Pileg. Problem ini sempat muncul kembali dan dapat teratasi dengan sikap Golkar yang masuk ke dalam koalisi merah putih untuk mendukung Prabowo-Hatta. Namun, lagi-lagi, ARB gagal untuk memenangkan pasangan nomor urut 1 ini.

Kedua, keberlanjutan efek gagal dari fase sebelum, selama, dan sesudah Pemilu ini, berakibat sistemik bagi pengaruh ARB sebagai Ketua Umum (Ketum), maupun kans dirinya untuk memberikan pengaruh besar bagi Golkar di fase berikutnya, baik pada Munas maupun setelah Munas nanti digelar. Sampai saat ini, tercatat secara resmi dua nama muncul, yakni Agung Laksono (AL) dan MS. Hidayat (MSH). Kemunculan nama AL (walaupun saat ini sudah dinonaktifkan), secara masif didukung pula oleh nama besar Fahmi Idris yang ditunjuk sebagai Ketua Tim Pemenangan, yang tak lain bagian terdalam dari faksi Jusuf Kalla (JK).

Dinamik AntarFaksi

Ingar-Bingar Golkar

            Faksionalisasi di tubuh Golkar menjadi santapan publik mulai sejak sebelum Pilpres sebagai clique faction. Dalam hal ini, ada tiga bentuk faksionalisasi di dalam partai (Belloni & Beller, 1978), yaitu clique faction, personal atau client-group faction, dan institutionalized atau organized faction. Clique faction adalah faksi yang tidak terkonsolidasi, sehingga sifatnya cenderung parsial dan temporal. Sementara personal atau client-group faction adalah faksi yang terkonsolidasi dengan adanya tokoh sentral di dalamnya sehingga berdurasi lama sampai terjadi kompromi antarpemimpin faksi. Sedangkan institutionalized atau organized faction adalah faksi di dalam partai politik yang sudah terlembagakan, sehingga eksistensi faksi berlaku dan diatur secara yuridis di dalam internal partai.

Sebelum Pilpres, sebenarnya Golkar dihadapkan dengan problem faksionalisme akut antara ARB, JK, dan Akbar Tandjung (AT). Faksionalisasi yang terbentuk menguat di latarbelakangi tidak terpenuhi targetan strategis  Golkar dalam Pemilu kemarin. Bila ARB memegang otoritas struktural sebagai Ketua Umum dan memiliki pengaruh kuat di barisan DPD Tingkat Propinsi, maka, JK yang pernah sebagai Ketua Umum masih dianggap berpengaruh secara kultural. Sementara, AT dengan kapasitas sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Partai maupun ‘Mahaguru’, dihormati di DPD Tingkat II serta kader-kader muda, karena peran pentingnya membesarkan Golkar pascareformasi. Namun, setelah Pileg tuntas dan AT tidak dilirik Kubu Jokowi, ia merapat ke kubu ARB serta mendukung penuh pasangan Prabowo-Hatta.

Selama dan sesudah Pilpres, faksionalisasi yang ada di dalam Partai Golkar berubah dari clique faction menjadi personal atau client-group faction, karena kekuasaan faksi yang ada terkonsolidasinya dengan adanya figur yang mempunyai modalitas patron. Salah satu modalitas penting bagi seseorang untuk menjadi patron di dalam Partai adalah jabatan eksekutif tertinggi di dalam partai. Artinya, modalitas struktural yang dimiliki ARB menjadi hal paling penting atau bagi siapa pun yang ingin mengendalikan faksi partai beserta massa elit yang ada di dalamnya. Dalam bahasa Jeffrey Winters (2011) ini adalah bentuk Oligarki sultanistik, untuk menjelaskan Indonesia era Orde Baru, yang fenomenanya kini tersebar ke dalam kelembagaan partai. Dinamika faksi yang awalnya berkah karena dapat memperkuat imunitas partai, bisa menjadi masalah bila tak diikuti oleh kedewasaan berpolitik para elitnya. Pada tahapan berikutnya, pertarungan diametral antara ARB vs AL ini, sebenarnya adalah kelanjutan dari dinamika faksi yang gagal terkelola pada Pemilu kemarin, antara ARB dan JK.  Penting bagi keduanya, setelah putusan MK keluar, kembali duduk bersama merumuskan arah Golkar ke depan. Apalagi mengingat Visi Indonesia 2045 milik Golkar perlu dikawal implementasinya mulai saat ini, agar siapapun pemerintahan yang berkuasa dapat memastikan rakyat sejahtera, sebagaimana panen raya segera tiba saat padi mulai menguning.

(Dimuat dalam Kolom Opini Koran TEMPO, 25 Agustus 2014: http://koran.tempo.co/konten/2014/08/25/349992/Ingar-bingar-Golkar)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s