Menjadi TELADAN

Leadership and learning are indispensable to each other

 – John F Kennedy –

Anak pertama dari dua bersaudara dan ditinggal Papa yang wafat sejak kelas 6 SD, menuntut Saya secara pribadi untuk selalu menjadi teladan bagi adik maupun keluarga besar Papa dan Mama. Mama adalah sosok di balik kesadaran agar selalu menjadi teladan bukan hanya bagi keluarga. Namun, semua bingkai itu perlahan pudar ketika Mama harus merantau demi memenuhi kebutuhan keluarga dan Saya bersama Adik tinggal dengan Keluarga Nenek.

Kebebasan dan kedisplinan seperti trade off atau sesuatu yang sulit Saya dapatkan. Karena masa SMA adalah kesempatan menikmati masa muda dan kebebasan menjadi perangkat utama ketimbang kedisplinan. Efeknya, saat Saya mengikuti tes berbagai perguruan tinggi negeri di tahun pertama setelah kelulusan SMA belum ada yang menerima alias gagal sementara. Padahal saat itu, sudah ikut beragam les dan bimbingan belajar agar lulus. Sampai akhirnya di tahun kedua Saya mencoba lagi dan keterima di pilihan pertama Jurusan Politik dan Pemerintahan UGM.

Saat diterima di UGM, Saya seperti hidup kembali. Karena setidaknya mampu membanggakan Mama dan kembali ke jalur yang tepat untuk menjawab semua keraguan banyak pihak. Setelah masuk perguruan tinggi yang bagus, Saya punya impian berikutnya, yakni mengisi kegiatan kuliah dengan aktivitas positif dan bermanfaat di organisasi untuk mengejar ketertinggalan dari teman-teman sebaya yang sejak tahun lalu sudah berkuliah.

Saya kira, inilah waktunya menjadi lebih baik dan terus lebih baik dengan terus belajar mengamini ucapan Kennedy di atas. Walaupun butuh perjuangan untuk mengelola waktu ketika melaksanakannya. Karena kuliah di kelas membutuhkan energi besar agar materi yang disampaikan dosen semakin mudah dipahami. Sementara saat menjalankan aktivitas di luar kelas, tenaga yang dimiliki bisa jadi merupakan sisa-sisa dari aktivitas perkuliahan sebelumnya.

Mungkin di masa-masa awal kampus, efek berlangsungnya kedua aktivitas tersebut belum terasa. Namun setelah 2 semester bergulir dampaknya mulai nyata. Apalagi seiring meningkatnya tantangan materi SKS yang diterima dan tuntutan tanggungjawab peran di organisasi yang digeluti. Tak jarang teman-teman atau sebagian mahasiswa terjebak dalam satu kondisi, yakni optimal di kelas atau fokus di organisasi saja. Padahal keduanya sama-sama penting, karena menunjang kehidupan setelah lulus kuliah sebagaimana uraian Daniel Goleman dalam What Makes a Leader (1996) yang dimuat kembali dalam On Leadership oleh Harvard Business Review pada tahun 2010. Dalam pemaparannya, ia menyampaikan Emotional Intelligence atau kecerdasan emosi menjadi bagian penting (bukan IQ atau technical Skills)  dalam mengoptimalkan potensi seorang pemimpin dan para pengikutnya.

Di titik inilah aktif di luar kelas atau berorganisasi menjadi relevan. Namun untuk menyeimbangkan aktivitas di kelas dan di organisasi perlu keterampilan diri dalam mengelola waktu, kemudian kemampuan dalam memberi skala prioritas terhadap tugas yang diterima di kelas dan di luar kelas, dan soal mendelegasikan tugas atau berbagi peran kepada pihak lain. Bila belum memiliki jam terbang yang memadai dalam hal ini,  maka bantuan senior atau pihak lain yang lebih berpengalaman menjadi penting, sebagai pilihan rasional agar semua peran yang dijalankan dapat terlaksana dengan baik.

Saya merasa beruntung, karena di saat yang bersamaan selain bantuan dari para senior diperoleh, juga lulus seleksi dalam Program Tranformasi Edukasi Untuk Mencetak Pemimpin Masa Depan (TELADAN) Tanoto Foundation.  Program ini bentuk inisiatif secara komprehensif di bidang pendidikan tinggi dari Tanoto Foundation untuk membantu para mahasiswa Indonesia dalam mengelola diri dan potensi yang mereka miliki secara sistematis lewat insentif pelatihan kepemimpinan berjenjang, pemberian soft skills, pengembangan dan pembekalan karir pasca lulus, kesempatan mengikuti kegiatan akademik maupun nonakademik dari kampus-kampus kelas dunia, hingga beasiswa penuh uang kuliah dilengkapi biaya tunjangan hidup untuk 8 semester.

Dalam Program TELADAN juga, kita dapat menemukan beragam senior-mentor berpengalaman yang menjadi “penasehat pribadi”, agar kehidupan akademis dan nonakademis seorang mahasiwa dapat bersanding erat. Para senior-mentor ini dapat ditemui setiap semester dalam sebuah pertemuan rutin dalam rangka evaluasi dan berikutnya setiap tahun para penerima manfaat Program TELADAN tadi akan dikumpulkan dalam sebuah acara skala nasional bersama penerima manfaat TELADAN lainnya dari 9 universitas untuk menerima pelatihan kepemimpinan dan beragam soft skills dari para pakar maupun tokoh-tokoh bangsa.

Sampai hari ini Saya merasakan manfaat besar Program TELADAN. Program ini mampu menjadi jawaban atas ketidakpastian dan ketidakstabilan yang sering mengemuka di Era Disrupsi. Karena saat ini motivasi saja tidak cukup, semua orang harus beradaptasi sebelum menghadapi perubahan dan berhadapan dengan lawan-lawan tak terlihat dalam Peradaban Uber (Kasali, 2017). Bekerja, aktif dalam beberapa kegiatan kepemudaan-kemasyarakatan, dan memiliki keluarga kecil, mengharuskan Saya selalu mengupdate dan mengupgrade diri layaknya aplikasi. Agar tetap kontekstual dengan zaman dan pada bagian lain kesemua peran ini membutuhkan keseimbangan agar dapat berjalan optimal.

Saya hanya berharap semakin banyak anak-anak bangsa yang lulus seleksi Program TELADAN Tanoto Foundation, sehingga kelak bangsa ini di isi oleh para pemimpin berkualitas karena mereka terbiasa untuk bertanggungjawa dalam segala ruang lingkup peran yang dijalani.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s