Hanta Yuda dan The Real King Maker

Sekitar akhir bulan Mei 2012, jam 23.30 WIB di tengah perjalanan Saya dari Yogyakarta menuju Malang, masuk sebuah SMS. Sedikit malas awalnya membuka pesan tersebut. Karena, tubuh ini sudah terasa lelah dan esok paginya harus siap terlibat dalam sebuah forum.

SMS itu tetap saya baca dengan berat hati dan berikutnya sedikit kaget, karena yang mengirimnya adalah seorang analis politik yang sedang naik daun, Presiden Mahasiwa BEM KM UGM, dan Kakak Tingkat di Departemen Politik Pemerintahan UGM.

Pertanyaan demi pertanyaan dari SMS tersebut,  berujung pada pertemuan di Jakarta dan kesepakatan saya dengan Mas Hanta, untuk bergabung dengan lembaga riset yang baru ia didirikan bernama “POLTRACKING”.

Di Poltracking, saya diberi tugas menjadi seorang peneliti. Bentuknya, melakukan penelitian baik berupa survei/riset, media monitoring, menyiapkan bahan analisis/artikel/buku untuk lembaga.

Di luar hal tersebut, saya juga terlibat dalam kegiatan diskusi dari kampus ke kampus (baca : dialog kebangsaan}, hingga, berbicara di media maupun media sosial menyampaikan/klarifikasi hasil survei/kegiatan lembaga di publik.

Dari ragam kegiatan tersebut, ada satu hal yang paling saya senangi saat bergabung di Poltracking, yakni DISKUSINYA! Kenapa DISKUSINYA? Ya…kebiasaan ini sebuah tradisi yang sulit dihilangkan dan sering melahirkan banyak inspirasi. Bila tak diskusi seperti ada yang hilang…dan kegiatan diskusi di Poltracking cukup menyenangkan, karena diikuti wisata kuliner yang memanjakan lidah. Hehehe…

Mas Hanta terbiasa melibatkan seluruh peneliti untuk berpendapat dan memberi masukan. Tak jarang terjadi silang pendapat secara ekstrim dan harus diputuskan lewat voting. Lucu memang! Padahal, bila beliau mau, hal tersebut tak perlu dilakukan. Karena, secara profesional, beliau-lah atasan kami.

Dari diskusi-diskusi inilah, berikutnya lahir berbagai inovasi survei dengan tema tematik untuk mendobrak atau merekayasa perubahan dalam sistem politik kita yang sebelumnya stagnan. Mas Hanta sukses memberikan gambaran makro konstelasi politik dan peta riil faksi-faksi elit politik, agar kami bisa menghitung dampaknya bagi lembaga maupun publik secara keseluruhan.

Dari banyak diskusi-diskusi yang dilakukan, ada 3 (tiga) kejadian monumental yang susah untuk saya lupakan.

Pertama, Mencari Presiden 2014 -> Survei Capres Muda, Jokowi di Atas Anies Baswedan dan Sri Mulyani | Latar belakang survei ini dilakukan, menyadari publik mulai jenuh dengan tawaran calon-calon yang muncul, karena masuk kategori 4L (Lo Lagi Lo Lagi). Sehingga, perlu dilakukan pencaharian secara serius untuk menemukannya.  Poltracking menjadi Lembaga survei pertama melalui riset kandidat muda dengan melibatkan para pembuat opini publik (public opinion makers) untuk melakukan hal ini dan hasilnya, muncul nama Joko Widodo (Jokowi) yang saat itu baru terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta Periode 2012-2017 dan kemudian terpilih sebagai Presiden RI yang ke-9.

InkedSlide Poltracking 1_LI

Kedua, Mencari Wakil Presiden 2014 -> Tujuh Kharakter Kepemimpinan Jusuf Kalla Sebagai Capres yang Dibanggakan Golkar | Latar belakang survei ini dilakukan, untuk mencari pendamping Jokowi, yang sesuai dengan aspirasi dan komposisi demografi masyarakat kita. Pada waktu itu, nama Jokowi secara masid mendapat ruang yang luas di publik (media darling), diikuti raihan elektabilitas yang tinggi, sebagai sintesis dari figur Presiden SBY dan Prabowo.

Di saat yang bersamaan, Jokowi memerlukan sosok wakil presiden yang tepat dan berpengalaman, untuk mendukung kerja-kerja presiden di masa depan. Hal ini menimbang, minimnya jam terbang Jokowi di pentas nasional. Akhirnya setelah survei tuntas, muncul nama Jusuf Kalla , sebagai hasil dengan melibatkan ratusan professor dari berbagai universitas di tanah air, dalam rangka mengukur kualitas Capres-Cawapres 2014

slide poltracking2

Hasil dari survei persepsi publik dan opini professor (elit) ini berikutnya, yang ditawarkan Mas Hanta sebagai argumen kepada publik untuk melahirkan duet Jokowi-JK. Kesimpulannya, Jokowi mampu memenangkan hati rakyat, sementara, Jusuf Kalla, mampu menenangkan elit dengan segudang pengalaman panjangnya di bidang politik dan ekonomi.

Ketiga, Berharap Diusung, Sandiaga Serahkan Hasil Survei Ini ke Petinggi Parpol |Bila untuk menemukan duet Jokowi-JK menggunakan survei berbasis para pembuat opini publik, maka, untuk mencari penantang Basuki Tjahaja Purnama (Mas Basuki), digunakan survei persepsi publik. Hal ini dilakukan di tengah, elit sudah ‘menetapkan’ Mas Basuki tak punya lawan. Setelah didiskusikan dan dianalisis mendalam hasil survei ini, terdapat beberapa temuan menarik, (1) Gap antara tingkat kepuasan kinerja yang mencapai 68.72% dengan tingkat elektabilitas (20  kandidat gubernur) yang hanya 40.77% (2) ada beberapa masalah serius yang belum terselesaikan (di bawah 60%) dan bagi publik hal tersebut cukup fundamental (lihat di grafik di bawah)

slide poltracking 3.6
(3) dari banyak simulasi pasangan kandidat calon gubernur-wakil gubernur, yang paling berpotensi mengalahkan duet Mas Basuki-Djarot Saiful Hidayat (Mas Djarot) adalah Mas Anies-Mas Sandi. Hal ini tak lain disebabkan, karena Ridwan Kamil dan Tri Rismaharini menyatakan tak tertarik terlibat dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 dan saat itu, Mas Anies secara mengejutkan di reshuffle oleh Presiden Jokowi, sementara Mas Sandi sudah mulai blusukan secara masif ke masyarakat (Lihat salah satu hasil simulasinya di bawah). Hasil survei lengkap baca DI SINI

Slide Poltracking 3

Perlu diingat juga oleh publik, survei ini dilakukan jauh sebelum kasus Mas Basuki di Kepulauan Seribu disidangkan. Temuan dalam survei ini kami diskusikan berlarut-larut, dan mungkin fase diskusi terlama sejak Poltracking berdiri, di sela-sela aktivitas yang begitu padat jelang Pilkada Serentak gelombang kedua. Alhamdulillah, setelah survei ini dilakukan dan temuannya disampaikan, apresiasi dan respon positif publik luar biasa.

Di titik itulah, saya menyimpulkan, bahwa Mas Hanta sebagai salah satu “The Real King Maker” politik kita. Maksudnya, Mas Hanta mampu menjadikan survei atau data sebagai alat ukur yang tepat untuk membaca cuaca/dinamika politik dengan segala kemungkinannya (insting politik), sehingga, dapat dijadikan referensi oleh siapapun. Pun ketika ia hanya menyampaikan analisa dan pernyataan di publik, sesungguhnya itu merupakan data yang sangat berharga. Karena, intisari data itu berasal dari survei, data-data kualitatif elit, dan diskusi dengan para penelitinya.

Dampak dari itu semua, sering saya dengar, elit langsung menyapa hingga menegurnya dengan keras. Tak jarang, saya sering menemukan, air mukanya berubah menahan diri atau setelah itu tertawa bersama menceritakan kegalauan si elit tersebut kepada para penelitinya. Padahal, bila dianalogikan sederhana, Dokter Hanta sedang memberikan obat, agar pasiennya segera sembuh dan sehat kembali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s