Kembali Ke Visi

3154122_logokorantempoSetelah selesai urusan koalisi dan ditetapkan oleh KPU secara resmi sebagai pasangan Capres-Cawapres, (1) Prabowo-Hatta dan (2) Jokowi-JK, persaingan merebut simpati publik semakin sengit. Melalui fase kampanye yang dimulai sejak tanggal 4 Juni-5 Juli 2014, sudah seharusnya kedua pasang Capres-Cawapres intens menyoal visi dan turunannya, namun seringkali, perdebatan non substansi mulai nomor urut, fitnah, hingga kampanye hitam beraroma SARA masih sering terjadi, baik dilakukan oleh tim sukses, relawan, hingga pasangan Capres-Cawapres sendiri. Sosialisasi masif visi menjadi penting, selain sebagai bagian pertanggungjawaban (checks and balances) kepada calon pemilih, juga mempertimbangkan perjalanan 10 tahun pemerintahan Presiden Yudhoyono yang berjalan kurang efektif. Fakta ini diikuti oleh rendahnya kepuasan kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintah sesuai hasil rilis berbagai lembaga survei sepanjang 2013-2014

Kekuatan Figur

Bila menelusuri  kekuatan figur masing-masing Capres-Cawapres, maka  dialektika hegel, yakni tesis-antitesis-sintesis, dapat digunakan sebagai pisau analisis memahami kedua pasang kandidat ini. Pertama, bila mencermati latar belakang masing-masing kandidat Capres-Cawapres, maka terdapat satu benang merah yang sama, bahwa empat figur yang maju dalam Pilpres nanti, tiga di antaranya berlatarbelakang pengusaha. Mereka adalah Hatta, Jokowi, dan JK. Minus Prabowo yang meretas karirnya di jenjang militer. Kehadiran pengusaha dalam panggung politik ini sebenarnya relevan dengan tesis Anies Baswedan (2006) terkait rulling elite Indonesia. Dalam tesisnya tersebut, Anies mengidentifikasi elit dalam kategori intelektual, angkatan bersenjata, aktivis, dan terakhir pengusaha yang kini mendominasi peta politik disebabkan tren pasar yang hegemonik. Tesis pengusaha ini, setidaknya dapat memvisualisasikan kekuatan karakter dasar yang dimiliki oleh para Capres-Cawapres ini kepada publik, mulai dari sikap kreatif, cermat menghitung resiko, tepat mengambil keputusan hingga kemampuan berjejaring dan sumber daya  yang baik.

Kedua,  baik Prabowo-Hatta maupun Jokowi-JK hadir sebagai antitesis dari sosok Presiden Yudhoyono.  Bila selama ini Presiden Yudhoyono dianggap kurang tegas dalam memimpin, maka ketegasan itu kini ditemukan dalam sosok Prabowo. Begitu pun ketika Presiden Yudhoyono berjarak dengan rakyat (high context), maka figur Jokowi hadir sebagai simbol yang merakyat . Realitas ini sebenarnya berulang dan bila melihat siklus pergantian rezim di negeri ini, maka akan kita dapati satu kesimpulan, bahwa figur antitesis selalu terjadi sebagaimana Presiden Sukarno-Presiden Soeharto, Presiden Soeharto (dan Presiden Habibie)-Presiden Abdurrahman Wahid, Presiden Abdurrahman Wahid (dan Presiden Megawati)- Presiden Yudhoyono.

Ketiga, rentang tahun kelahiran pasangan Capres-Cawapres saat ini adalah tahun 1942 (JK), 1951 (Prabowo), 1953 (Hatta), dan 1961 (Jokowi). Jika diakumulasikan dengan usia dewasa maupun usia politik seorang manusia, yakni 17 tahun, maka tercatat, dalam rentang tahun 1959-1978, kandidat seperti JK sempat merasakan masa kepemimpinan Presiden Sukarno dan berikutnya, sosok seperti Prabowo, Hatta, dan Jokowi mulai memahami periode pemerintahan negeri ini, sejak Presiden Soeharto hingga Presiden Yudhoyono. Artinya, visi “Membangun Indonesia yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur serta bermartabat   “ milik Prabowo-Hatta dan visi “Jalan Perubahan untuk Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian” milik Jokowi-JK, menjadi sintesis secara keseluruhan ide para presiden sebelumnya.

Kembali ke Visi

Di titik inilah, menelusuri realisasi visi ini menjadi penting. Karena visi ini harus tetap membumi. Menurut Max DePree (2004), tugas pertama seorang pemimpin adalah mendefenisikan realitas, membuat mimpi menjadi masuk akal dan bisa diwujudkan melalui tahapan yang rasional-kalkulatif yang terejawantah melalui visi. Artinya, realisasi visi melalui misi atau melaksanakan delapan (8) agenda dan program nyata Prabowo-Hatta serta sembilan (9) agenda prioritas Jokowi-JK harus diuji, apakah relevan dengan penganggaran atau realistis untuk diimplementasikan dalam konteks kebangsaan yang lebih holistik. Jangan sampai 9 halaman dan 41 halaman yang terlampir sebagai visi milik para Capres-Cawapres ini, hanya untaian wacana yang enak dibaca dan indah untuk dibayangkan.

Tim Sukses

Susunan tim sukses, baik dari segi kuantitas maupun kualitas perlu diperhatikan karena ini mempengaruhi realisasi visi akhirnya. Saat pra Pilpres, penentuan siapa yang terlibat dan masuk dalam tim sukses dapat menjadi pertimbangan tersendiri bagi publik. karena selain rekam jejak (track record) para Capres-Cawapres, hari ini pemilih juga perlu mengetahui siapa orang-orang di belakang para pemimpinnya. Karena merekalah lingkar utama yang menjadi sumber informasi para pemimpin dalam berfikir, bersikap, dan berbuat. Jangan sampai sejak awal para Capres-Cawapres sudah tersandera oleh masa lalu  maupun dosa politik anggota tim sukses, karena ini akan menjadi preseden buruk dalam memulai kebaikan untuk rakyat secara konsisten.

Berikutnya, ketika memasuki pasca Pilpres, maka tim sukses ini menjadi salah satu referensi bagi presiden dan wakil presiden terpilih dalam pengisian pos-pos penting dan strategis baik di kabinet maupun di luar kabinet. Walaupun hal ini menjadi hak preogatif presiden, kedekatan yang dibangun antara para Capres-Cawapres dengan tim sukses merupakan hubungan personal yang dibangun sejak lama dan telah melewati berbagai tantangan. Pada fase ini, ujian kepemimpinan publik untuk para Capres-Cawapres ini akan terlihat hasilnya. Apakah basis profesionalitas (aspirasi publik) menjadi utama atau proporsionalitas (akomodasi politik) tetap menjadi logika dasarnya? Mengutip kata Rendra (1997),..dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. Selamat berjuang me-nyata-kan kata-kata, wahai para Capres-Cawapres!

(Dimuat dalam Kolom Opin Koran TEMPO, 10 Juni 2014: http://www.tempo.co/read/kolom/2014/06/10/1402/Kembali-ke-Visi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s