Rumah Ramah Anak

Bonus demografi sebagai insentif pembangunan nasional saat ini, bisa menjadi malapetaka bila tak dikelola dengan baik. Hal ini dapat terlihat, dari semakin tingginya masalah narkoba, terorisme, seks bebas, dan perilaku menyimpang lainnya yang menjerat remaja atau pemuda kita saat ini.

Ketika masalah sudah mulai menyebabkan gangguan di masyarakat, seringkali anak hanya ditempatkan sebagai pelaku ketimbang korban. Padahal dampak negatif kelakuan mereka ini, seperti fenomena puncak gunung es. Artinya, masalah atau keresahan yang dialami dan berikutnya disalurkan si anak lewat beragam ekspresi tersebut, sebenarnya akumulasi keresahan yang berlangsung di rumah.

Kondisi ini muncul, karena Orang tua absen atas perannya sebagai pendidik. Padahal tugas mendidik ini merupakan substansi berkeluarga dan pilar penting, yang bagi Ki Hajar Dewantara menjadikan keluarga sebagai salah satu Trisentra kelembagaan pendidikan di samping sekolah dan masyarakat. Karena banyak orang tua yang belum paham dengan tugasnya sebagai pendidik, maka, intervensi negara, swasta, maupun para pihak lainnya menjadi diperlukan. Apalagi realitas ini seiring dengan momentum revolusi mental yang didengungkan Presiden sejak terpilih. Di titik inilah keluarga sudah sepatutnya dijadikan obyek khusus kebijakan oleh pemerintah, dalam rangka untuk menggerakkan para anggotanya agar lebih sadar dengan tanggung jawabnya.

Peran Ayah

Pada saat negara sedang berproses memainkan peranan vitalnya atas keluarga, secara bersamaan, publik bisa langsung terlibat dengan memulai mengembalikan peran ayah secara utuh. Selama ini, ayah hanya ditempatkan sebagai figur sentral mencari nafkah. Fungsi lain seperti mendidik belum banyak dilakukan, disebabkan salah satunya terkait kontruksi sosial yang menempatkan ibu sebagai sosok dominan sebagai pendidik.

Posisi ayah tak bisa dianggap remeh sebagai pendidik. Menurut Prof. Ronald P. Rohner, Ph.D. dalam artikel The Importance of a Father’s Involvement (2002), peran ayah membentuk pribadi dan emosi anak tidak kalah penting dengan ibu. Pada artikel lainnya, yakni The Importance of Father Love: History and Contemporary Evidence (1998), ditemukan korelasi antara absennya sosok ayah di keluarga dengan anak  yang cenderung bermasalah pendidikannya, nakal, hingga terbiasa menggunakan obat-obatan terlarang. Hal ini tidak terlepas dari fakta bahwa sosok ayah dianggap sebagai pemimpin dalam keluarga.

Bagi institusi apapun, kehadiran seorang pemimpin di tengah orang-orang yang dipimpinnya akan memberi panduan yang jelas atas berbagai hal termasuk dalam  proses tumbuh kembang anak agar lebih stabil. Sosok ayah inilah yang pada tahap berikutnya dapat berperan sebagai pengendali perilaku anak, sehingga, banyak sekali manfaatnya bagi anak, mulai dari kecenderungan untuk berprestasi di dunia pendidikan, tingkat IQ yang lebih tinggi hingga kepribadian yang terbentuk menjadi sosok yang penuh kasih.

Rumah Menjadi Tempat Belajar Pertama dan Utama

Selain sosok ayah dan ibu, maka rumah merupakan komponen penting lainnya dalam membentuk suatu keluarga. Rumah tidak hanya dipandang sebagai sebuah bangunan, tetapi lebih dari itu : nilai, suasana, dan rasa yang ada di baliknya. Tak sedikit anak yang merasa sebagai orang asing di rumahnya sendiri sehingga harus mencari “rumah” lainnya yang dapat memberikan keamanan dan kenyamanan. Pengalaman mengikuti istri sebagai relawan dalam suatu rumah singgah anak jalanan di Kota Bandung, menguatkan hal ini. Tidak sedikit, anak yang hidup di jalanan berasal dari keluarga berada, namun ia memilihnya sebagai rumah. Maka, tugas sebagai orang tua tidak berhenti sampai menyediakan rumah sebatas tempat bernaung bagi anak, namun juga membuat tempat tinggal yang nyaman untuk mengembangkan potensinya hingga pada akhirnya ia bisa bermanfaat.

Untuk menciptakan rumah yang ramah terhadap perkembangan dan pendidikan anak, setidaknya ada empat cara yang dapat diusahakan oleh para orang tua dan pengasuh di rumah: Pertama, agenda rutin yang sifatnya harian, mingguan, dan bulanan dilakukan bersama-sama, seperti makan malam, beribadah bersama, olahraga, dan silaturahim kerabat. Kegiatan kumpul tatap muka dengan seluruh anggota keluarga ini penting untuk menimbulkan rasa keamanan dan kenyamanan bagi anak.

Kedua, pembiasan hobi positif dalam keluarga, seperti, membaca buku, menonton film, memasak, memainkan sebuah permainan, jalan-jalan bersama ke museum, taman, perpustakaan, dan tempat-tempat bermanfaat lainnya perlu dilakukan untuk menghilangkan kejenuhan dalam keluarga. Di beberapa tempat di Jakarta, sarana taman bermain untuk anak semakin banyak dengan kehadiran 186 Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA). Pada salah satu RPTRA di kawasan Tebet yang dibangun Tanoto Foundation, sebuah lembaga filantropis milik Sukanto Tanoto, malah dilengkapi dengan fasilitas penunjang lengkap seperti, ruang serbaguna, perpustakaan, lapangan futsal, kolam nutrisi, dan amphiteater.

Ketiga, diskusi keluarga. Pada waktu ini, keluarga perlu berdiskusi untuk mendengar aspirasi atau kebutuhan para anggota keluarga. Sehingga, semua anggota bisa saling membantu dan memahami keadaan masing-masing. Kebiasaan diskusi ini bisa dimulai sejak anak balita untuk menambah kosakatanya.

Keempat, mekanisme hadiah dan hukuman untuk mengapresiasi setiap capaian dan pelanggaran dalam keluarga, perlu diberlakukan agar seluruh anggota keluarga saling menghargai. Dengan kembali menghadirkan rumah yang nyaman bagi anak dengan kehadiran sosok lengkap ayah sebagai pemimpin dan ibu sebagai pendamping di dalamnya, maka anak akan tumbuh dengan bahagia dan berkarakter sesuai dengan nilai yang dianut oleh keluarga tersebut.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s